Rupiah Melemah, Ada yang Tetap Tegak, Ada Pula yang Goyah

Perajin Tahu Tempe Keluhkan Harga Bahan Baku

Tak semuanya memburuk. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ini justru membawa dampak positif pada

MELEMAHNYA  nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang pekan lalu menembus angka Rp 15 ribu mempengaruhi usaha para perajin tempe dan tahu. Kenaikan harga kedelai impor sejak tiga bulan seiring kenaikan nilai dolar terhadap rupiah, ternyata belum berhenti.

Sebelum nilai dolar merangkak naik, harga standar kedelai impor berada di bawah angka Rp 7.000 per kilogram. Pada saat kenaikan nilai dolar terjadi, harga kedelai terus naik. Hingga saat ini total kenaikan sudah mencapai Rp 1.000 per kilogram.

Para perajin tempe harus putar otak agar tidak merugi. Mereka memperkecil ukuran tempe yang dibuat. Di Semarang, kedelai impor mengalami kenaikan dari Rp 6.400 per kilogram saat lebaran lalu, menjadi Rp 7.500 sampai akhir pekan ini.

Perajin tahu di Semarang kebingungan. Sebab jika mengurangi kedelai maka hasil produksi kurang bagus. Namun menaikkan harga tahu juga bukan tanpa risiko. Para perajin tahu khawatir kehilangan pembeli.

dolar tempe
Salah satu perajin tempe di Jepara. (foto: metrojateng.com)

Pertengahan Agustus lalu, harga kedelai impor telah mengalami kenaikan. Di Jepara, harganya telah mencapai Rp 7.600 per kilogram. Hal itu menyebabkan para perajin tempe di sana mengurangi jumlah produksi. Selain karena harga bahan baku yang mahal, juga karena permintaan tempe yang menurun pada musim kemarau.

Agustus lalu, pelemahan rupiah juga telah menggoyang sektor properti. Pertengahan Agustus lalu, nilai rupiah berada di kisaran Rp 14.615 per dolar AS. Jumlah tersebut merupakan level tertinggi sejak tiga tahun terakhir. Nilai tukar rupiah yang tidak tersebut akan berdampak pada BI Rate yang beranjak naik, sehingga berimbas pada kredit perumahan.

Kontraktor proyek infrastruktur yang memenangkan tender pemerintahan di Kota Magelang, menyebut pelemahan nilai tukar rupiah tidak begitu berpengaruh pada kelangsungan pelaksanaan proyek. Hal itu karena seluruh proyek telah dilelang untuk tahun anggaran 2018 dan para pelaksana proyek telah melakukan pembelian material sebelum terjadi pelemahan rupiah. Mereka menyebut, kenaikan nilai dolar berdampak namun tak besar.

mero

Tak semuanya memburuk. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ini justru membawa dampak positif pada objek wisata Candi Borobudur. Dalam dua bulan belakangan, kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 600-700 orang per hari. Sebelumnya, kunjungan turis asing ke Candi Borobudur berkisar antara 100-300 orang per hari.

Meroketnya nilai tukar dolar Amerika Serikat juga dipandang belum menggoyahkan industri tekstil, kendati bahan baku produksi tekstil dalam negeri masih diimpor. Industri tekstil dalam negeri masih stabil karena jumlah impor bahan baku lebih sedikit jika dibandingkan dengan ekspor tekstil Indonesia ke mancanegara.

Asosiasi Pertekstilan Indonesia mencatat devisa ekspor tekstil tahun 2017 lebih dari 3 miliar dolar AS setiap tahunnya. Sedangkan industri tekstil menyumbang 12,54 miliar dolar AS dan berpotensi meningkat menjadi 20 miliar dolar AS di tahun ini. (*)

 

 

 

 

Comments are closed.