Sebuah Pertanyaan tentang Konflik dan Ending

Adegan Pada Suatu Hari karya Arifin C Noer yang dipentaskan Teater SS di Gedung B6 FBS Unnes, Minggu (10/5) malam. Foto: metrosemarang.com/anton sudibyo
Adegan Pada Suatu Hari karya Arifin C Noer yang dipentaskan Teater SS di Gedung B6 FBS Unnes, Minggu (10/5) malam. Foto: metrosemarang.com/anton sudibyo

DISKUSI di teras Gedung B6 Unnes, usai pementasan Pada Suatu Hari oleh Teater SS, Minggu (10/5) malam itu dimulai dengan kebingungan. Dalam lima menit pertama, tak ada satupun yang bersedia membuka perbincangan.

Padahal seluruh peserta diskusi adalah aktvis teater kampus Semarang. Sebagian diantaranya bahkan para senior yang biasanya aktif memancing “keriuhan”. Untuk menyebut beberapa, ada alumnus SS sendiri seperti Abdi Munif dan Rhoby Shani, ada Widyo Leksono Babahe, juga senior Teater Kaplink sekaligus jurnalis Aristya Kuver.

Moderator pun kebingungan setelah usaha memancing nama-nama itu untuk bicara tidak berhasil. Sampai akhirnya ia setengah memaksa hadirin dengan membacakan daftar hadir.

Dan berhasil. Seorang pekerja teater kampus bertanya tentang konflik dan ending. Pertanyaan yang sesungguhnya sangat mendasar dan justru menjadi jawaban mengapa diskusi bingung sejak awal.

Ya, kita mau mendiskusikan apa kalau tidak paham jalan cerita. Tidak hanya satu dua, hampir semua penonton nggak mudeng dengan apa yang SS sampaikan di atas panggung sana. Sutradara dan enam pemain yang mementaskan Pada Suatu Hari, gagal menyuguhkan pementasan yang utuh. Jelas, pesan penting naskah ini gagal disampaikan, ketika penonton saja tidak paham apa konfliknya dan bagaimana akhir ceritanya.

Keutuhan pentas bahkan sudah dipangkas sejak latihan. Sutradara mengambil keputusan memotong naskah sedemikian rupa karena beberapa pemain tidak bisa bertahan pada proses penggarapan.

Celakanya, pemotongan naskah ini pada bagian yang krusial. Pertama, mengurangi pemain dari sembilan menjadi enam. Naskah asli karya Arifin C Noer ini dimainkan oleh Nenek, Kakek, Pembantu, Nyonya Wenas, Sopir Arba, Nita, serta Novia dan dua anak-anaknya Meli dan Feri. Oleh SS, naskah hanya dimainkan oleh Nenek, Kakek, Pembantu, Nyonya Wenas, Novia, dan anaknya Feri.

Jalan cerita juga dipotong. Merujuk naskah asli, cerita bermula di sebuah rumah dimana tinggal Kakek dan Nenek yang hari itu merayakan ulang tahun pernikahan emas. Sayangnya hari bahagia itu rusak oleh kedatangan Nyonya Wenas, mantan kekasih Kakek. Nenek pun marah dan minta cerai.

Untungnya pertengkaran tidak berlanjut karena kedatangan anak mereka, Nita. Masalah di antara Kakek dan Nenek pun begitu saja padam ketika anak kedua, Novia, datang bersama dua cucu kesayangan. Novia ternyata pergi dari rumah dengan niat ingin bercerai dengan suaminya.

Di situlah masalah muncul, antara kakek, nenek, Nita, dan Novia berbeda pendapat sehingga perang argumen. Tapi betapapun hebatnya perselisisihan, mereka disatukan oleh sebuah kabar tak terduga. Meli dan Feri yang semula bermain bersama pembantu, hilang diculik.

Di saat keadaan genting dan polisi sudah dihubungi, datang telepon dari rumah Novia. Rupanya, anak-anaknya tidak diculik. Melainkan dibawa pulang oleh Vita, suami Novia.

Pada naskah asli, cerita berakhir dengan pamitnya Novia pulang ke rumah untuk menemui suami dan anak-anaknya.

Novia  : Pak, Ibu, saya permisi pulang.

Kakek  : Tanpa minta maaf? Pulanglah dan bilanglah pada suamimu besok dia harus menghadap kemari.

Novia  : Pulang dulu, bu.

Nenek  : Jangan lupa semua nasehat ibu.

Novia  : Ya, bu.

Joni      : Polisi, Nyonya.

Nita     : Sebentar, saya ke muka.

– selesai –

Benar. Oleh Arifin, ending memang dibuat seolah menggantung. Tidak dijelaskan apakah Novia dan Vita jadi cerai atau malah berbaikan. Ngapain polisi datang?Dan apakah Kakek dan Nenek kembali harmonis ataukah tetap “perang dingin” karena Nyonya Wenas.

Tapi kalau diperhatikan, keseluruhan naskah sudah struktur dramatik. Misalnya model Aristotelian yang memiliki elemen-elemen pembentuk struktur yang terdiri dari eksposisi (Introduction), komplikasi, klimaks, resolusi (falling action), dan peleraian (denoument).

Bagian introduction menceritakan keharmonisan Kakek-Nenek di perkawinan emas. Komplikasi dimulai ketika Nyonya Wenas datang, nenek ingin cerai dan bertambah naik ketika Novia datang mengabarkan perceraian. Kemudian klimaks terjadi ketika anak-anak Novia dikabarkan diculik sehingga semua panik.

Untuk peleraian, Arifin sedikit mencuri atau memasukkannya pada adegan sebelum kabar penculikan. Di situ, Kakek, Nenek, dan Vita banyak menasehati Novia tentang pentingnya kepercayaan antarpasangan sebagai fondasi langgengnya rumah tangga. Bahwa menikah bukan pekerjaan main-main dan bukan untuk dipermainkan.

Ketika Novia sudah memahami makna-makna pernikahan, muncullah kabar penculikan. Selain bisa disebut puncak konflik karena merupakan kondisi paling genting dalam cerita, bagian penculikan ini dalam struktur drama disebut juga dengan suspence atau unsur kejutan yang menambah kaya warna cerita.

Puncak konflik ini pun meluruh dengan sendirinya ketika ada kabar lanjutan bahwa anak-anak Novia tidak diculik, melainkan dibawa pulang suaminya. Maka, kelanjutan cerita setelah Novia pulang menjadi tidak penting lagi dalam konteks naskah. Justru semakin menarik bagi penikmat naskah ini untuk melanjutkan sendiri lakon Pada Suatu Hari dengan versinya masing-masing.

Sedangkan Pada Suatu Hari versi SS menghilangkan tokoh Nita, sopir Arba, dan Meli. Well, menghilangkan tiga tokoh itu mungkin masih bisa diterima. Dialog Nita yang banyak menjelaskan prinsip-prinsip berumah tangga bisa dibagi berdua antara Kakek dan Nenek. Sopir Arba yang mengantarkan Novia ke rumah orang tuanya tidak terlalu penting. Begitu pun Meli yang bisa diwakili Feri.

Tapi Dodo’ sebagai sutradara menghentikan pertunjukan tepat ketika si pembantu masuk dan membawa kabar bahwa Feri hilang. Kakek, Nenek, dan Novia kaget, ketiganya berteriak, kemudian black out, selesai.

Suara tepuk tangan penonton yang tidak serempak menandakan keraguan. Mereka yang belum pernah membaca naskah asli akan bertanya-tanya, “pertunjukan sudah selesai, atau ganti adegan?” Sedangkan yang sudah mengetahui jalan cerita terheran-heran. “Lho, kok dipotong di sini”.

Dalam diskusi, Dodo’ mengatakan, selain persoalan sumber daya manusia, keputusan memotong ending juga sebagai pancingan. Ia sengaja memotong naskah agar lakon ini diteruskan sendiri oleh penonton.  “Silahkah mencari ending sendiri, ditafsirkan sendiri,” begitu kira-kira.

Oke, menarik tawaran Dodo’. Tapi pertanyaannya, bagaimana membuat penonton tertarik meneruskan lakon itu kalau tidak tertarik pada pertunjukan. Dengan teknik keaktoran yang pas-pasan, dan penyutradaraan ala kadarnya, pertunjukan gagal menggiring penonton untuk duduk nyaman sepanjang 1,5 jam.

Tempo yang lambat, emosi datar, dan ekspresi serta mimik muka pemain terlalu tenang, bahkan pada bagian yang seharusnya membutuhkan ketegangan. Sederhananya, konflik tidak tergarap dengan baik sehingga penonton bahkan tidak sadar bahwa ada konflik.

Meminjam kata-kata Babahe pada diskusi, SS gagal menggarap Pada Suatu Hari karena, “rosone ora tekan”. Evaluasi diskusi juga sampai pada kemungkinan kurangnya observasi. Sebelum memainkan naskah ini, pemain dan sutradara harus banyak bertanya, mengamati, dan merekam kehidupan rumah tangga. Proses ini akan membantu pemain, -yang notabene mahasiswa dan belum menikah- memahami karakter tokoh beserta rasa dan emosinya.

Tanpa observasi jelas susah. Alih-alih menikah, cobaan mental dan spiritual terberat mahasiswa palingan ditinggal pacarnya menikah. Oh salah, ada yang lebih berat: baru tahap pedekate, belum pernah jadian, tapi sudah ditinggal nikah. (*)

Comments are closed.