Sastra Arus Utama, “Lepas Jaket”, dan Historiografi Smartphone

Ilustrasi
Ilustrasi

MENGAPA sastra pada zaman sekarang tidak lagi menjadi arus utama seperti zaman Jawa kuno?

Pada zaman dahulu kala, di negeri dongeng bernama Jawa, sastra menjadi arus-utama (mainstream). Peraturan pemerintahan dan pertanian ditulis sebagai hukum legal-formal, selainnya dituliskan sebagai sastra. Ajaran moral, falsafah hidup, penceritaan rentetan peristiwa sejarah, peradatan, tembang, dll. semuanya ditulis dalam bentuk sastra.
Sastra mendominasi ruang literasi dan tuturan lisan. Serat Centhini, misalnya, diakui memuat ajaran-ajaran penting orang Jawa, pengenalan kota-kota, kebatinan, sampai adegan seks “threesome“, sampai eksekusi Sultan Agung terhadap Among Raga. Serat Centhini menjadi ensiklopedi Jawa berbentuk novel. Cebolek, yang mendiskreditkan otoritas spiritual Kiai Mutamakkin Pati dalam skenario konflik Surakarta. Harap diingat, sastra tidak pernah terlepas dari politik kekuasaan. Tidak ada epistemologi (sumber pengetahuan) yang terlepas dari politik.
Pada masa yang sama, terjadi ketimpangan dalam historiografi Indonesia. Zaman dulu belum ada smartphone yang bisa dengan detail menandai waktu dan tempat. Kita mengalami kekaburan mengurai akar geger pecinan di Surakarta tahun 1741-1743, mendata apa, siapa, dan bagaimana. Ini hanya contoh kecil.
Sastra menjadi mainstream tetapi historiografi tidak utuh. Zaman modern, seperti sekarang, dianggap tidak menghargai sastra, namun tidak sedikit pula yang mengabaikan keberhasilan zaman modern dalam melakukan pendataan historiografi.
Apa yang disebut sebagai sastra, pada masa kejayaannya (sebagai literasi mainstream), salah satu penghambatnya adalah adanya politik Belanda bernama kelas kaum terpelajar bernama priyayi. Ranggawarsita menengarai “senjakala sastra” ini dalam Kalatidha. Kondisi ini sama dengan Turki yang memodernkan-diri dengan mengubah tulisan Arab menjadi Latin dan sekulerisasi di segala bidang. Status kepegawaian, mengubah hirarki, membikin kelas pembantu pemerintah (Belanda) di Jawa, dan mulai membuka pintu invasi nilai-nilai Barat di Indonesia.
Bukan kebetulan pula, Surakarta menjadi papan catur politik poskolonialisme. Mari melihat sedikit kronologinya : konflik Mataram membuat pemisahan awal terjadi, dengan membangun keraton baru di Kartasura, lalu terjadi “geger pecinan” (yang benihnya sudah terjadi sejak dari Batavia) karena masalah upah pekerja dan politik tanam-paksa, lalu keraton dipindahkan ke Keraton Surakarta dengan menerapkan hukum Islam.
Sejak hukum Islam resmi diperlakukan, terjadilah hukum di tangan Raja, wakil Tuhan di muka bumi. Anda bisa melihat contoh, bagaimana gerakan kultural Kiai Mutamakkin (yang otoritasnya tidak diragukan oleh orang-orang pesisir Pati) diceritakan diadili sebagaimana di Serat Cebolek.

Sastra memiliki kekuatan membelokkan, tidak hanya dalam tulisan, melainkan pula dalam tuturan lisan. Lihatlah bagaimana seni bercerita dari pagelaran wayang kulit, bisa menampilkan sosok Semar (tokoh imajiner yang dicitrakan mewakili wong cilik) yang mengajarkan kesempurnaan batin, berubah menjadi politis. Semar dari memanusia menjadi meng-Indonesia. Kalau mau menjadi pemimpin di Indonesia, gunakanlah falsafah Semar.
Belanda pada masa awal Keraton Surakarta, mulai melakukan campur tangan dari mengatasi pemberontakan sampai memasukkan ide-ide arsitekturnya. Kondisi agraris dan perdagangan di Surakarta, menyemai maraknya benih-benih agama-kebatinan dan kesenian “adi luhung” dan penerapan peradatan yang dikabarkan melalui sastra.
Mesin-mesin import bernama mesin ketik dan stensil, memunculkan tumbuhnya penerbitan buku-buku, bersamaan dengan persemaian kelas baru bernama “kaum terpelajar”. Penguasa, orang pintar, seniman, dan kaum terpelajar, berasal dari Surakarta. Menjelang kemerdekaan, tahun 1930-an, kota ini menjadi salah satu sumber chaos (Tan Malaka bermain juga di masa itu).
Banyak kejadian besar akhirnya terjadi di Surakarta. Beridirnya SI, PNI, kongres Lekra, pecahnya PDI, kulturnya Jenderal Soeharto dan kotanya Presiden Jokowi, semuanya Surakarta. Anda pasti punya sederet daftar lain lagi. Itulah hebatnya Surakarta, miniatur yang tiada habisnya menjadi kota penting dalam sastra dan sejarah Indonesia.
Sebenarnya, bukan hanya Jawa. Tradisi Islam juga mengajarkan Al-Qur’an sebagai “bacaan” sastra, karena, jika dipahami sebagai kitab yang berisi data-data sejarah maka menjadi rancu. Firman Allah tidak “menyejarah”. Tidak mengherankan, jika semangat ini menjadi dasar pengajaran ilmu-ilmu Islam dalam bentuk sastra. Epistemologi ini patut dikemukakan karena praktek pengajaran Islam di tanah Jawa banyak yang disampaikan dalam bentuk sastra.
Jika Anda mengkaji kitab kuning, ada penjagaan yang ketat terhadap tradisi pemakaian istilah-istilah dalam bahasa Jawa yang masih diakui dalam literasi namun sudah jarang ditemukan dalam tuturan lisan. Lebih berjasa daripada teks bahasa Indonesia yang menerjemahkan kitab-kitab Islam maupun Jawa yang harfiah.
Sastra tidak lagi menjadi mainstream jika masyarakat lebih menyukai penyampaian hal-hal yang legal-formal dalam kehidupan sehari-hari. Di luar kondisi menyenangkan bernama sastra, politik Indonesia tidak demikian. Undang-undang pemerintahan di Indonesia banyak yang belum selesai, masih sibuk merevisi undang-undang bikinan Belanda.
Anda bisa Googling. Lembaga negara Indonesia sekarang ini jumlahnya lebih dari 130. Kita hidup penuh “peraturan”. Kondisi masyarakat yang penuh hukum positivistik menjadi kebalikan kondisi masyarakat yang bebas bersastra.
Suatu kali, saya memasuki beberapa lingkaran sastra di jejaring sosial dan dalam kehidupan nyata. Mereka menjadikan aktivitas bersastra sebagai tindakan eksklusif a la kaum terpelajar. Saya mendiskusikan teknik menulis, aspek “impresi” (kesan), apa itu “emosi” dalam berkarya, serta mengemas sastra sebagai tindakan kebudayaan “biasa”.
Yang terkesan adalah bersastra sebagai aktivitas “serebral”, sebuah kata yang berarti pemakaian otak besar (cerebral cortex), selayaknya selebritas (pesohor). Mereka banyak yang memilih menjadi pecandu kata, berkumpul dalam social charity dan kegembiraan meluap. Tetap saja bagus. Kawan-kawan sastra tetaplah para pembaca dan berkutat dalam literasi, memiliki perpustakaan dan jejaring pertemanan sendiri.
Namun harap diingat, terjadinya dua realitas berkebalikan antara Jawa di zaman dahulu (atau kondisi “dahulu” pada umumnya). Zaman dahulu, sastra menjadi mainstream, namun historiografi tidak tercatat sebagus sekarang, sedangkan zaman sekarang, sastra menjadi minoritas meskipun historiografi lebih bisa tercatat dengan baik. Sebaiknya, mereka tidak menjadikan aktivitas bersastra sekadar aktivitas selebral, alias pekerjaan otak dan menjadi pesohor semata.
Ada seorang kawan, bercerita tentang pengalamannya menari keliling dunia. Suatu kali, dia ditanya, “Pelajaran menari terbaik, dari negara mana?”. Indonesia. Suatu kali, kawan ini ingin belajar sebuah tarian dari Kalimantan. Dia selama 2 minggu tidak diajari menari sama sekali. Dia diajak bertani di sawah, mengayunkan cangkul, dan menginjak tanah basah, menanam padi, dll.
Sampai suatu ketika, dia diberitahu bahwa asal dari semua tarian yang ingin dia pelajari tadi adalah gerakan para petani. “Semua gerakan ini berasal dari cara kami mengolah tanah. Jika kamu ingin menari, mari menanam bersama dulu.” kata penari itu.
Mungkin sama dengan calon jagoan kecil yang diajari Jacky Chen untuk memakai, memungut, dan melepas jaket selama berhari-hari, sebelum dia belajar kung fu, seperti dalam film Karate Kid.
Mengandaikan sebuah zaman, sudah semestinya, mengandaikan ruang dan waktu pada zaman itu. Zaman ketika pertanian dan seni masih menjadi satu, zaman ketika agama (ritual) dan seni, belum terlalu jauh berselisih paham seperti sekarang. Zaman ketika jejaring sosial membuat orang terbebas dari “sastra”, menekuni kehidupan sehari-hari, mengalami kehadiran-diri, bukan sekadar menjadi pecandu dan perangkai kata-kata.
Jika sastra menjadi aktivitas literer yang terpisah dari kehidupan, sastra tidak akan mungkin menjadi mainstream, sastra hanya akan menjadi gairah tak-berkeputusan, tanpa “keputusan”.

Day Milovich,,
Webmaster, artworker, penulis, tinggal di Borobudur. Follow @tamanmerah di Twitter.

You might also like

Comments are closed.