‘Semarang Harus Tolak Go-Jek Jika Ingin Jadi Kota yang Bermartabat’

Ilustrasi Foto: gojek.com
Ilustrasi
Foto: gojek.com

SEMARANG – Belakangan ini, Go-Jek menjadi booming lantaran kecepatannya dalam mekakukan pesan antar barang, bahkan penumpang. Go-Jek dinilai efektif di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung dan sebagainya untuk mempercepat proses pengantaran. Banyak kalangan sangat berminat menjadi driver Go-Jek karena gajinya yang cukup menggiurkan.

Namun, Akademisi sekaligus Pakar Transportasi dari Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno menyatakan tidak setuju apabila Go-Jek sampai merambah ke Kota Semarang. Menurutnya, Go-Jek harus ditolak jika ingin Kota Semarang menjadi kota besar yang bermartabat.

“Go-Jek seperti yang kita ketahui adalah kendaraan roda dua yang bukan merupakan ragam angkutan umum. Hal tersebut melanggar UU 22/2009 LLAJ. Motor juga merupakan kendaraan tidak berkeselamatan,” ungkapnya, Jumat (14/8).

Djoko menambahkan, apabila masih ada ojek atau semacamnya yang menggunakan kendaraan roda dua untuk transportasi umum, maka artinya pemimpin daerah sudah gagal menyediakan angkutan umum yang bermartabat. “Polisi berwenang melarang kendaraan seperti becak motor juga karena tidak ada uji KIR,” kata dia.

Kehadiran Go-Jek sendiri dianggap sebagai sarana transportasi alternatif. Namun, munculnya ojek berbasis aplikasi itu dinilai sebagai salah satu bukti bahwa pemerintah belum bisa menyediakan moda transportasi yang baik bagi masyarakat. (ade)

You might also like

Comments are closed.