Sabung Ayam Bukan Kriminal

image
Suasana Sabung Ayam di Kota Lama (foto: Metro Semarang/Ilyas Aditya)

SEMARANG – Meski persepsi di masyarakat masih cenderung negatif karena adanya unsur perjudian yang sudah lama melekat, bagi para hobbies atau pecinta adu ayam jago, hal tersebut bukanlah suatu penghalang untuk terus mengadu ayam andalannya.

Seperti yang terlihat di spot-spot arena latihan sabung ayam di kawasan Pasar Ayam Kota Lama Semarang, tepatnya di belakang Jembatan Berok Johar. Bagi para hobbies, lokasi tersebut adalah salah satu destinasi utama untuk bertukar pengalaman dan menguji ayam andalannya.

Menurut Ngasimin (58), warga Magesin RT 08/RW VI, Semarang Utara, seorang pedagang ayam aduan di Pasar Ayam, selama ini ada lima spot arena latihan ayam aduan yang di buka. “Meski begitu, kami hanya buka hari Sabtu dan Minggu saja. Di luar itu, kita jualan ayam seperti biasanya,” tutur Ngasimin, Minggu (26/10) siang.

Setiap akhir pekan, di lokasi sabung ayam tersebut, ratusan pecinta ayam pertarung dari berbagai daerah mulai Solo, Ambarawa, Weleri Kendal, Kudus hingga Yogyakarta, selalu berdatangan untuk mengasah keterampilan ayam jagoannya.

Di sisi lain, pria yang sudah puluhan tahun bergelut dengan ayam tersebut mengatakan, melatih ayam-ayam jago agar menjadi petarung tangguh bukanlah hal yang mudah, banyak berbagai faktor yang harus diperhatikan dalam melatih ayam sampai tangguh. “Seperti melatih seorang petinju, harus dilatih berulang kali. Biasanya, saya melatih ayam dengan melihat liukan gerakan badan dan jalunya. Setelah itu, baru mengasah cucuk ayamnya,” ucapnya.

Selain itu, lanjut dia, seekor ayam aduan pemula harus sering diadu. Hal ini untuk melatih kekuatan pernapasan si-ayam. Tak lupa jamu dan berbagai vitamin juga harus diberikan secara rutin, untuk menjaga kebugaran ayam petarung. “Jamunya berupa kunyit kencur jahe yang di-blender lalu dicampurkan dengan makanan ayam,” imbuhnya.

Setelah keterampilan ayam dianggap bagus, biasanya pemiliknya akan melepaskan ayam aduannya ke dalam turnamen antar kampung atau kompetisi bergengsi yang legal dan tentunya tanpa dikotori oleh adanya perjudian. “Di sini kebanyakan orang mengutamakan seni bertarung ayam sebagai peninggalan nenek moyang, bukan untuk lahan perjudian,” tandas Ngasimin. (Yas)

You might also like

Comments are closed.