Semarang Belajar dari Jepang untuk Kelola Sampah jadi Listrik

METROSEMARANG.COM – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang baru saja belajar pengelolaan sampah ke Jepang. Di Negeri Sakura itu mereka selama 6 hari belajar pengelolaan sampah menjadi energi listrik tanpa menimbulkan pencemaran lingkungan sama sekali.

TPA Jatibarang. Kota Semarang akan mengadopsi pengelolaan listrik tenaga sampah (PLTSa) dari Jepang. Foto: metrosemarang.com/dok

Kepala DLH Kota Semarang Gunawan Saptogiri menerangkan, pihaknya diundang Pemerintah Jepang untuk mengikuti pelatihan atau training masalah pengelolaan sampah melalui PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah). Pihaknya belajar bagaimana pengelolaan sampah dengan membakarnya sehingga menghasilkan energi listrik.

”Jadi sebetulnya, kekhawatiran yang disampaikan pecinta lingkungan hidup akan ada pencemaran dan lain sebagainya, ternyata setelah belajar di Jepang kekhawatiran itu tidak ada. Di sana sangat ramah lingkungan, sehingga jika teknologi ini diterapkan di Kota Semarang sangat bagus,” katanya, Rabu (15/3).

Di sana sampah bisa dibakar kemudian menghasilkan energi listrik. Kemudian asap yang ditimbulkan juga tidak mencemari lingkungan. Residu yang dihasilkan bahkan bisa menjadi bahan untuk campuran semen dan dibikin paving blok.

Garis besar teknologi PLTSa di Jepang ini, yaitu sampah dibakar dengan suhu sekitar 800 derajat celsius. Kemudian akan menghasilkan uap yang masuk ke filter dan kemudian ke trbuin untuk menggerakan mesin sehingga menghasilkan energi listrik. ”Prosesnya secara teknologi begitu. Kalau detailnya panjang sekali,” ujarnya.

Di Indonesian dan juga di Semarang, kata dia, pembakaran sampah menjadi listrik ini dikhawatirkan masyarakat akan menimbulkan masalah asap atau polusi udara dan residu. Tapi terbukti di Jepang ternyata pembakaran sampah hingga mencapai 1.000 ton per hari saja bisa dilakukan tanpa mencemari lingkungan.

”Bagus sekali tidak ada masalah. Justru Jepang menerapkan standar di bawah peraturan. Jadi misalnya baku mutunya 0,8, mereka tidak 0,8 tapi 0,2, sehingga sangat-sangat aman tidak mencemari,” tegasnya.

Termasuk residunya yang dikhawatirkan ada dioksin ternyata tidak ada, hal ini sudah diteliti. Dan itu juga akan selalu dimonitor terus untuk menjamin tidak ada dampak pencemaran. Teknologi PLTSa di Jepang ini, menurutnya bisa diterapkan di Kota Semarang. Melalui Perpres 8 Tahun 2016 ada 7 kota besar termasuk Kota Semarang diminta membuat PLTSa.

Perpres ini memang dianulir oleh Mahkamah Agung karena ada kehawatiran dari pecinta lingkungan akan adanya pencemaran lingkungan. Tapi menurutnya akan muncul regulasi baru pemerintah pusat untuk melanjutkan program PLTSa ini. Pihaknya mengharapkan regulasi baru ini bisa segera keluar sehingga Semarang bisa mengadopsi teknologi Jepang.

”Kita rencanakan seizin wali kota dan wakil wali kota bulan April mau mengadakan market sounding, kan kita sudah FSnya. Setelah itu bisa dilelangkan (pembangunan PLTsa) sambil menunggu regulasi yang baru,” ujarnya.

Teknologi ini diyakini bisa mengurangi sampah yang ada di Semarang. Sebab misalnya di Semarang menghasilkan 1.000 ton pun semua bisa dibakar untuk digunakan sebagai energi listrik. Dari 1.000 ton sampah bisa menghasilkan energi listrik sekitar 15 mega watt.

Dia menambahkan, setelah belajar ke Jepang bulan depan juga akan belajar di Denmark. Dan besok di Palembang juga akan belajar pengelolaan sampah dengan teknologi dari Korea. Tujuannya untuk mencari perbandingan.

Sebab untuk mewujudkan PLTSa ini kebutuhan anggarannya tergantung penggunaan teknologi. Kalau tekologi Jepang diakui sangat mahal tapi teknologinya sangat bagus, tidak merusak lingkungan sama sekali. Teknologi Jepang ini membutuhkan anggaran sekitar Rp 2- 5 triliun utuk satu PLTSa. ”Di Jepang satu Kota Tokyo ada 21 PLTSa. Tapi untuk Kota Semarang 1 PLTSa saja dinilai sudah cukup,” katanya.

Untuk listrik yang dihasilkan nantinya akan didistribukan tidak langsung ke masyarakat atau pengguna tapi melalui PLN. Hal itu berdasarkan MoU yang sudah dilakukan wali kota Semarang dengan PLN. (duh)

You might also like

Comments are closed.