Sambut Syawalan, 80 Masakan Khas Semarangan Tersaji di Festival Ini

METROSEMARANG.COM – Untuk menyambut long weekend Lebaran sekaligus memeriahkan perayaan 1 Syawal 1438 Hijriyah, sejumlah penjaja makanan Kota Semarang menggelar acara Festival Makanan ‘Pulang Semarang Part-2’ di pelataran Mal Sri Ratu, Jalan Pemuda. Acara tersebut diselenggarakan dalam rentang waktu seminggu mulai 25 Juni-2 Juli.

Festival Kuliner spesial Lebaran di Sri Ratu Semarang. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Festival kuliner itu diinsiasi oleh pegiat Komunitas Kuliner Semarang yang punya ribuan anggota jejaring sosial. Firdaus Adinegoro, Ketua Komunitas Kuliner Semarang menuturkan bahwa dalam festival tersebut terdapat 60 stand yang menjual 80 kuliner khas Semarang.

Firdaus mengatakan Semarang adalah surganya kuliner. Maka Festival Makanan Pulang Semarang sengaja menampilkan ragam rasa kudapan dan menu bercitarasa lokal.

“Ada 80 menu yang disajikan dan terdiri dari kombinasi menu kekinian dan masakan khas yang sejak lama ada di Semarang. Masakan yang bisa dicoba seperti mie kopyok, tahu gimbal, nasi ayam, ketupat opor dan masih banyak lagi,” jelas Firdaus kepada metrosemarang.com, Jumat (30/6).

Masakan lokal itu dijual berdampingan dengan kuliner tradisional yang jarang ditemui saat ini macam gulali dan ragam es krim serut.

Para penjual mematok harga tiap menu mulai Rp 15 Ribu-Rp 50 Ribu. Para pemudik dari Jakarta yang pulang kampung ke Ibukota Jateng tak perlu repot-repot lagi mencari makanan.

“Sebab, kami menyediakan semua kuliner yang bikin mereka klangenan. Yang sulit dijumpai selama Lebaran karena banyak toko tutup, dapat ditemui dengan mudah di lokasi festival,” akunya.

Masakan Semarang, lanjutnya, punya kekhasan tersendiri dibanding daerah lainnya. Bila Solo dan Kota Gudeg Yogyakarta sangat kuat pada rasa manisnya. Semarang justru kuat pada aroma bawang putih dan rempahnya.

Ini tak bisa dipungkiri lagi, katanya mengingat Ibukota Jateng jadi daerah persinggahan antar suku, budaya dan banyak ras di Indonesia. “Akulturasi budaya itulah yang menimbulkan kaya rasa dalam setiap menu yang dihidangkan,” pungkasnya.

Sejak dibuka animo masyarakat yang mencicipi masakan festival terbilang tinggi. Saban hari, arus kedatangan pengunjung diklaim mencapai 5.000 orang.

Ia berharap ke depan bisa menggelar acara serupa yang lebih meriah lagi. “Kami akan menggandeng Pemkot untuk mempromosikan kuliner lokal yang hampir punah biar dikenal masyarakat lagi,” tutupnya. (far)

You might also like

Comments are closed.