Sejumput Semangat Kopi Giling Keliling

Sutomo, Berdagang Sejak 1975

Menginjak paruh kedua dekade 2000-an, kopi mentah mulai sulit dicari di pasaran. Jika adapun, harganya mahal

kopi semarang
Sutomo, pedagang kopi keliling Semarang. (foto: metrosemarang/Efendi)

SESENDOK makan penuh bubuk kopi hitam dicampur dengan dua setengah sendok makan gula pasir dalam gelas besar. Air panas yang baru saja dijerang, dituangkan. Segera setelah diaduk, sebagian ampas kopi yang kasar akan menyembul ke atas bersama warna putih keruh, juga uap kopi.

Sutomo menjadikan warna putih keruh itu sebagai penanda bahan minumannya adalah biji kopi murni, bukan campuran. Biasanya seduhan kopi manis nan kental itu akan menemani Sutomo menonton siaran televisi pagi, setelah ia sembahyang Subuh.

“Kopi Robusta. Saya sukanya Robusta,” Sutomo menyebut jenis kopi yang ia sesap. Ia hanya menonton televisi sebentar saja, sebab sudah ditunggu pelanggan kopi dagangannya. Pukul 05.30, Sutomo siap berjualan keliling.

Jenis kopi kesukaannya itulah yang ia antar kepada pelanggan lama dan ia jajakan kepada pembeli baru yang mungkin akan ditemui di jalan. Mereka ada di kampung-kampung dan pasar-pasar tradisional Kota Semarang, hingga warung-warung di sepanjang jalan yang dilewati Sutomo dengan sepeda.

“Kebanyakan pelanggan saya ada di rumah-rumah. Orangnya tua-tua. Yang suka kopi gilingan kasar seperti ini biasanya memang orang tua-tua,” kata Sutomo.

Dari rumahnya di Jalan Kakap, Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara, ia akan melewati Jalan Petek, Jalan Dorang, Kampung Sleko, Kawasan Pasar Johar, Tireman, Kauman, Kranggan, Plampitan, Kawasan Simpanglima, Stadion Diponegoro, Kawasan Mataram, Pasar Prembaen di Jalan Depok, sampai Jalan Gendingan.

Gilingan kopi portable dikaitkan di belakang sadel sepeda. Kebanyakan para pelanggan meminta kopi bubuk yang digiling mendadak di tempat. “Mereka mau tahu, kalau kopinya asli dari biji, tanpa campuran,” ujar Sutomo.

Gilingan kuno buatan perusahaan Inggris, Sponge & Co Ltd, itu dioperasikan dengan tangan. Ada tuas putar tangan di depan corong. Sutomo membuat pelat pelindung tambahan, supaya bubuk kopi hasil penggilingan tidak kabur kemana-mana.

Pada bagian luar pelat pelindung, Sutomo menuliskan “KOPI PAK TOMO 081329255694”. Sebuah reklame sederhana namun sepertinya efektif. Di pemberhentian pintu kereta, orang-orang akan melihat tulisan itu. Mereka yang berkendara di belakang sepeda Sutomo juga berpeluang meliriknya, menyimpan nomor telefonnya dan menghubunginya ketika ingin beli kopi.

 

Walaupun belum sarapan, tapi kalau sudah ngopi dari rumah, badan terasa sehat.

– Sutomo, Pedagang Kopi Giling Keliling –

 

Sejak 1975

Pemasangan reklame nomor telefon itu belum lama dilakukan Sutomo. Ia tak ingat persis waktunya, tapi ia mengira-ira sekitar tiga tahun belakangan. Sepeda pun tidak sejak awal digunakan Sutomo. Ketika memulai berdagang kopi giling pada 1975, Sutomo berkeliling dengan berjalan kaki. Biji kopi dan alat giling ia pikul.

Baru pada tahun 2000-an, Sutomo mendatangkan sebuah sepeda dari Tegal. “Sepedanya saya bawa naik bus,” ungkapnya.

Tegal adalah tempat asalnya. Enam puluh satu tahun lalu, Sutomo adalah bayi lelaki yang lahir di Kabupaten Tegal. Sejak orang tua meninggal, Sutomo mencari penghidupan sendiri. “Tahun 1975 itu saya sudah besar, pergilah saya ke Semarang,” kisahnya.

Tempat pertama yang dituju Sutomo saat menginjakkan kaki di Semarang adalah kawasan Dadapsari. Kampung yang ia tinggali hingga kini itu, dulu disebut Kampung Darat. Sampai sekarang, sebagian orang masih menyebutnya demikian.

Itu adalah kampung tempat berdiri pondok pesantren asuhan Kiai Haji Muhammad Sholeh bin Umar As-Samarani, lebih dikenal dengan Kyai Sholeh Darat. Pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Ash’ari, pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan adalah alumni pondok pesantren tersebut.

Pun dengan Sutomo. Pesantren Kyai Sholeh Darat adalah jujugannya saat itu. “Saya nyantri di sana. Orang baru ya nyantrilah,” kata Sutomo.

Waktu itu pondok pesantren diurus oleh cucu Kyai Sholeh, Ali Kholil. Dari Ali Kholil inilah, Sutomo mengenal kopi lebih dalam. Menurut Sutomo, pada masa itu Ali Kholil memiliki bermacam jenis biji kopi mentah berkualitas bagus.

Sutomo belajar jenis kopi. Ia hafal karakter dua jenis kopi, arabika dan robusta. “Kalau arabika itu agak manis, tapi lebih asam. Kalau robusta, lebih pahit tapi tidak asam,” begitu penjelasan singkat Sutomo

Di tempat Ali Kholil, Sutomo belajar cara menyangrai biji kopi, menggiling kopi, hingga menjualnya secara berkeliling. Sampai pada akhirnya ia bisa membeli gilingan kopi sendiri. “Cari gilingan bekas, yang masih bagus gigi-giginya. Yang bunyinya masih keras. Buatan England, biasanya bagus,” kata dia.

Sepeninggal Ali Kholil, Sutomo berpindah tempat tinggal, tak jauh dari pondok Kiai Sholeh Darat. Ia menyewa rumah papan di tempat yang sekarang berjuluk Jalan Kakap. “Dulu di sini rumahnya papan kayu semua,” kenang Sutomo.

Ia tetap berdagang kopi keliling, namun tak lagi mendapatkan kopi mentah dari tempat Ali Kholil. Sebab, tak ada yang meneruskan usaha Ali Kholil. Sutomo membeli kopi mentah dari pedagang di Pasar Pedamaran. Pilihan lain adalah membeli dari toko-toko di Kampung Menyanan.

kopi semarang
Kopi Sutomo digiling dadakan seketika ada pemesan. (foto: metrosemarang/Efendi)

 

Lain Dulu Lain Sekarang

Sutomo tak sendiri. Ada sekitar 50 orang asal Tegal yang bermatapencaharian sama dengannya, menjajakan kopi giling dengan cara berkeliling. Mereka tinggal di sekitar tempat Sutomo.

“Dulu waktu jaya-jayanya kopi, banyak orang di sini yang jualan kopi,” katanya. Seluruh pedagang menyangrai sendiri bakal dagangannya. Jika pesanan banyak, sebagian kopi sangrai digiling dulu di rumah malam hari. Pagi hari barulah dibawa keliling bersama kopi yang belum digiling.

Pada tahun 1980-an, penjualan kopi giling keliling terbilang bagus. Sutomo biasa membawa dua kaleng kotak, masing-masing berisi tujuh kilogram biji kopi sangrai. Keduanya akan kosong dalam sehari.

“Dulu kopi laris. Sampai kemeng (pegal –red) kaki dan tangan. Karena jalan kaki, tangan juga muter gilingan terus. Asal jaga kwaliteit (kualitas-red), pasti dapat untung banyak,” ungkap Sutomo.

Ia permudah gambaran larisnya kopi giling pada masa itu dengan hitungan ini; setiap hari untung penjualan kopi Sutomo beroleh satu gram emas. “Setiap dua bulan, bisa beli kerbau satu. Saya kan orang pertanian (punya sawah – red), jadi bagus kalau punya kerbau di desa,” kata Sutomo.

Ia mengenang betapa murah dan mudah mendapatkan kopi mentah di pasar-pasar di Semarang. Keuntungan bersihnya bisa jauh lebih besar dari modal yang dipakai untuk membeli kopi mentah. “Tahun 2000 sampai 2005 itu puncak jaya-jayanya kopi. Saya bisa bangun rumah ini, alhamdulillah kuat beli,” cerita Sutomo.

Rumah yang diceritakan itu adalah rumah papan di Jalan Kakap 160 yang ia tempati pascapindah dari tempat Ali Kholil. Rumah itu ditempati Sutomo hingga sekarang.

Tapi lain dulu, lain sekarang. Menginjak paruh kedua dekade 2000-an, kopi mentah mulai sulit dicari di pasaran. Jika adapun, harganya mahal dan bukan biji kopi mentah, melainkan telah disangrai. Padahal jika bisa dapat kopi mentah dan menyangrainya sendiri, untungnya jauh lebih besar.

“Sekarang perkebunan kopi ditebas bos-bos pabrik,” begitu kabar yang didengar Sutomo. “Di pasar-pasar nggak ada lagi kopi mentah,” lanjutnya.

Kesulitan mendapat kopi mentah itu berlangsung hingga sekarang. Biji kopi sangraipun masih tetap mahal. Di Menyanan, ia mendapati harga Rp 60 ribu per kilogram biji kopi robusta sangrai. Di Pedamaran, harganya jauh lebih murah, Rp 48 ribu per kilogram.

Tapi harga tersebut tak begitu menguntungkan bagi Sutomo. Dengan harga itu, dalam sehari keuntungan Sutomo tak lebih dari Rp 50 ribu hingga Rp 75 ribu. Bisa saja ia mendapat untung Rp 100 ribu, itu jika sedang ramai-ramainya pesanan.

“Sebetulnya cukup untuk keperluan sehari-hari. Tapi kalau untuk nyelengi (menabung – red) seperti dulu, itu sulit,” kata Sutomo.

Sutomo bilang, ia pernah berpikir untuk berhenti saja, tak lagi berjualan kopi giling keliling. Satu per satu kawannya juga sudah berhenti. “Beberapa tahun lalu banyak yang bangkrut. Aku wae meh metu, wis males (saya saja mau berhenti, sudah malas),” katanya.

Tapi ia tetap berjualan karena tak tahu lagi pekerjaan lain yang bisa dikerjakan. Di sisi lain, ia harus menghidupi istri dan seorang anaknya yang bersekolah.

Sampai suatu hari, saat berjualan, Sutomo dihampiri seorang perempuan yang turun dari mobil. “Dia panggil-panggil saya. Menawarkan biji kopi. Harganya lumayan murah, Rp 46 ribu sudah disangrai. Praktis,” kata Sutomo.

Perempuan itu adalah seorang penjual dari pabrik biji kopi sangrai yang ada di Tangerang. Hingga sekarang, Sutomo dipasok oleh perusahaan tersebut. Penjual kopi yang berganti-ganti, namun berasal dari perusahaan yang sama, mendatangi rumah Sutomo setiap dua pekan.

Tiap penjual datang, Sutomo membeli 20 bungkus biji kopi robusta sangrai. Setiap bungkus berisi setengah kilogram biji kopi siap giling. Biji kopi sebanyak itu, bakal habis dikelilingkan Sutomo dalam dua pekan.

Tidak banyak pedagang kopi giling keliling seperti Sutomo yang bisa ditemui kini. Sejauh pengenalan Sutomo, tinggal empat orang saja yang masih berjualan kopi keliling di Semarang. Kawan-kawannya sudah banyak yang kembali ke Tegal, sisanya sudah berganti pekerjaan.

Sutomo mengenal kawasan lain yang ditempati para pedagang kopi keliling asal Kebumen. “Tapi di sana juga sudah tidak ada lagi yang keliling,” katanya.

 

Semangat Sutomo

Sebelum menyajikan cerita ini, kami mengunggah foto Sutomo pada akun Instagram @metrosemarang. Sejumlah orang meninggalkan komentar di sana. Beberapa menyebut, pernah melihat Sutomo, pernah membeli kopi Sutomo, bahkan mengenal Sutomo.

Sutomo bilang, jika orang banyak mengenalnya, itu karena ia menjaga kualitas kemurnian kopinya. “Sekarang saya punya bel (telefon-red), banyak yang ngebel. Mereka cari kopi asli. Akhir-akhir ini, kopi seperti naik lagi. Aku dadi sregep (saya jadi rajin – red), tiap hari jualan,” tuturnya.

Setelah merampungkan rute keliling pagi hari, Sutomo akan kembali sampai di rumah sekitar pukul 10.00. Sore hari, ia akan berkeliling lagi melewati rute yang sama. Terkadang mampir ke warung-warung yang membeli kopinya saat pagi, untuk mengambil uang pembayaran.

Pukul 18.00, biasanya Sutomo sudah berada di rumah. Ia akan beristirahat sebentar sebelum melayani pembeli malam yang datang ke rumahnya. “Kalau malam banyak yang beli ke sini. Dari mana-mana, ada yang dari Mataram, ada yang dari Tanah Mas,” katanya.

Setelah semua kelar, Sutomo akan menyiapkan dagangan untuk dikelilingkan pagi hari. Dua kaleng kotak bertulis “KOPI BIJI MURNI” disematkan di sisi kanan sepeda. Biji kopi robusta sangrai siap giling memenuhi satu kotak. Kotak satunya, yang dahulu juga diisi dengan kopi, kini diisi wadah bundar penadah bubuk kopi usai giling, plastik pembungkus, dan peralatan lain.

Esok, Sutomo akan menjalani rutinitasnya lagi. Bangun kala subuh, menjerang air, dan membuat kopi. “Kalau saya ya harus ngopi. Kalau tidak minum kopi lemas, tidak semangat. Walaupun belum sarapan, tapi kalau sudah ngopi dari rumah, badan terasa sehat,” pungkas Sutomo.

Tim Metrosemarang: Eka Handriana, Efendi, Daniel Bohang (magang)
Editor: Eka Handriana

 

You might also like

Leave A Reply