Sekolah Gratis Untuk Anak Jalanan di Tepi Kali Semarang

PERAYAAN Hari Pendidikan Nasional tepat pada hari ini, Rabu (2/5), tak hanya dirasakan semua siswa sekolah di Jawa Tengah. Sejumlah anak jalanan yang tinggal di tepi Kali Semarang pun ikut memeriahkan peringatan tersebut.

Berada di gang-gang sempit nan kumuh di Kampung Sumeneban, Semarang, ada banyak anak jalanan selama ini mengenyam pendidikan informal yang diberikan oleh Komunitas Harapan (Komhar). Terdapat setidaknya 10 relawan yang mengajar anak-anak jalanan di lokasi tersebut.

komunitas harapan
Sunarsi saat berada di rumahnya yang dipakai sebagai sekolah informal Komhar. (foto: metrojateng.com/Fariz Fardianto)

“Ada tiga anak putus sekolah dan tiga bocah pengemis yang sekolah di sini. Setiap Kamis mereka ngaji bareng tapi kalau Jumat dan Sabtu mereka baru sekolah,” kata Sunarsi, pengelola sekolah informal Komhar.

Sunarsi bilang sekolahnya sudah berdiri sejak lima tahun lalu. Bersama mendiang suaminya, Agung Setiyabudi, ia menyulap rumahnya yang sederhana menjadi sebuah sekolah lengkap dengan ragam buku bacaan.

Kala itu, suaminya terenyuh melihat kehidupan anak jalanan yang banyak tinggal di kampungnya. Mereka kerap bersinggungan dengan lingkungan Pasar Johar yang dikenal keras dan bercampur dengan para preman.

Kemudian, lambat laun ada 10 anak yang diajak belajar baca tulis di rumahnya. “Semula dikira memanfaatkan anak-anak jalanan. Tapi dengan semangat yang tinggi, akhirnya sekolah Komunitas Harapan ini berdiri untuk memberikan pendidikan gratis bagi anak jalanan,” ujar perempuan 38 tahun tersebut.

Pergulatan memberikan pendidikan gratis tak sampai di situ saja. Kaki mendiang suaminya yang terpaksa diamputasi membuat sekolah informal itu nyaris ditutup. “Sempat ditentang keluarga tapi tetap nekat berjalan sampai sekarang. Sebab, kami punya niat kuat supaya anak jalanan yang ada di kampung ini mendapat pendidikan layak,” akunya.

Harapan itu, menurutnya kini mulai membuahkan hasil dengan adanya pemberian beasiswa bagi enam orang muridnya dari Hoshiz Hora Foundation. Bantuan sumbangan ragam buku bacaan, kartun sampai buku agama kini mengalir deras ke sekolahnya.

Tidak hanya mempelajari baca, tulis dan hitung. Mereka diberi keterampilan menari, bernyanyi hingga bekal kemampuan olah kerajinan tangan. Lambat-laun mereka kerap diundang ke berbagai acara untuk tampil di depan publik.

“Dari semula dianggap terpinggirkan. Rasa percaya anak-anak jalanan sudah cukup baik. Mereka pintar menari dan bisa menghasilkan kerajinan tangan dari bahan baku daur ulang,” tutur wanita asli Klaten itu.

Menginjak tahun kelima, Komunitas Harapan memiliki 30 murid. Ia ingin mempertahankan pola pembelajaran informal sesuai wasiat terakhir sang suami. Ia mengenang suaminya selalu berpesan bahwa setiap anak harus mampu mengenyam pendidikan setinggi mungkin, belajar sopan santun, berlaku jujur dan bertanggung jawab.

“Mas Agung kepengen anak-anak jangan sampai seperti dirinya. Setiap anak berhak bersekolah agar pandai,” terang ibu dua anak ini. (Fariz Fardianto)

Mendiang Agung Setiyabudi, saat mengajar anak jalanan di sekolah informal Komhar. (foto: dokumen komunitas harapan)