Saat Guru-guru Agama Islam Melihat Lebih Dekat Persiapan Paskah di Gereja Bongsari

METROSEMARANG.COM – Belasan guru SMA mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di Jawa Tengah menyambangi Gereja Theresiana Bongsari, Semarang, Sabtu (31/3). Mereka betupaya bertukar informasi terkait keberagaman agama di Indonesia guna menciptakan sebuah kedamaian.

Guru agama islam di Gereja Theresiana Bongsari berinteraksi dengan pengurus gereja, Sabtu (31/3). Foto: metrosemarang.com/efendi

Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Lembaga Studi Sosial dan Agama (Elsa) bekerjasama dengan Wahid Fondation. Para guru agama Islam ini mengunjungi tempat-tempat ibadah agama selain Islam.

“Karena kita tahu bersama bahwa guru agama yang umum itu latar belakangnya sebenarnya bukan pendidikan agama. Mereka PNS surat tugasnya menjadi guru seperti guru matematika, fisika atau sebagainya, tapi kemudian dikasih pegang mata pelajaran agama,” ujar Peneliti Elsa, Khoirul Anwar

Untuk itu, lanjut Khoirul, perlu adanya sebuah pemahaman terkait pandangan kepada penganut agama lain. Menurut Khoirul, selama ini masih ada kecurigaan-kecurigaan terhadap agama lain serta menganggap agama yang dianut selalu benar dibandingkan dengan agama lain.

“Semuanya membicarakan hal-hal yang semulanya tabu itu yang selama ini menjadi gunjingan di kalangan orang-orang muslim tapi tidak pernah melakukan konfirmasi kepada yang bersangkutan. Seperti ada kristenisasi, dan sebagainya,” imbuh Khoirul.

Dengan begitu, diharapkan akan ada tambahan materi terkait dengan paham-paham keberagamaan serta terciptanya sebuah perdamaian yang dimulai dari dunia pendidikan.

Pastor Kepala Gereja Theresiana Bongsari, Eduardus Didik Cahyono menyambut baik atas kedatangan guru-guru tersebut. Menurutnya dengan adanya kegiatan semacam ini akan timbul pemahaman-pemahaman baru kepada antar umat beragama.

“Kami juga bisa berbagi pandangan terkait agama kami, dengan senang hati, suasana akrab sekali tadi. Bisa bertanya apa saja, kami menjawab juga tanpa ada rasa terintimidasi, jadi bukan hanya guru-guru agama islam mengetahui tentang kekatolikan, tapi kami juga bisa belajar tentang agam islam melalui mereka,” ujar Didik.

Didik juga mengatakan, pertukaran informasi antar sesama umat beragama tersebut bukan untuk menemukan titik temu antara agama yang mereka anut. Melainkan akan timbul rasa memahami antara satu dengan yang lainnya.

Dalam kegiatan tersebut, para guru juga diajak berkeliling menyaksikan seluruh ruangan gereja. Keakraban antar umat beragama ini semakin terlihat tatkala Didik mengajak para guru menyaksikan persiapan perayaan Paskah di ruang utama Gereja Theresiana Bongsari, Semarang. (fen)

You might also like

Comments are closed.