Sebutan ‘Kupat Jembut’ Ternyata Ada Kaitannya dengan ‘Petrus’

METROSEMARANG.COM – Tradisi Syawalan dikenali oleh masyarakat Jawa Tengah sebagai rangkaian dari tradisi keagamaan karena pelaksanaannya dilakukan seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri. Di Kampung Jaten Cilik, Kecamatan Pedurungan, Semarang ada tradisi ‘Kupat Jembut’ yang menjadi rangkaian perayaan Syawalan.

Anak-anak berebut uang saat perayaan Syawalan di Kampung Jaten Cilik, Minggu (2/7) pagi. Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi

Kupat atau ketupat di sini punya keunikan dibanding ketupat pada umumnya. Di bagian tengah ada belahan yang diisi dengan sayuran. Konon, penyebutan Kupat Jembut sangat lekat dengan era penembakan misterius (Petrus) di awal 80-an.

Prosesi berebut ketupat ini dilaksanakan kurang lebih dua jam. Dimana setiap keluarga mengeluarkan ketupat untuk dibagikan kepada anak-anak. Prosesi berakhir sekitar pukul 06.30, kemudian anak-anak kembali ke rumah masing masing.

“Biasanya tuh dulu kan isinya taoge atau kecambah. Soalnya pada saat awal adanya tradisi itu warga sini hanya mempunyai kacang ijo yang kemudian dibuat taoge sendiri sebagai isian ketupat untuk merayakan Syawal,” kata Munawir, imam masjid setempat, Minggu (2/7).

Tradisi Kupat Jembut ini sudah ada sejak tahun 50-an. Waktu itu diinisiasi oleh Nyai Sutimah dan Kyai Samin warga asli Demak. Mereka merupakan satu dari lima keluarga pertama yang menduduki Kampung Jaten Cilik. Awal kedatangan mereka yakni untuk mengungsi karena pada saat itu keamanan sedang tindak kondusif akibat kedatangan tentara Sekutu.

Atas dasar kesederhanaan, mereka merayakan Syawalan dengan membuat ketupat yang sedikit berbeda dengan memanfaatkan bahan yang dimiliki. Pada awal tradisi dulu, ketupat yang mereka buat kemudian dibelah tengah, lalu diisikan dengan taoge.

Perayaan dimulai di pagi hari setelah salat subuh. Saat matahari belum terbit setiap rumah membagikan ketupat tersebut kepada anak-anak di Kampung Jaten Cilik.

“Ya selain memang untuk merayakan Syawalan, dulu tujuannya memang untuk menyenangkan anak-anak dan sampai sekarang juga begitu,” tambah Munawir.

Awalnya nama Kupat Jembut tidak terbesit oleh warga asli Jaten Cilik. Nama tersebut didapat sekitar tahun 80-an saat gencar-gencarnya operasi rahasia gangguan kamtib yang dilakukan pada masa pemerintaham Soeharto yang dikenal dengan sebutan Petrus.

Saat itu ada beberapa target operasi yang bersembunyi dan singgah di Kampung Jaten Cilik, bahkan ikut merayakan Syawalan di kampung tersebut.

“Ya mungkin karena bentuknya yang agak mirip-mirip itu (rambut) jadi mereka ngasih nama Kupat Jembut tersebut. Waktu itu mayoritas yang muda-muda pada nerima nama tersebut,” beber Munawir.

Hingga kini nama itu masih digunakan dalam tradisi tersebut. Namun seiring perkembangannya zaman, kini bentuk Kupat Jembut mulai dimodifikasi.

“Masih sama bentuknya, namun isiannya berbeda. Sejak tahun 2000-an mulai pada diisi uang, itu juga membuat perayaan tambah meriah, anak-anak jadi seneng berebut, ramai,” tambah Munawir.

Tradisi Kupat Jembut masih dipertahankan di Kampung Jaten Cilik saat perayaan Syawalan. Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi

Sejak saat itu warga mulai mengganti isian ketupat dengan pecahan uang Rp 1.000 hingga Rp 5.000. Menurut Munawir, pada sekitar tahun 1973, isian ketupat juga pernah diganti dengan mercon (petasan).

“Ya karena waktu itu kan lagi tren mercon kali ya, soalnya laki perempuan sama-sama suka mercon semua, jadi diganti mercon. Tapi itu cuman beberapa tahun tok, sekitar tahun 80-an kembali ke kupat lagi sampai sekarang,” ujar Munawir yang juga merupakan cucu dari Kyai Samin.

Kini tradisi tersebut masih terus dipertahankan. Bahkan dari yang semula lima keluarga, Kampung Jaten Cilik makin berkembang hingga berpenduduk lebih dari 150 kepala keluarga dan semuamya turut merayakan Syawalan.

Salah seorang anak yang mengikuti tradisi Kupat Jembut, Isna Musofia mengaku senang bisa ikutan berebut ketupat di pagi hari. Ia bahkan rela bangun lebih awal demi mengikuti rebutan ketupat yang kebanyakan berisikan uang ini.

“Ini dapet Rp 41.500 Mas, seneng bisa berebut. bisa ketemu sama temen-temen. Besuk rencana mau saya buat beli alat tulis buat sekolah,” tukasnya. (fen)

You might also like

Comments are closed.