Sahabat Difabel Bekali Diri, Bersiap Masuki Ruang Kerja Inklusi

Pelatihan Menjahit Modiste di Roemah D

Pada dasarnya upaya KSD sendiri adalah mendorong sahabat difabel di Roemah D untuk lebih berdaya dan mandiri lewat usaha kreatif.

TIGAPULUH perempuan berada di sebuah ruangan Roemah D, Jalan Mataram Nomor 266 Semarang. Sebagian besar mereka adalah penyandang disabilitas. Sebelas orang di antaranya merupakan perempuan dari kelompok rentan yang ada di Kota Semarang.

Senin, 22 Oktober 2018, siang itu adalah hari pertama latihan menjahit modiste dimulai. Puluhan perempuan tersebut dibagi menjadi dua kelompok yang lebih kecil. Mereka bakal mempelajari teknik menjahit. Tak Cuma itu, mereka juga bakal dilatih untuk menciptakan barang yang siap pakai.

  • Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, modiste berarti wanita yang ahli membuat pakaian wanita.
  • Kelompok rentan, menurut Pusat Studi Hak Asasi manusia, Universitas Islam Indonesia [PDF] dicirikan dengan adanya hambatan atau keterbatasan dalam menikmati standar kehidupan yang layak sebagaimana kebanyakan orang pada umumnya.

 

Latihan akan dimulai dari menyiapkan bahan, merangkai, memasang kacing, memasang resliting, dan sebagainya. Semuanya dikemas dalam jadwal latihan tiga kali dalam sepekan.

Salah satu mentor yang ditunjuk juga menyandang disabilitas. Ia merupakan penjahit modiste yang telah memiliki 15 pegawai, dimana empat di antaranya juga merupakan penyandang disabilitas.

“Itu bisa menjadi contoh sekaligus untuk membangun semangat bahwa mereka (peserta latihan – red) juga bisa,” kata Ketua Komunitas Difabel (KSD) Noviana Dibyantari.

KSD-lah yang menggelar pelatihan tersebut dengan menggandeng United States Agency for International Development (USAID), badan bantuan pembangunan internasional dari Amerika Serikat. Menurut Noviana, pelatihan menjahit modiste ini menjadi upaya untuk mewujudkan kesetaraan dalam ketenagakerjaan.

difabel semarang
Pelatihan menjahit modiste hari pertama di Roemah D. (foto: metrosemarang/Efendi)

Noviana menerangkan, keterampilan menjahit modiste ini diajarkan karena dianggap sebagai salah satu keterampilan yang memungkinkan dikuasai kaum difabel. Dalam keterampilan ini ada beberapa hal yang bisa dipelajari secara terpisah.

“Dengan kondisi itu (disabilitas – red), tidak memungkinkan bagi mereka untuk melakukan seluruhnya. Ada yang bisanya memasang kancing saja, menjahit saja, atau memasang resliting saja,” terang Noviana.

 

Penyetaraan

Upaya penyetaraan tersebut harus dilakukan. Terutama adalah kesetaraan dalam pandangan masyarakat luas terhadap kaum difabel dan kelompok perempuan rentan. Hal itu untuk memberikan kesempatan bagi kaum difabel dan perempuan rentan tersebut untuk hidup layak.

Di sisi lain, lewat pelatihan ini justru kaum difabel dan perempuan rentan diharapkan memiliki bekal untuk membuka lapangan pekerjaan baru di Kota Semarang. Alhasil, manfaat bekal keterampilan itu tak hanya berhenti pada peserta saja.

“Agar mereka mandiri dalam segi finansial,” ujar Noviana. Pada dasarnya upaya KSD sendiri adalah mendorong sahabat difabel di Roemah D untuk lebih berdaya dan mandiri lewat usaha kreatif.

Lebih jauh, Noviana berharap, para peserta dapat mengembangkan bakat dan keterampilan, serta saling menginspirasi dan memotivasi dalam suasana yang inklusif.

 

Seleksi 

Kerja sama antara KSD dengan USAID sendiri diawali dario seleksi yang dilakukan pada Februari hingga Juli 2018 lalu. KSD dan Roemah D menjadi salah satu dari 20 lembaga di Jawa Tengah yang lolos seleksi.

KSD lantas mendapat dukungan dana dari program SINERGI (Strengthening Coordination for Inclusive Workforce Development in Indonesia), dan USAID melalui DAI atau Mitra Kunci. SINERGI sendiri merupakan sebuah konsorsium yang dipimpin oleh Rajawali Foundation bersama Yayasan Transformasi Kebijakan Publik Indonesia. Konsorsium itu merupakan pelaksanaan grant agreement dari USAID melalui DAI atau Mitra Kunci, yang ada di Semarang.

Kota Semarang merupakan salah satu tempat dari seluruh pelaksanaan. Total nilai grant agreement mencapai 1 juta USD untuk fase rintisan selama 15 bulan. Penandatanganan grant agreement dilakukan pihak Rajawali dan Mitra Kunci pada 23 Oktober 2017 di Jakarta.

Pemberian grant agreement dimaksudkan untuk menjalankan sebuah inisiatif dalam meningkatkan koordinasi multi-stakeholders pada tingkat nasional dan sub-nasional. Tujuannya untuk membuka kesempatan seluas-luasnya kepada kaum muda dari kalangan tidak mampu dan rentan (poor and vulnerable youth) supaya dapat memasuki dunia kerja.

Pelatihan di Roemah D akan selesai pada Desember 2018. Usai program pelatihan para peserta akan mendapatkan pendampingan dalam pengembangan keterampilan. Sertifikat juga akan diberikan kepada peserta yang lolos uji kompetensi. Sertifikat itu bakal bisa digunakan sebagai alat untuk mencari pekerjaan di ruang inklusi. (*)

Reporter: Efendi
Editor: Eka Handriana

 

You might also like

Comments are closed.