Sejarah Malam Minggu : dari Motif Religius ke Ekonomi

Sejarah malam minggu adalah sejarah pergeseran dari motif religius menjadi motif ekonomi.

SEJARAH MALAM MINGGU. Bukan berasal dari Yahudi. Malam minggu punya sejarah panjang, dari motivasi religius sampai ekonomi.
SEJARAH MALAM MINGGU. Bukan berasal dari Yahudi. Malam minggu punya sejarah panjang, dari motivasi religius sampai ekonomi.

Malam Minggu atau Sabtu Malam?

“Bagi yang punya pacar, malam Minggu. Bagi yang tidak punya pacar, Sabtu malam.” Kalimat ini banyak beredar di Facebook dan Twitter. Pada dasarnya, malam Minggu atau Sabtu malam, berawal dari dorongan sederhana: memanfaatkan waktu bebas. Sebut saja akhir-pekan (weekend).

Motif religius ini bergeser menjadi produktivitas kerja yang membawa Amerika memasuki revolusi industri. Motif pendidikan dan keluarga, membuat malam Minggu mengalami pergeseran, tepatnya setelah kebudayaan mal di perkotaan memberikan banyak tawaran hiburan.

Malam Minggu: Sejarah Gerakan Buruh

Mengapa ada Malam Minggu terjadi?

Sejarahnya berasal dari gerakan kaum buruh dan desakan orang-orang Yahudi untuk beribadah di hari Sabtu. Jadi, tidak tepat kalau disebut budaya malam Minggu itu hanya berasal dari orang Yahudi.

Sulit dibayangkan, hidup tanpa berakhir-pekan (weekend). Istilah “weekend” baru dikenal setelah tahun 1879, saat Amerika memasuki revolusi industri. Para pekerja Yahudi di Amerika membutuhkan waktu khusus untuk beribadah di hari Sabbath, hari Sabtu. Weekend terjadi dalam sejarah karena perjuangan buruh pabrik, agar mereka mendapatkan satu hari (satu siang) untuk beristirahat.

Perusahaan pertama yang mengadopsi lima-hari kerja adalah Spinning Mill tahun 1908, untuk mengakomodasi permintaan para pekerja Yahudi yang ingin beribadah di hari Sabtu, sedangkan pada hari Minggu orang tetap pergi ke Gereja.

Henry Ford, pendiri perusahaan mobil Ford, meskipun membenci serikat pekerja, memberikan libur dua hari dalam seminggu pada tahun 1900. Tahun 1938 Amerika memberlakukan 40 jam bekerja dalam seminggu, dengan hitungan 5 hari x 8 jam. Produktivitas Ford dan industri di Amerika ternyata meningkat.

dari Motif Religius ke Ekonomi

Motif tuntutan para buruh Amerika yang biasa bekerja 8 jam sehari, untuk meminta Sabtu libur, tidak sekadar motif religius.

Michael Feldberg menyebutkan, tuntutan mendapatkan akhir-pekan itu terkait dengan hak memiliki waktu bersama keluarga dan hak untuk melanjutkan pendidikan. Banyak orang ingin melanjutkan pendidikan, persamaan, meraih ijazah, dengan cara memanfaatkan akhir-pekan. Bayangkan, apa yang terjadi jika akhir-pekan tidak terjadi. Orang tidak bisa menempuh pendidikan persamaan.

Sampai sekarang, tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Singapura dan Hongkong, banyak yang menempuh pendidikan untuk mendapatkan ijazah persamaan setara sarjana, karena kebaikan majikan yang membolehkan mereka sekolah Sabtu dan Minggu.

Ada pula kepentingan bekerja paruh-waktu menambah uang saku, misalnya bermain musik. Negara Amerika sampai sekarang masih menganggap pekerjaan sebagai bartender, termasuk mencuci piring, adalah pekerjaan sampingan (part-time job) yang bisa menambah uang saku, sampai membantu biaya pendidikan mereka.

Pemusik Carlos Santana adalah satu contoh pemusik sukses yang dulu bekerja mencuci piring di akhir-pekan. Orang bisa membicarakan hal-hal tertunda, mengadakan acara makan bersama, pergi ke luar kota, bermain atau menonton musik, pergi wisata bersama keluarga, berkunjung ke tempat saudara, dll.

Masyarakat secara global keluar rumah dan menikmati kebersamaan di luar untuk aktivitas mengkonsumsi.

Malam Minggu sebagai Gaya Hidup dan Motif Konsumsi

Sekarang dunia sudah ramai. Mal ada di mana-mana. Memenuhi “leisure” (waktu bebas) menjadi pereda ketegangan dari rima keseharian. Kota dengan tensi yang selalu menaik, cuaca tak terkendali, serta kejenuhan mengkonsumsi berita politik, membuat malam Minggu menjadi ruang bebas untuk melepas kepenatan.

Mal sudah menawarkan “kebahagiaan” dan “keselamatan” dengan tawaran iklan-iklan yang menjanjikan “dunia dalam genggaman”, “pembersih kuman terbaik”, dll. Tidak mengherankan jika akhir Minggu menjadi perayaan untuk menikmati waktu, bersama keluarga, atau sekadar cuci mata mencari kimcil di jalan.

Apa yang Anda lakukan di malam Minggu? \m/

Day Milovich,,
Penulis, artworker, webmaster, tinggal di Semarang.

You might also like

Comments are closed.