Sebulan Jelang Ramadan, Harga Sembako Makin Melambung

Harga sembako di sejumlah pasar tradisional makin melambung, imbas kebakaran Pasar Johar. Foto: metrosemarang.com/achmad nurseha
Harga sembako di sejumlah pasar tradisional makin melambung, imbas kebakaran Pasar Johar. Foto: metrosemarang.com/achmad nurseha

SEMARANG – Sebulan menjelang Ramadan harga kebutuhan pokok di sejumlah pasar tradisional di Semarang mulai merangkak naik. Pada Sabtu (23/5) ini, kenaikan cukup signifikan terjadi pada harga sembako jenis gula pasir, gula jawa, bawang merah, dan telor.

Lonjakan harga sejumlah kebutuhan pokok ini rata-rata mulai dirasakan sejak dua atau tiga hari yang lalu. Mundurnya masa panen yang kemudian berakibat pada minimnya pasokan diduga menjadi penyebab kenaikan harga ini. Padahal dengan semakin dekatnya bulan puasa, permintaan dari pembeli justru terus meningkat.

Seperti di Pasar Mangkang, kenaikan harga paling mencolok terjadi pada bawang merah super yang mencapai Rp 3.000 – Rp 4.000 per kilo, yakni dari harga sekitar Rp 28.000 – Rp 29.000 per kilo menjadi Rp 32.000 per kilonya. Untuk bawang merah biasa mengalami kenaikan dari Rp 25.000 per kilo menjadi Rp 28.000 per kilo.

Sementara itu, kenaikan harga yang rata-rata mulai dari Rp 500 – Rp 2.5000 terjadi pada sembako jenis gula pasir yang awalnya Rp 10.000 per kilo menjadi Rp 12.500 per kilo. Kemudian gula jawa dari Rp 11.000 per kilo menjadi Rp 13.000 per kilo, dan harga telor dari Rp 19.000 menjadi Rp 19.500.

Kenaikan harga sembako ini tentu memberatkan para konsumen. Menurut pedagang sembako Mahfud (49) warga Mangkang Wetan, kenaikan harga sembako saat ini diduga tidak hanya dikarenakan tingginya permintaan konsumen menjelang puasa Ramadan, namun juga kondisi Pasar Johar yang menjadi pusat pembelanjaan di Semarang yang masih belum stabil pasca kebakaran dua pekan lalu.

“Kebanyakan pedagang Mangkang belanja sembako dari Pasar Johar. Tapi kalau gula pasir dan jawa kenaikannya murni dari sales,” terang Mahfud kepada metrosemarang.com.

Minimnya pasokan tersebut, memaksa para pedagang harus kulakan dari luar Semarang. Akibatnya, ongkos produksi juga meningkat. (ans)

 

 

 

You might also like

Comments are closed.