Salut! Bocah 10 Tahun di Magelang Ini Seorang Diri Rawat Ibunya yang Gagal Ginjal

METROSEMARANG.COM – Al Rayyan Dziki Nugraha mendadak viral di media sosial setelah aktivitasnya merawat ibunya yang mengalami gagal ginjal diunggah oleh karyawan RSUD Tidar Magelang. Usianya baru 10 tahun, tapi kegigihan bocah kelas III SDN Mertoyudan merawat ibu kandungnya seorang diri mengundang simpati banyak pihak.

Al Rayyan Dziki Nugraha (10), siswa kelas 3 SDN 3 Mertoyudan Kabupaten Magelang dengan penuh kasih mendampingi bu Ani, ibunya yang dirawat di RSUD Tidar Kota Magelang. Foto: metrojateng.com

Selama berhari-hari, bocah ini menemani ibunya dan rela tidak masuk sekolah. Kadang anak ini tidur di lantai tanpa tikar dan terkadang tidak ada makanan di sampingnya.

Sudah sejak sembilan hari lalu, ia menunggui dengan sabar dan meladeni apa yang diperlukan ibunya selama di rumah sakit. Dari membantu duduk, mengganti pakaian, ke kamar mandi dan sebagainya.

“Saya sayang sekali sama ibu. Saya tidak mau berpisah,” kata Al Rayyan, lirih saat ditemui di RSUD Tidar, Jumat (16/2).

Rayyan mengaku sudah beberapa kali menemani ibunya di rawat di rumah sakit dan tidak masuk sekolah. “Sudah empat kali masuk rumah sakit karena ibu sakit gagal ginjal dan pembengkakan jantung ,” katanya.

Rayyan menyadari, ia tidak bisa menggantungkan orang lain atau saudara untuk merawat ibunya yang seorang penjual jajanan anak. “Semuanya sibuk, jadi saya yang harus merawat,” ujarnya.

Terakhir ibunya yang bernama Ani dibawa ke rumah sakit oleh para tetangganya. Ia sendiri mengaku ikhlas merawat ibunya karena sangat sayang. Apalagi, ibunya satu-satunya orang yang paling dekat dengan dia dan begitu menyayangi. Ia juga tak pernah mengenal siapa ayahnya.

“Ibu sangat sayang ke saya, jadi saya juga sayang ibu,” kata bocah yang bercita-cita ingin menjadi TNI.

Menurut Rayyan, pihak sekolah juga tidak pernah marah kalau dia harus membolos demi menjaga ibunya. “Pak guru dan bu guru enggak pernah marah, mereka tahu saya harus merawat ibu,” ujarnya.

Untuk mengganti hari-harinya yang ‘bolong’, Rayyan mengaku rela masuk sekolah di saat yang lain libur. Ia juga mengaku selalu memiliki nilai yang lumayan baik.

Ani saat ditemui di bangsal Gladiol No 14 mengatakan, dirinya sangat bersyukur memiliki anak seperti Rayyan. Baginya Rayyan, merupakan satu-satunya harta yang paling berharga.

“Anak ini telaten merawat saya, dari membantu mengangkat tubuh, mengganti baju bahkan baju dalam, sampai ke kamar mandi,” ujarnya sambil berurai air mata di atas kursi roda.

Ia mengaku sudah sejak empat bulan lalu sakit gagal ginjal dan pembengkakan jantung. Sudah empat kali pula dirawat di rumah sakit. “Ya hanya anak saya yang bisa bantu,” ujarnya.

Untuk biaya rumah sakit, Ani mengaku terbantu dengan BPJS. Selama ini ia mengikuti BPJS mandiri, karena tidak dapat mengurus kartu Indonesia Sehat, lantaran  tidak memiliki tempat tinggal tetap.

“Saya ikut BPJS mandiri kelas 3 karena memang tidak bisa mengurus KIS dari pemerintah,” ujarnya.

Bantuan Rumah Sakit

Sementara itu, Arif, perawat yang mengunggah Rayyan di media sosial mengatakan, dirinya sebagai perawat merasa terketuk untuk memosting apa yang dialami  bocah 10 tahun itu. “Saya perawat di bangsal kelas 3 sudah sering melihat bagaimana keadaan pasien. Tapi Rayyan berbeda, dia masih kecil menunggu ibunya sendirian. Saya observasi selama satu minggu, bocah ini masih sendirian merawat ibunya. Maka saya tergelitik untuk memosting di media sosial agar ada yang memperhatikan nasib bocah ini,” katanya.

Setelah diposting, kata Arif, tanpa menghitung waktu, banyak warga Magelang yang memberikan simpati. Pada hari Jumat (16/2), ratusan warga Magelang dan dari komunitas datang ke RSUD untuk menjenguk Rayyan dan ibunya.

Nasrodin, Plt Kabid Keperawatan RSUD Tidar mengatakan, selama di rumah sakit, banyak perawat yang ikut  membantu menjaga pasien. Pihak rumah sakit sendiri merasa heran tidak melihat ada keluarga Rayyan yang lain.

Dari sana, para perawat secara personal  kemudian bergotong royong sekadar memberikan bekal dan alat-alat sekolah untuk Rayyan. Para perawat juga menyampaikan ke Baznas agar anak ini didampingi untuk kehidupan selanjutnya.

“Secara kesehatan kita berikan pelayanan sebaik-baiknya, juga secara sosial kita juga ikut membantu semampu kita,” ujar Nasrodin.

Bahkan di sela-sela  anak ini mendampingi ibunya, pihak rumah sakit juga minta agar sesekali Rayyan masuk sekolah. “Banyak perawat yang menjaga anak ini seperti anak atau adik sendiri,” kata Nasrodin.

Sementara itu, pada Jumat tadi nampak Ani dan Rayyan dikunjungi rombongan Dinas Sosial Kabupaten Magelang, kepala sekolah SDN 3 Mertoyudan, masyarakat umum, komunitas hingga Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Magelang. (metrojateng.com/MJ-24)

You might also like

Comments are closed.