Schouwburg, Tempat Hangout Noni dan Sinyo Landa

Schouwburg tahun 1930 (foto: epinzone.blogspot.com)
Schouwburg tahun 1930 (foto: epinzone.blogspot.com)

Dulu, ketika negeri ini masih dikuasai Belanda, terdapat sebuah gedung pertunjukan yang amat sering dikunjungi warga kolonial di Semarang. Gedung itu bernama Schouwburg. Letaknya tidak jauh dari Stasiun Tawang, yakni di Jalan Cenderawasih.

Schouwburg dulunya adalah lokasi hangout favorit noni dan sinyo Belanda. Di tempat ini sering dipentaskan sandiwara (tonil) oleh artis-artis dari Eropa. Pertunjukan ini berlangsung sebulan sekali.

Schouwburg tidak hanya menyediakan hiburan bagi warga kulit putih, namun juga menawarkan ruang bagi warga Belanda yang hendak bersosialisasi dengan sesama penduduk non-pribumi. Setiap pertunjukan digelar, Schouwburg hampir selalu disesaki oleh para warga Belanda. Saking tenarnya Schouwburg waktu itu, jalan di depan bangunan ini dinamakan Komidie Straat.

Gedung Schouwburg memiliki arsitektur yang unik, yakni berbentuk bulat telur. Terdapat lengkung busur dan kolom langsing dalam auditoriumnya. Gaya arsitekturnya mirip dengan arsitektur yang sedang ngetren di tahun 1800-an, meskipun hingga kini belum diketahui secara pasti tanggal dibangunnya Schouwburg.

Masa-masa kejayaan Schouwburg sebagai gedung pertunjukan hanya bertahan hingga tahun 1945. Setelah Indonesia merdeka, gedung ini difungsikan menjadi kantor Yayasan Empat Lima, di mana mantan Presiden Soeharto terlibat di dalamnya.

Sayangnya seiring berjalannya waktu bangunan ini tak kokoh lagi. Sebagian atap gedung runtuh. Kemudian pada tahun 1995, Schouwburg direkonstruksi di samping bangunan aslinya. Hanya saja, jika dulunya panggung pertunjukan menghadap ke Utara, kini panggung menghadap ke Selatan.

Agar sama seperti aslinya, plafon dan tiang-tiang dari ruang pertunjukan lama tetap dipertahankan : dipindahkan dan digunakan sebagaimana di ruang pertunjukan dulu.

Gedung ini tak lagi disebut Schouwburg, melainkan Marabunta. Marabunta adalah nama semut merah besar yang sejak dulu dijadikan simbol gedung ini. Jadi jika Anda sedang melintas Kota Lama dan melewati bangunan dengan semut merah besar di atasnya, itulah Marabunta. Lalu tengoklah tembok bata di sebelah gedung itu, yang meskipun hampir runtuh namun masih bisa kita saksikan keindahannya. Itulah Schouwburg yang sebenarnya. (ren)

You might also like

Comments are closed.