Selayang Pandang Gambang Semarang

Pentas Gambang Semarang (foto: GSAC)
Pentas Gambang Semarang (foto: GSAC)

Ketika kalian naik kereta api dan turun di Stasiun Tawang, disambutlah dengan sebuah nada yang sangat familiar, apakah nada itu? Yap benar! Itulah sepenggal nada dari lagu Empat Penari yang biasanya mengiringi kesenian Gambang Semarang. Lantas, bagaimana sejarah Gambang Semarang itu sendiri?

Munculnya musik Gambang Semarang merupakan inisiatif Lie Hoo Soen, politikus Semarang yang pernah menjadi anggota Volksraad, parlemen pada masa Hindia Belanda. Dia menyampaikan gagasan perlu membentuk kesenian khas Semarang saat menjabat sebagai Gemeenteraad atau Dewan Perwakilan Kota Semarang. Gagasan itu diterima Boissevain, Burgemeester (Walikota) Semarang kala itu yang kemudian merekomendasikan pembelian alat musik Gambang Kromong di Jakarta. Pentas pertama dilakukan pada 1932. Kesenian ini memadukan unsur musik vokal, tari, dan lawak.

Dalam perjalanannya, Gambang Semarang hanya bertahan 10 tahun. Pementasan terakhir kelompok Gambang Semarang pada 1942 di Magelang. Saat itu Gambang Semarang pentas di pasar malam Magelang, tapi para pemain bubar meninggalkan alat musik akibat ada serangan udara Jepang. Kelompok Gambang Semarang besutan Lie Hoo Soen ini pun menghilang tanpa diketahui rimbanya, besar kemungkinan menjadi korban dari pendudukan Jepang selama kurun waktu 1942-1945. Gambang Semarang sempat muncul kembali pada 1960-1970 lewat acara resmi maupun pameran yang digelar pemerintah. Namun, musik ini kembali redup pada 1980-an.

Pada tahun 2012 kesenian Gambang Semarang dicoba untuk dihidupkan kembali. Adalah Gambang Semarang Art Company (GSAC) yang kembali mengembalikan kesenian Gambang Semarang ke dalam format aslinya, yakni perpaduan antara Gamelan Jawa dan juga alat musik Tionghoa. Selain itu, penampilan GSAC juga kembali memunculkan kesenian Gambang Semarang yang terdiri dari lawak, tari dan tentu saja permainan musik. (Komunitas Lopen Semarang)

 

“Kunjungi juga laman Facebook Komunitas Lopen Semarang, salah satu komunitas pecinta sejarah di kota Semarang. Sapa juga mereka lewat akun Twitter @lopenSMG.”

 

You might also like

Comments are closed.