Semangat Pertempuran Lima Hari Harus Menginspirasi Warga Semarang

METROSEMARANG.COM – Suara dentuman meriam mengawali upacara peringatan Pertempuran Lima Hari Semarang di Kawasan Tugu Muda, Sabtu (14/10) malam. Ratusan warga antusias menunggu penampilan teatrikal tentang perempuran antara tentara Jepang dengan pasukan Indonesia di masa lampau itu.

Suasana peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang, Sabtu (14/10) malam. Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi

Teatrikal tersebut diawali dengan pembacaan cuplikan sejarah oleh Sukirno yang juga merupakan sutradara dari drama yang ditampilkan. Kemudian dilanjutkan dengan penampilan teater yang diperankan oleh sekitar 224 pemain.

“Jadi dalam cerita yang dimainkan ini merupakan upaya pasukan Indonesia dalam melucuti senjata milik Jepang yang tidak semuanya mau, sehingga Indonesia merebut senjata itu dengan paksa. Tentara Jepang menolak dan melakukan pembakaran di sejumlah titik di wilayah Semarang,” ujar Sukirno.

Sukirno berkisah, saat itu juga beredar kabar bahwa sumber air yang menjadi konsumsi masyarakat diracun oleh tentara Jepang. Namun saat Dokter Kariadi hendak menuju lokasi yang ada di Siranda, ia tewas terbunuh tentara Jepang.

“Sehingga masyarakat Indonesia ini marah dan terjadilah pertempuran tersebut yang hingga kini diperingati sebagai Pertempuran Lima Hari Semarang,” imbuh Sukirno.

Semenara Wali Kota Hendrar Prihadi atau Hendi mengatakan peringatan ini harus menjadi contoh bagi masyarakat Semarang khususnya. Ia berharap masyarakat juga bisa memaknai semangat yang ada pada warga Semarang saat melawan Tentara Jepang.

“Kita lihat, kita maknai begitu luar biasa dengan semangat para warga Semarang pada saat itu. Jadi bagaimana semangat yang dulu ada pada pahlawan itu untuk mempertahankan kemerdekaan di Kota Semarang bisa kemudian ada di dalam diri masing-masing warga Semarang, terutama dalam bersama-sama mewujudkan Semarang yang lebih baik dan lebih hebat,” tukas Hendi. (fen)

You might also like

Comments are closed.