Santrendelik, Pesantren Go Public Bersaham Kambing

image
GENDONG KAMBING: Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan menggendong kambing yang menjadi tumpuan ekonomi Santrendelik Kampung Tobat di Desa Kalialang Lama, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunung Pati, Kota Semarang, Minggu (2/10). Foto: Metro Semarang/MS-08

TERSEMBUNYI di sebuah hutan jati di Desa Kalialang Lama, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunung Pati, Kota Semarang, ada sebuah pesantren yang seluruh pengajar dan santrinya anak muda. Santrendelik Kampung Tobat namanya. Pesantren ini diniatkan sebagai wadah dakwah bergenre pop kontemporer.

Nama Santrendelik merupakan gabungan dua kata: pesantren dan ndelik. Secara harfiah, ‘ndelik’ berarti ‘sembunyi’ yang sesuai dengan lokasi pesantren di pedalaman Semarang. Tapi sesungguhnya, ndelik merupakan akronim dari ‘ngandel marang sang khalik’.

Berdiri enam bulan lalu, Santrendelik telah memiliki jamaah 350 orang yang disebut delikers. Komunitas Tobaters ini terdiri atas berbagai kalangan usia, profesi dan jender. Para delikers aktif pada beberapa kegiatan. Diantaranya kajian mingguan nongkrong tobat, kitab hikam, fi bayti rosul dan pesugihan syariah Santrendelikpreneurship. Lalu ada Klub Malam Santrendelik  yang merupakan kegiatan tahajud bersama setiap malam. 

Santrendelik juga mendirikan Rumah Khataman, Rumah Assatid, dan Bank Kambing Santrendelik (BKS) yang diresmikan mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan, pada Minggu (2/10).

Jangan bayangkan pelajaran untuk santri yang biasanya kaku dan membosankan. Di Santrendelik, kajian dan diskusi dilakukan sambil ngopi dan mendengarkan musik yang lagi hits.

“Kami berdakwah dengan genre Pop Kontemporer. Kami memadukan antara diskusi, seni dan budaya sebagai unsur pendukung dakwah sesuai dengan trend kekinian,” kata Ketua Yayasan Santrendelik Ikhwan Saifullah.

Diceritakannya, ide pesantrennya bermula dari sebuah kajian Islam yang digagas oleh beberapa anak muda di sebuah kafe di daerah Sampangan. Kajian itu diasuh seorang ustad muda bernama Riyadh Ahmad Al Hafidz.

Dari hanya dua dua santri, kajian rutin itu menarik minat puluhan anak muda. Otomatis  tempat yang lebih luas dan representatif tiba-tiba menjadi kebutuhan mendesak. Tak dinyana, keinginan membangun pusat dakwah mendapat dukungan luar biasa dari para donatur. Salah satunya, seorang dosen Universitas Diponegoro, Raharja, yang mewakafkan hutan jati seluas 5500 meter persegi.

Wakaf itu semakin menyemangati Ikhwan dkk untuk membangun pesantren. Mereka meyakini, pondok pesantren tak harus dibangun oleh seorang gus (anak kyai) yang kaya raya. Siapapun boleh dan bisa membangun pusat dakwah.

Untuk menghidupi pesantren, mereka mengusung Bank Kambing Santrendelik. Konsep ini merupakan varian dari sedekah produktif alias sedekah yang tidak langsung dialokasikan habis untuk mustahiq (penerima sedekah). Sedekah produktif akan membuat membuat dana sedekah diputar dulu untuk kegiatan-kegiatan ekonomi yang dalam hal ini adalah ternak kambing. 

Konsep BKS ialah menghimpun sedekah warga senilai Rp. 1 juta yang kemudian dibelikan bibit kambing unggulan. Kambing-kambing itu akan dirawat oleh santri dan setelah empat bulan akan dijual. Uang hasil penjualan dibelikan bibit baru dan sisanya digunakan untuk biaya operasional peternakan dan disedekahkan pada pesantren.

Ide bank kambing berasal dari Dahlan Iskan yang ingin memasyarakatkan bank ternak. Konsep itu diaplikasikan pada kambing karena harganya stabil dan tidak kenal inflasi serta merupakan hewan gembalaan semua Nabi.

“Sistem bank kambing sudah kami buat sesederhana mungkin sehingga bisa diduplikasi di semua tempat. Maka Santrendelik bisa jadi pesantren franchise yang bisa dibuka di mana saja,” kata Ustad Riyadh.

Dahlan Iskan memberi penghargaan tinggi pada berdirinya Santrendelik yang disebutnya pesantren go public karena sahamnya milik masyarakat. Untuk memperbesar penghasilan pesantren, ia mengusulkan agar di bawah Jati ditanami Porang. Bahan baku tepung ini bernilai ekonomi sangat tinggi.

“Kalau tanaman lain paling banter menghasilkan dua juta rupiah pertahun, tapi Porang bisa lima puluh juta rupiah setahun,” katanya. 

Saat ini, Santrendelik memang baru berupa sebuah joglo yang dipayungi ratusan pohon jati berdaun lebar. Tapi Ikhwan meyakini, dalam 15 tahun, dengan perencanaan matang Santrendelik akan menjadi jaringan pesantren kontemporer terbesar di Indonesia. (MS-08)

You might also like

Comments are closed.