Rumah Susun Pekunden, Kenangan dan Ancaman Hilang Tempat Tinggal

Siasat Para Penghuni di Tengah Kepemilikan Tak Pasti

Aspek tenure security di Kompleks Rumah Susun Pekunden sangat rendah. Ditemukan sejumlah warga bukan terdampak pembangunan rumah susun

SEORANG lelaki paruh baya mendatangi Sundari untuk menanyakan rumah seorang penjahit bernama Rohadi. Sundari yang sedang menggendong cucunya sambil menjaga kamar mandi umum, menunjukkan rumah Rohadi di lantai IV Kompleks Rumah Susun Pekunden. Sedang ada pengecatan ulang dan pembenahan beberapa kerusakan saat itu.

“Lewat tangga sini, Pak. Naik satu, dua, tiga sampai lantai empat, lalu lewat jembatan yang di sana. Rumahnya di blok yang itu,” Sundari menerangkan letak rumah Rohadi. Tangannya menunjuk-nunjuk arah yang harus dilewati si penanya. Kompleks itu terdiri dari lima gedung berlantai empat. Gedung-gedung itu dihubungkan dengan jembatan pada setiap lantai.

Sundari hafal betul penghuni kompleks rumah susun itu, meski silih berganti. “Rumah di lantai III yang tidak ada jemurannya itu, dihuni suami istri, berdua saja. Mereka pendatang, setiap hari kerja. Makanya rumah lain terasnya kumuh penuh jemuran, tapi rumah itu paling rapi,” ujar Sundari menunjuk rumah yang lain lagi. Ia mengenali tetangga-tetangganya di kompleks itu, meskipun berlainan gedung dengan tempat ia tinggal.

rusun pekunden
Penghuni Rumah Susun Pekunden menggunakan teras sebagai tempat menjemur pakaian hingga tempat tidur. (foto: metrosemarang/Efendi)

Sundari merupakan salah seorang dari gelombang pertama yang menempati Kompleks Rumah Susun Pekunden. Gelombang itu berisi orang-orang yang terdampak langsung atas pembangunan rumah susun tersebut.

“Saya orang asli sini. Saya lahir di sini. Rumah saya dulu di situ, sekarang jadi Jalan Pekunden,” kisah Sundari yang kini berumur 63 tahun. Jalan Pekunden terletak di depan kompleks rumah susun.

Di sanalah rumah Sundari dahulu. Buyut Sundari yang membangunnya. Nenek buyut Sundari berasal dari Semarang diperistri seorang haji dari Demak. Mereka memutuskan tinggal di Pekunden dengan membangun rumah berdinding kayu jati. Waktu kecil, Sundari kerap mendapat cerita jika buyutnya lah yang pertama kali membangun rumah di kawasan itu.

“Sebelum ada rumah di sini sama sekali, buyut saya yang pertama bikin rumah,” ujarnya. Dari satu, rumah kemudian berkembang menjadi dua, seiring perkembangan keluarga buyut Sundari.

Nenek Sundari menikah dengan karyawan maskapai kereta api dan tetap tinggal bersama sang buyut. Ibu Sundari menikah dengan karyawan pabrik roti. Mereka berdua membesarkan anak-anak, Sundari salah satunya, di rumah sang buyut. Setelah dewasa, Sundari dipinang oleh seorang yang dipekerjakan oleh kontraktor bangunan.

 

Demi Pembangunan

Keluarga Sundari dengan empat anak, ibunya dan keluarga adik-adiknya adalah yang terakhir menempati dua rumah peninggalan sang buyut, sebelum akhirnya dirobohkan backhoe. Itu terjadi pada bulan September 1992, bersamaan dengan pembangunan Rumah Susun Pekunden, kompleks rumah susun pertama di Semarang.

“Waktu itu diberitahu kalau kami harus pindah, karena rumah kami mau dibikin jalan. Kami orang nggak punya dan nggak mudeng apa-apa. Kami mau menolak, sampai setidaknya mendapat ganti yang pantas, tapi kami tidak tahu caranya,” kata Sundari. Ia tidak tahu-menahu ihwal surat-surat ataupun status formal rumah peninggalan buyutnya itu.

Bukan hanya keluarga Sundari yang berniat menolak. Di lokasi dimana kompleks rumah susun itu berdiri, bermukim sekitar 50-an keluarga. Mereka menolak pula untuk dipindahkan, lantaran khawatir tak akan mendapatkan tempat tinggal mereka kembali.

 

Dulu kami punya rumah. Setelah pindah ke sini, jadi penyewa seumur hidup.

-Sundari, Penghuni Kompleks Rumah Susun Pekunden-

Sementara, Pemerintah Kota Semarang yang memiliki gerbang kantor belakang menghadap kawasan itu, menggolongkanya sebagai slum area atau pemukiman kumuh. Karenanya, pemerintah merencanakan pembangunan rumah susun di kawasan tersebut.

Alhasil, pembangunan dilakukan dengan dasar membangun tanpa menggusur. Selama proses pembangunan, keluarga-keluarga itu menumpang sementara ke tempat tetangga. Yang menumpang itu termasuk keluarga besar Sundari yang rumahnya tidak ditapaki bangunan rumah susun, melainkan diubah menjadi jalan.

Rancangannya seperti ini, lantai dasar kompleks rusun tersebut merupakan ruang yang digunakan bersama. Terdapat pasar, aula, tempat usaha, rumah pintar dan tempat parkir. Lantai dua hingga empat berisi unit hunian. Total ada 87 unit yang masing-masing memiliki meteran listrik dan meteran air sendiri.

Sumur artesis menjadi sumber air bersih bagi seluruh penghuni rumah susun. Tersedia sistem pembuangan sampah lewat dari lantai paling atas menuju ke bawah.

Satu unit rumah sewa di Kompleks Rumah Susun Pekunden memiliki luas sekitar 3×6 meter. Setiap unit hanya memiliki pintu depan. Ruang paling depan, biasa dipakai untuk ruang tamu. Tersedia ruang kosong yang sedikit lebih luas dibanding ruang depan, biasanya dipakai untuk ruang tidur. Ada kamar mandi, dan ruang kecil untuk dapur.

 

Siasat Menghuni

Setelah Kompleks Rumah Susun Pekunden selesai dibangun, keluarga Sundari mendapat empat unit yang bisa ditempati dengan membayar sewa. Setelah kepindahan itu, mereka yang dulu tinggal bersama dalam dua rumah berimpitan menapak tanah, menjadi terpisah di gedung bertingkat yang berlainan.

rusun pekunden
Pasar berada di lantai dasar, bersama dengan taman baca, aula, tempat parkir, dan unit usaha. (foto: metrosemarang/Efendi)

Ibu Sundari bersama keluarga adiknya berada di lantai IV. Dua keluarga adik Sundari yang lain berada di lantai III. Sundari sendiri beserta empat anaknya menempati unit usaha di lantai dasar. Ia pakai untuk berjualan sekaligus tempat tinggal.

“Aturannya tidak boleh ada yang tinggal di lantai dasar. Lantai dasar boleh disewa tapi harus dipakai usaha. Tapi, karena saya jadi tidak punya tempat tinggal, ya saya sewa di sini sekaligus untuk tidur. Mau tidur dimana lagi? Lhawong saya juga bayar sewa setiap bulan,” papar Sundari.

Usahanya pernah bangkrut, dan ia kehabisan modal. Kini Sundari hanya berjualan makanan kecil yang jumlahnya tak banyak. Maka membersihkan kamar mandi umum dan menarik ongkos pemakainya, menjadi tambatan untuk ia melanjutkan hidup.

Untuk menyewa tempat yang dipakainya tinggal, Sundari mengeluarkan uang Rp 30 ribu setiap bulan. Berbeda dengan keluarga adik-adik Sundari yang menyewa unit hunian. Setiap bulan, unit hunian bisa disewa dengan Rp 60 ribu. Itu adalah harga sewa saat ini. Sebelumnya tidak setinggi itu, dan setelahnya akan ada kenaikan harga.

Selain uang sewa, Sundari juga harus mengeluarkan Rp 100 ribu untuk dibayarkan ke paguyuban. Katanya itu untuk membayar air dan ongkos kebersihan. Sedangkan untuk kebutuhan listrik, sedikitnya Sundari mengeluarkan Rp 140 ribu.

Usia Rumah Susun Pekunden sudah 26 tahun. Selama kurun waktu itu, penghuninya berkembang. Empat anak Sundari yang ketika pertama kali pindah ke sana masih berumur sembilan hingga belasan tahun, kini sudah berumah tangga dan memiliki anak. Begitu pula dengan anak-anak tetangga Sundari.

Mereka yang sudah beranak pinak itu, ada yang mampu memisahkan diri dan beroleh tempat tinggal baru. Namun tak sedikit pula yang tetap tinggal di sana, berdesakan dengan keluarga induk dalam unit hunian yang sempit. Hingga saat ini tercatat 125 keluarga dengan satu hingga empat anak yang menghuni Rumah Susun Pekunden.

Otak diputar dan pada akhirnya mereka bersiasat. Menyekat ruang tidur menjadi dua dan memakai tempat tidur susun. Tak sedikit menempatkan kasur di teras untuk tidur, siang maupun malam. Yang berada di lantai IV (paling atas) sedikit lebih “beruntung”. Mereka menjebol langit-langit unit hunian untuk mendapatkan ruang di atasnya.

Ruang itu lantas diatur dan ditata supaya bisa dipakai untuk tidur. “Kalau masuk ke atas (ruang di atas langit-langit) ya harus mbrobos (merangkak, merendahkan kepala),” kata Sundari. Ruang tidur di atas langit-langit itu sempat menghilang pada saat kompleks rumah susun direnovasi dan kerangka atap diganti.

Ada satu siasat lagi yang sebetulnya terlarang. Yakni alih huni di bawah tangan. Sebuah artikel (PDF) dalam jurnal IMAJI terbitan Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro tahun 2012, berjudul Peremajaan Rumah Susun Pekunden Semarang menyebut praktik alih huni di bawah tangan itu merupakan hal umum di sana.

Beberapa keluarga yang telah berkembang dan tak mungkin lagi tinggal dalam satu unit di sana, menjual surat perjanjian sewa kepada peminat sewa yang baru. Besaran nilai jual yang berhasil kami telusuri berkisar antara Rp 35 juta – Rp 50 juta. Salah satu adik Sundari pernah membeli surat seperti itu, untuk keluarga si anak.

 

Ancaman Kehilangan

Studi lain (PDF) berjudul Evaluasi Rumah Susun Pekunden Berdasar Kaidah Huni dan Berkelanjutan yang dipublikasikan jurnal RUANG, terbitan Universitas Diponegoro tahun 2015, menyebut aspek tenure security di Kompleks Rumah Susun Pekunden sangat rendah.

Tenure security adalah jaminan keamanan atas kepemilikan lahan atau properti. Hal tersebut merupakan isu sentral dalam pembahasan ekonomi pembangunan. Tenure security yang rendah dapat diartikan sebagai ancaman kehilangan tempat tinggal yang tinggi.

Sumber: Jurnal Land Economics (Vol 82, No 2) Universitas Wisconsin

 

Rendahnya aspek ini tenure security tersebut terjadi pada keseluruhan poin. Yakni status kepemilikan, keberadaan bantuan status dan skema pembiayaan, dan pergantian kepemilikan. Hal itu diakibatkan oleh tidak adanya kejelasan hak kepemilikan. Dibuktikan dengan tidak adanya sertifikat sebagai bukti sah kepemilikan pada seluruh pemilik unit Rumah Susun Pekunden.

Ketika studi dilakukan pada tahun 2015, ditemukan sejumlah warga bukan terdampak pembangunan rumah susun, namun menempati unit hunian yang diperuntukan bagi warga terdampak. Kondisi itu belum berubah hingga saat ini.

Artikel dalam jurnal RUANG itu menyebut pergantian kepemilikan atau alih huni mencapai angka 3,61 dari skala 5,00. Studi ini mengategorikan pergantian kepemilikan sebagai alih huni oleh penghuni yang bukan hak waris, atau oleh penghuni asli namun dijual kepada pihak lain. Jika dihitung lebih lanjut, alih huni di Rumah Susun Pekunden mencapai 72%.

Padahal, Rumah Susun Pekunden dibangun sebagai kompensasi atas pembangunan di atas lahan yang ditempati warga. “Rumah susun yang dibangun sebagai kompensasi, tidak selayaknya berpindah tangan,” demikian simpulan Kariza Dewi Wiryanti dan Iwan Rudiarto sebagai periset atas studi tersebut.

Bantuan akan perolehan status juga tidak diterima oleh warga yang terdampak pembangunan rusun, seperti keluarga Sundari. Stusi pada jurnal RUANG itu mendapati perjanjian skema pembiayaan yang disepakati antara pemerintah sebagai pembangun dan masyarakat sebagai pihak penerima. Akan tetapi skema pembiayaan tersebut tidak berjalan dengan semestinya. Bahkan sebagian besar warga tidak melakukan skema pembiayaan apapun.

Dengan kondisi tersebut, maka bisa saja Sundari kehilangan tempat yang selama seperempat abad ini dihuninya. Meskipun ia warga terdampak pembangunan rumah susun itu, tapi jaminan kepemilikannya baginya nyaris tidak ada. Beruntung tiga anak Sundari sudah menemukan tempat tinggal lain. Meskipun dua di antaranya juga menempati kompleks rumah susun sewa lain di Semarang.

Atas dua rumah peninggalan sang buyut yang sekarang sudah menjadi jalan, keluarga Sundari mendapat ganti rugi sebesar Rp 6 juta. Jumlah yang jauh dari kata cukup untuk mendapat tempat tinggal baru seluas yang lama, pada tahun 1992 itu.

“Dulu kami punya rumah. Setelah pindah ke sini, jadi penyewa seumur hidup,” kata Sundari. Ia mengenang radio transistor yang dulu jadi kawan setia ibunya setiap malam. Radio yang tak sempat dibungkus kain ketika backhoe datang mengangut rumah kayu peninggalan sang buyut. (*)

 

Penulis: Eka Handriana
Editor: Eka Handriana

Comments are closed.