Semarang Butuh Pemimpin yang Paham Nilai Budaya

Andreas Pandiangan Foto: metrosemarang.com/ade lukmono
Andreas Pandiangan
Foto: metrosemarang.com/ade lukmono

SEMARANG – Mini market kini makin menjamur tidak hanya di pusat kota, namun juga berdiri di pelosok. Dari sisi modernitas, konsep mini market dinilai lebih maju daripada warung konvensional. Namun di sisi lain, hal ini bisa saja merusak konstruksi sosial yang sudah terbangun di masyarakat yang telah terbangun lama.

“Secara tidak langsung, warung-warung konvensional tersebut sebenarnya merupakan ‘gardu’ bagi warga. Di sana ada fungsi keamanan dan fungsi sosial. Jika hal tersebut sudah tidak ada, warga kehilangan satu tempat untuk bersosialisai,” ujar pengamat politik, Andreas Pandiangan dalam dialog bersama PKS-Golkar-Demokrat, Kamis (30/4).

Semarang, lanjut dia, memerlukan figur pemimpin yang tegas dan tidak hanya condong kepada perekonomian, melainkan juga pemimpin yang mampu menjaga nilai kebudayaan yang terbangun di masyarakat.

“Dengan menjamurnya mini market akan menjadikan Semarang asosial. Oleh karena itu peran pemimpin yang akan datang sangat penting dan akan berkaitan dengan karakter warga Semarang,” kata dia.

Dia mencontohkan, karakter warga sudah mulai berubah ketika warga yang hadir dalam kegiatan pemerintah hanya mengharapkan ‘amplop’. Dia menilai, nilai gotong-royong sudah mulai luntur dan perlu diperbaiki. (ade)

You might also like

Comments are closed.