Sate Taichan Konicipi, Buah Keberanian Eksperimen

3 PIlihan Sambal dengan Daging Juicy

Tanpa bumbu kacang maupun kecap, hanya daging ayam yang dibakar polosan, dihidangkan dengan bumbu sambal, garam, perasan jeruk nipis, ditambah bawang goreng

SATE tanpa bumbu kacang atau bumbu kecap, mana bisa disebut sate? Tapi tunggu dulu. Sejak 2016 lalu, ada varian sate baru yang berkembang dan memperkaya kuliner Nusantara. Sate taichan namanya. Tanpa bumbu kacang maupun kecap, hanya daging ayam yang dibakar polosan, dihidangkan dengan bumbu sambal, garam, perasan jeruk nipis, ditambah bawang goreng.

Enak? Tentu saja, bagi yang suka.

Bahan-bahan sambal dihaluskan lalu dimasak lebih lama. Sehingga cita rasa bahan dapat muncul lebih kentara. Kulit ayam diselipkan di tengah-tengah jajaran daging pada tusukan. Teknik itu membuat sate terasa lebih juicy.

Menurut cerita-cerita yang beredar, sate jenis ini pertama kali muncul di Jakarta. Ada seorang pedagang sate madura yang didatangi pembeli berkewarganegaraan Jepang. Pembeli dari Jepang itu meminta sate sesuai seleranya. Yakni bakaran daging ayam polos. Ia menolak memakai bumbu kacang dan kecap. Ia hanya meminta garam, perasan jeruk nipis dan sambal untuk membumbui bakaran daging ayam polos.

Saat penjual itu bertanya, pembeli yang seorang Jepang itu memberi nama sate taichan pada sate yang dibumbuinya itu. Tapi ada versi cerita lain berkaitan dengan kemunculan sate taichan.

Seorang ekspatriat Korea Selatan lah yang dikabarkan mengajari pedagang sate di kawasan Senayan Jakarta tentang cara membuat sate dengan irisan cabe rawit hijau, bawang merah, bawang putih dan garam. Bumbu iris itu kemudian dihaluskan untuk membumbui bakaran daging ayam polos.

Mana cerita yang benar? Hingga sekarang belum tervalidasi. Lalu apakah sate taichan ada di Jepang ataupun Korea Selatan? Sepertinya tidak.

Meski begitu, sate jenis ini sangat tenar pada tahun 2017. Kedai-kedai sate taichan buka di Jakarta. Tak sedikit pada selebriti yang tergiur bisnis kuliner ini. Sate jenis ini berkembang seiring dengan tren makanan pedas yang masih belum surut tahun itu.

Hingga sekarang, sate ini memiliki penggemarnya sendiri yang biasanya tergolong usia muda. Perkembangannya meluas, tak hanya di Jakarta, melainkan sampai ke kota-kota lain, tak ketinggalan di Semarang.

sate taichan semarang
Sate Taichan Konicipi. (foto: metrosemarang/ Zahra Saraswati)

 

Konicipi

Salah satu kedai yang menjual sate taichan di Semarang adalah Sate Taichan Konicipi. Berada di tengah kota, yakni di Jalan Kyai Saleh Nomor 475 Randusari, Semarang Selatan membuat tempat ini mudah dijangkau. Warga Semarang meyemati kawasan itu dengan sebutan Bergota.

Sate Taichan Konicipi dibuka pada Desember 2017. Pemiliknya bernama Dinda Ayu Septiana alias Ido, mantan juru masak hotel dan restoran ternama di kota besar, yang dahulu jarang bisa mendapat hari libur dari kantornya. Membuka kedai sate taichan merupakan solusi dari persoalannya. Iapun memutuskan pindah ke Semarang sekaligus hidup membersamai keluarganya.

Tempat yang dipilih Dinda, yang berada di dekat kompleks pemakaman Bergota, adalah rumah milik kakek-neneknya. Masa kecil Dinda dihabiskan di tempat tersebut. Sebelum menjadi kedai sate, tempat itu merupakan tempat penjualan keperluan pernikahan, yang dikelola keluarga Dinda. Tak heran, jika mampir ke kedai Sate Taichan Konicipi di Bergota, akan gampang menemui dekorasi gebyok, dan ukiran-ukiran dinding.

Nama konicipi sendiri diambil dari Bahasa Jawa yang dilafalkan secara slang, yang diartikan dengan “menyuruh mencicipi”. Dengan begitu, Dinda memiliki harapan, akan banyak orang yang datang ke kedai-kedainya untuk mencicipi sate taichan racikannya.

 

Lima Gerai

Sate Taichan Konicipi bukan bisnis kuliner bermodal besar yang lantas mendirikan gerai besar. “Dulu (pertama) saya buka masih tiga meja di garasi rumah keluarga saya. Saya dibantu satu karyawan, ternyata kuwalahan terus. Lalu tambah satu (karyawan) lagi, alhamdulillah bertahan sampai sekarang,” katanya.

sate taichan semarang
Sate Taichan Konicipi di Bergota – Semarang. (foto: metrosemarang/Zahra Saraswati)

Hingga kini, Sate Taichan Konicipi berkembang dan telah memiliki lima gerai.  Selain di Bergota, juga ada di Sekaran, Bigbox Pleburan, Pucang Gading, dan di Banyumanik. Seluruh gerai dibuka pada waktu yang seragam. Yakni dari pukul 14.00 siang hingga pukul 22.00 malam.

Dinda memiliki rencana untuk membuka satu lagi gerainya di Angkringan Blendoek Semarang di Jalan Gajahmada Semarang. Hingga saat ini, Dinda telah mempekerjakan 21 karyawan di lima gerai satenya. Itu belum termasuk karyawan yang meracik dan mempersiapkan bahan-bahan sate taichan, di rumah Dinda.

Ada yang unik soal karyawan Sate Taichan Konicipi. Seluruhnya berasal dari komunitas vespa yang ada di Semarang. Bukan tanpa alasan, Dinda sendiri merupakan penggemar Vespa dan tergabung dalam komunitas tersebut.

“Sebagai generasi muda seharusnya bisa memulai usaha sendiri. Jangan takut mencoba, percaya dirimu pasti bisa dan jangan menyerah. Saya yakin pasti semua bisa sukses.”

– Dinda Ayu Septiana, pendiri Sate Taichan Konicipi –

 

Resep Khas

Jika resep sate taichan dari Jakarta datang dari eksperimen pembeli dari Jepang atau mungkin Korea Selatan, sedikit berbeda dengan Sate Taichan Konicipi. Dinda pun melakukan eksperimen sendiri, mencoba resep yang ia susun, hingga akhirnya menemukan resep sate taichan yang baru dan memiliki perbedaan dengan yang telah ada.

Kita mulai dari sambalnya. Biasanya sambal sate taichan yang terdiri dari cabe, bawang serta bumbu lain dihaluskan, lalu disiram minyak panas. Sambal Sate Taichan Konicipi mengalami proses berbeda. Bahan-bahan sambal dihaluskan lalu dimasak lebih lama. Sehingga cita rasa bahan dapat muncul lebih kentara.

Barulah kita beranjak ke bahan utama sate taichan, yakni daging ayam. Biasanya, dalam tusukan sate taichan hanya terdiri dari daging dan daging ayam melulu. Untuk Konicipi, Dinda menyelipkan kulit ayam di tengah-tengah jajaran daging pada tusukan. Teknik itu membuat sate terasa lebih juicy. Kaldu yang ada dalam kulit akan menyatu dengan daging saat dibakar, sehingga rasa gurih ayam keluar dan menyatu dengan seluruh daging dalam tusukan.

Dengan resep andalan seperti itu, dalam sehari satu gerai Sate Taichan Konicipi bisa menjual 100 porsi sate. Satu porsi Sate Taichan Konicipi seharga Rp 16 ribu berisi 10 tusuk sate dengan tiga pilihan sambal. Yakni sambal “pedas banget”, “pedas aja”, dan “pedas madu”.

Tidak hanya menjual, sate Konicipi juga menjual ceker ayam, sayap ayam, dan paha dengan harga yang relatif ramah di kantong. Tersedia nasi putih bagi yang membutuhkan asupan karbohidrat. Jangan khawatir, ada pilihan lain selain nasi putih, yakni lontong dan nasi gurih.

Dengan kekhasan resep sate taichan itu, Dinda kini memiliki bisnis yang ia kendalikan sendiri. Dulu ia hanya bisa melihat, sekarang ia melakukannya. “Sebagai generasi muda seharusnya bisa memulai usaha sendiri. Jangan takut mencoba, percaya dirimu pasti bisa dan jangan menyerah. Saya yakin pasti semua bisa sukses,” ucap Dinda.

Menurutnya, jika ingin mendirikan sebuah usaha, harus memiliki pedoman percaya pada diri sendiri. Niscaya akan berbuah manis kedepannya. (*)

 

Reporter: Jessica Celia Riandani (magang), Zahra Saraswati (magang)
Editor: Eka Handriana
You might also like

Comments are closed.