Semarang Melawan Ancaman Longsor

 

Longsor di Karangjangkung, Semarang Barat pada 2013 silam. Pemkot Semarang mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan peristiwa serupa kembali terjadi dengan melakukan pemetaan wilayah rawan longsor. Foto Metrosemarang/dok
Longsor di Karangjangkung, Semarang Barat pada 2013 silam. Pemkot Semarang mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan peristiwa serupa kembali terjadi dengan melakukan pemetaan wilayah rawan longsor. Foto Metrosemarang/dok

SEMARANG – Bencana tanah longsor di Karangkobar Banjarnegara makin membuka mata pemerintah kabupaten/kota tentang pentingnya deteksi dini terhadap potensi serupa yang sewaktu-waktu bisa terjadi di wilayah lain. Kota Semarang, dengan kombinasi wilayah pesisir dan perbukitan juga mulai ancang-ancang untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk.

Berdasarkan pemetaan yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, setidaknya terdapat 51 titik wilayah rawan longsor di kota ini. Daerah rawan longsor ini tersebar di 49 kelurahan dari 11 kecamatan.

Kecamatan tersebut antara lain Banyumanik, Candisari, Gajahmungkur, Pedurungan, Semarang Selatan, Semarang Barat, Ngaliyan, Tugu, Mijen, Gunungpati, dan Tembalang. Sedangkan titik terbanyak yakni di Semarang Barat dengan 9 titik rawan, Tembalang 8 titik, serta Ngaliyan 7 titik rawan longsor.

Kepala BPBD Kota Semarang Iwan Budi Setiawan meminta masyarakat mengenali lingkungan sekitar dengan datangnya musim hujan kali ini. Bagi yang berada di wilayah perbukitan mewaspadai adanya rekahan-rekahan yang bisa menimbulkan longsor.

‘’Perlu diketahui bencana bukan untuk ditakuti, tapi untuk dihadapi karena kondisi geografis kita yang memang rawan. Meski begitu masyarakat harus selalu waspada akan kondisi daerah sekitar, pembersihan aliran air juga harus diperhatikan,’’ ujar Iwan Budi Setiawan.

Pihaknya juga mengharapkan masyarakat selalu mengecek tanah-tanah yang retak ataupun berongga di sekitarnya. Sebab jika ada rongga kemudian terkena air dan tidak ada penahan bisa mengakibatkan tanah longsor. ‘’Sejauh ini belum ada laporan,’’ tambahnya.

Salah satu kelurahan yang rawan longsor adalah Lempongsari Kecamatan Gajahmungkur. Kelurahan tersebut salah satu yang rawan tanah longsor. Pihaknya berharap warga selalu siaga selama musim penghujan kali ini.

Sementara, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi sudah menyatakan status siaga bencana untuk wilayah yang dipimpinnya. Penetapan status siaga bencana itu seiring dengan semakin intensnya terjadi hujan dalam skala sedang hingga lebat yang berpotensi menimbulkan bencana alam.

Pemkot sudah membentuk dan menyiagakan tim siaga bencana di 32 kelurahan terkait dengan penetapan status siaga bencana tersebut. Diharapkan upaya preventif ini dapat mencegah terjadinya kejadian bencana alam seperti yang terjadi di Kabupaten Banjarnegara.

”Kami sudah nyatakan Kota Semarang dalam siaga bencana. Kami sudah perintahkan tim siaga bencana di kelurahan-kelurahan untuk selalu siap siaga di lokasinya masing-masing,’’ katanya, pada Selasa (16/12).

Wali kota yang akrab di sapa Hendi ini, juga telah meminta tim siaga bencana untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat potensi terjadinya bencana banjir dan longsor. Dengan ada upaya prefentif ini, diharapkan timbulnya korban apabila terjadi bencana dapat terhindarkan.

Dia juga berharap masyarakat semuanya ikut waspada menghadapi musim hujan. (MS-13)

 

You might also like

Comments are closed.