Rumah Masa Kecil Sang Pengarang Besar

Kampung Sekayu Semarang

Rumah itu tidak bertanda apa-apa, kecuali nomor tiga angka. Rumah itu menyimpan kenangan bertumbuhnya seorang pengarang besar.

KAMI membuat janji untuk berjalan kaki berkelompok, menyusuri gang-gang kampung di Kota Semarang. Kampung Sekayu adalah tujuan pertama pagi itu. Beberapa di antara kami ada yang ingat, di Jalan Sekayu ada rumah masa kecil sastrawati bernama Nh.Dini. Saya sendiri mengenal nama itu dari guru Bahasa Indonesia di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Waktu itu, Pak Guru meminta kami sekelas membuat sinopsis novel “Pada Sebuah Kapal” karya Nh.Dini.

Nh.Dini merupakan nama pena dari nama asli gadis Sekayu, Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin. Keterangan halaman belakang tentang pengarang pada beberapa novelnya, menyebutkan soal itu. Sepanjang ingatan, sastrawati yang disebut-sebut guru Bahasa Indonesia itu termasuk angkatan 50. Dasarnya adalah penggolongan literatur Indonesia berdasarkan periode kepengarangan.

 

Mentang-mentang foto di rumah kuno, ekspresinya pada serius semua kaya foto kuno 😂 Keriaan kita kemarin bersukaria di salah satu Kawasan perkampungan paling tua di Kota Semarang. Beruntung biasanya kita hanya berjalan melewati rumah masa kecil penulis terkenal NH Dhini. kemarin secara kebetulan kita bertemu dengan pak Jodi yang masih kerabat dengan ibu NH Dhini dan beliau mempersilakan kita masuk untuk melihat halaman dan teras rumah di masa kecil NH Dhini ini. Momen langka ini kemudian kita abadikan bersama. Pengen mengabadikan momen-momen langka sambil menjelajahi sudut kota Semarang bersama kami? Tunggu apa lagi, Yuk gabung di acara Walking Tour kita yang rutin kita adakan seminggu sekali. Ke mana ya Jalan-jalan kita minggu ini? Mau tau? Kepoin terus instagram kita, ya 😃 #bersukariawalk #bersukariadikampungkota

A post shared by Semarang Walking Tour (@bersukariawalk) on

 

Perjalanan dimulai dari depan Mal Paragon, bekas Gedung Rakyat Indonesia Semarang (GRIS), yang pada masa Hindia Belanda bernama Societeit De Harmonie. Kami menuju gang di samping mal.

Masih pukul delapan lewat beberapa menit saat itu. Kami berpapasan dengan para pekerja mal yang sudah berpakaian seragam dan berias wajah, namun masih memakai sandal. Mereka mampir ke gerobak kayu milik penjaja, untuk membeli nasi bungkus kecil dan teh hangat. Gerobak seperti itu di Semarang disebut “kucingan”.

Tak sampai seratus meter dari ujung gang, ada persimpangan jalan. Gang sebelah kiri adalah Jalan Sekayu. Sepeda motor tampak keluar masuk gang itu, tapi tidak dengan mobil. Ada tiang listrik menjulang di tengah-tengah ruas gang, itulah sebabnya.

 

Ya, anak bungsu Dini itu memang orang yang sama dengan sutradara film animasi Despicable Me 1 dan 2, juga Minions.

Cerita Kebun dan Halaman Rumah

Beberapa puluh langkah dari tiang listrik itu, kami mendapati rumah yang sejak awal perjalanan ingin saya lihat. Saya tidak pernah melihat rumah di Jalan Sekayu nomor 348 itu sebelumnya. Ada di sisi kiri ruas gang, tampak paling besar di antara rumah sekelilingnya.

Pagar besi pendek, bercat putih dan mulai dihinggapi karat, menjadi batas halaman dengan gang. Teras rumah dihiasi pagar dan atap kayu yang tampak tua. Halamannya luas dipenuhi tanaman. Jendela besar-besar ada di bagian samping.

Pemandangan itu seperti perwujudan imajinasi atas pembacaan serial cerita kenangan Nh.Dini. Beberapa bukunya, terutama seri cerita kenangan yang merupakan autobiografi berelemen novel, diselipi sekelumit kisah tentang rumah di Sekayu dalam beberapa paragraf.

Saya mengira-ira dimana tempuyung hasil kebun yang dipakai sang ibu untuk mengobati ginjal Dini ketika berlibur ke Semarang tahun 1975, itu ditanam. Dimana pula letak kelor, katuk dan lidah buaya pada halaman. Tanaman halaman itu kerap dipakai untuk sajian sayur bening dan minuman segar bagi Dini dan empat kakaknya.

Dalam serial cerita kenangan, Dini menyebut kalau tanaman di halaman rumahnya selalu diremajakan. Karena itu, tentu saja tanaman di sana sekarang tidak lagi sama dengan saat Dini masih tinggal atau sesekali pulang dari kembaranya.

Pertengahan dekade 50-an, Dini sudah tak tinggal untuk waktu lama di rumah itu. Ia merantau ke Jakarta, bekerja sebagai pramugari darat di Garuda Indonesia Airways. Tahun-tahun itu ia mengenal seorang diplomat Prancis bernama Yves Coffin. Keduanya menikah tahun 1960 di Kobe, Jepang. Sejak itu Dini mengikuti suaminya bertugas ke berbagai negara. Setelah Jepang kemudian Kamboja, Filipina, Amerika Serikat, Belanda dan Prancis.

Dini dan Yves Coffin memiliki dua anak. Pembaca Dini pastilah tahu nama anak-anaknya, Lintang dan Padang, yang kerap dituliskan dalam buku. Di buku bagian belakang seringkali ditambahkan keterangan nama lengkap dua anak tersebut, Marie Claire Lintang Coffin dan Pierre Louis Padang Coffin.

Coba googling nama yang terakhir itu. Mesin pencari akan langsung mengenali dan memunculkan wajah pria yang mirip dengan Dini, memanggul dan membopong pasukan Minions. Ya, anak bungsu Dini itu memang orang yang sama dengan sutradara film animasi Despicable Me 1 dan 2, juga Minions.

 

Jelajah. #Metrosemarang #MetsemJelajah #BeritaSemarang

A post shared by metrosemarang.com (@metrosemarang) on

 

Tidak Bertanda

Sungguh sayang, ketika berada di muka rumah itu, tak ada seorangpun yang dapat saya ajak mengobrol. Keadaan rumah masa kecil Dini tampak sepi dari luar pagar. Tidak ada petunjuk yang menandai bahwa rumah itu adalah tempat lahir dan tempat bertumbuhnya seorang Nh.Dini.

Berbeda dengan apa yang Dini temui sendiri ketika ia memutuskan untuk memisahkan diri dari suami dan anak-anaknya, pada paruh kedua dekade 70-an. Waktu itu ia bekerja sebagai dame de compagnie istilah untuk perempuan yang mendampingi orang lanjut usia. Merawat dan menemani mengobrol adalah tugasnya.

Di Argenteuil, sebuah kota kecil di barat laut Paris, Dini bekerja mendampingi Tuan Willm. Momongan Dini meninggali rumah bekas kediaman Karl Marx. Meski tak lama, namun pemerintah kota setempat menempelkan selembar tembaga yang bertuliskan informasi bahwa Karl Marx pernah tinggal di rumah itu pada 1848. (Argenteuil: Hidup Memisahkan Diri, hal 69-70).

Saya sedikit kecewa karena tidak mendapatkan cerita apapun yang langsung dari rumah itu. Tapi apa boleh buat, kami harus terus berjalan. Kami membeloki gang-gang sempit di Kampung Sekayu yang masih menyimpan warisan rumah-rumah bergaya Semarangan, berbahan kayu.

 

Rumah Kenangan

Di salah satu gang, saya bertemu dengan Samiyem yang sedang sarapan di depan rumah kayu Semarangan yang sudah reyot. Ia ditemani seekor kucing. Bu Sam, begitu ia meminta dipanggil, ternyata mengenal keluarga Dini. Ia berumur 57 tahun, seumuran dengan Lintang sekarang.

“Dulu saya sering diminta cuci piring di rumah itu, kalau sedang ada acara. Saya tahu Dini, orangnya gagah. Dia punya banyak buku yang boleh dibaca dan dipinjam anak-anak di sini (Sekayu – red). Adik saya dulu selalu ke rumah itu untuk pinjam buku, setiap pulang sekolah,” kenang Bu Sam.

Soal buku-buku yang boleh dibaca dan dipinjam itu, cocok dengan informasi yang menyebut bahwa Dini membuka Pondok Baca pada tahun 1986. Pondok Baca didirikan setelah beberapa tahun Dini kembali ke Indonesia, usai 20-an tahun ia melalang buana.

“Rumah itu sekarang ditempati Bu Oet. Ponakannya Dini,” kata Bu Sam.

Keterangan Bu Sam itu pun cocok dengan hasil penelusuran Silvia Galikano, seorang pembaca buku-buku Dini. Demi mendapati jejak pengarang kesukaannya, dua kali Silvia mendatangi rumah masa kecil Dini pada tahun berbeda. Kali pertama, ia tak dapat menemui siapapun. Kali kedua, ia bertemu dengan Oeti Siti Adiyati. Ia adalah putri Heratih, kakak sulung Dini. Dialah yang disapa dengan sebutan Bu Oet oleh Bu Sam.

rumah Nh Dini
Rumah masa kecil Nh.Dini di Jalan Sekayu 348. Rumah ini kini dimiliki oleh keluarga keponakan Nh.Dini. (foto: metrosemarang.com/Efendi)

Rupanya, rumah itu telah dibeli keluarga Oeti pada tahun 2010. Dulu rumah itu didapatkan oleh keluarga Dini semasa Hindia Belanda. Ayahnya, Salyowijoyo adalah pegawai kereta api yang membeli rumah itu, bersama ibunya, Kusaminah. Dini sendiri lahir di tahun kabisat, tanggal 29 Februari 1936, sebagai anak terakhir pasangan tersebut.

Pada masa agresi militer Belanda kedua, tahun 1948, Dini yang masih berusia sembilan tahun harus berhenti sekolah dan mendekam di rumah itu. Silvia mencatatnya berdasar dokumen Nh.Dini yang ditulis menggunakan mesin ketik dan tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Jakarta.

Lantaran tetap ingin melihat kemajuan putri bungsunya yang terpaksa tidak bisa sekolah, ayah Dini meminjamkan buku-buku sastra karya Rabindranath Tagore, Suman Hs, Marah Rusli, hingga Amir Hamzah. Dini menyuntuki buku-buku pinjaman di rumah itu, di samping majalah berbahasa Jawa, Penjebar Semangat dan majalah Siasat, milik ayahnya.

Sejak itu ia mulai menulis dan terus menulis. Cerpen pertama Dini berjudul “Pendurhaka” lahir di rumah itu. Disunting oleh HB Jassin dan dimuat di majalah sastra pertama di Indonesia, bertajuk Kisah. Di rumah itu pula muncul gagasan Dini untuk membentuk kelompok penggemar seni bersama sang kakak, Teguh Asmar dan kawan-kawan sekolahnya.

Sering kali, Dini dan Teguh menonton pertunjukan wayang dan pertunjukan seni lain yang tempatnya tak jauh dari rumah, yakni di GRIS (kini mal Paragon di Jalan Pemuda Semarang). Dini bahkan mendapatkan pakaian tari Kelono Gandrung dari penggiat perkumpulan seni wayang orang Ngesti Pandawa. Pakaian yang dibawa Dini ke Kobe hingga dipakai pada makan malam di kapal yang ia tumpangi selama dua pekan dalam perjalanan dari Marseille ke Saigon bersama Lintang (Seri cerita kenangan “Dari Parangakik ke Kampuchea”, hal 182-183).

Tidak ada lagi Nh.Dini di rumah itu. Saat ini Dini tinggal di panti lanjut usia di kawasan Banyumanik, Kota Semarang. Ia hidup dengan royalti lebih dari 20 buku yang ditulisnya, berupa novel, kumpulan cerpen, serial cerita kenangan, hingga terjemahan. Tentu saja juga ditopang finansial oleh anak-anaknya. Meski begitu, rumah itu tetap menyimpan kenangan tumbuhnya seorang gadis Sekayu, melewati masa perang, bermain dan berkesenian, tekun membaca, hingga memutuskan untuk menjalani hidup sebagai pengarang. (*)

 

Konten ini dibuat atas kerja sama Metro Semarang dengan Bersukaria Walking Tour
Reporter : Eka Handriana
Editor: Eka Handriana

 

You might also like

Comments are closed.