Sambut Ramadan, Ratusan Warga Mijen Napak Tilas Peninggalan Sunan Kalijaga

METROSEMARANG.COM – Untuk menyambut datangnya Bulan Ramadan 1438 Hijriyah, sebanyak 500 warga Kedungjangan, Kelurahan Purwosari, Mijen Semarang menggelar pawai napak tilas peninggalan Sunan Kalijaga, pada Sabtu (13/5) sore.

Warga Kedungjangan menyambut datangnya Bulan Ramadan, Sabtu (13/5). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Iring-iringan pawai warga dimulai dari gerbang desa lalu melewati Jalan Raya Jatisari, Cangkiran lalu memutari jalan kampung Poleman untuk kemudian kembali lagi ke desanya.

Hadi Priyanto Kasi Kesejahteraan Sosial Kelurahan Purwosari Mijen, mengatakan ratusan warga tersebut berasal dari lima RT yang ada di Kedungjangan. Acara warga desa setempat, kata dia digelar meriah lantaran untuk tahun ini jumlah pesertanya lebih banyak ketimbang tahun lalu.

“Selain itu juga didukung kondisi cuaca yang sangat bagus, pendukungnya juga lebih banyak dari tahun kemarin,” kata Hadi kepada metrosemarang.com.

Napak tilas peninggalan Sunan Kalijaga digelar tiap tahun oleh warga saat menjelang Bulan Ramadan. Selain itu, bertepatan dengan prosesi khataman Alquran.

Sunan Kaijaga, lanjutnya konon sering melintasi Desa Kedungjangan untuk mengambil kayu jatiombo sebagai bahan baku pembuatan Masjid Agung Demak. Seiring berjalannya waktu, ia lantas membuat sumber mata air di sekitar desa untuk minum.

“Sisa tandon tua peninggalan Sunan Kalijaga masih bisa ditemukan sampai saat ini. Masih dipakai warga buat mengambil air bersih,” jelasnya.

Karena itulah, demi menghormati jejak peninggalannya, setiap tahun warga memperingati dengan menggelar pawai menghias mobil. “Ini dilakukan gotong-royong oleh warga. Semuanya swadaya. Dan pawainya sejauh 15 kilometer,” akunya.

Ia berharap pemerintah kota ikut mendukung pelestarian budaya warga Kedungjangan. Dengan begitu, diharapkan acaranya dapat menjadi potensi wisata lokal. “Apalagi, di sini kan ada kampung tematik buah, saya rasa pas disatukan dengan pawai ini,” ujarnya.

Ponijan, warga RT 03/III Kedungjangan mengaku senang dengan acara tersebut lantaran mampu memperkenalkam potensi yang ada di desanya.

Ia sendiri jauh-jauh hari mengerahkan tetangganya untuk menghias mobilnya menyerupai burung garuda.

“Saya memakai alang-alang yang dianyam sedemikian rupa sampai membentuk burung garuda. Semoga ke depan bisa meningkatkan kreativitas warga sekitar, kalau bukan kita siapa lagi yang mau memulainya,” tukasnya. (far)

You might also like

Comments are closed.