Pakar Transportasi: Semarang Belum Butuh Monorel

METROSEMARANG.COM – Pembangunan Monorel di Kota Semarang diprediksi tidak akan rampung dalam waktu lima tahun. Menurut Pakar Transportasi dari Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno, Monorel memerlukan biaya mahal, sedangkan daya angkutnya minim, sehingga lebih cocok untuk daerah wisata saja.

“Untuk membangun 1 Km jalan rel at grade butuh Rp 30 miliar, kereta ringan (LRT) butuh Rp 300 miliar, kereta massal (MRT) butuh Rp 1,3 triliun, monorel butuh Rp 220 miliar. Biaya itu di luar balai yasa dan pembelian sarana,” ungkapnya, Rabu (13/4).

Ilustrasi
Ilustrasi

Dia menambahkan, untuk satu kereta monorel harganya sekitar Rp 7 miliar. Dalam satu rangkaian butuh empat kereta, sehingga satu rangkaian butuh Rp 28 miliar. Belum lagi harus siapkan sumber daya manusia (SDM) yang harus disiapkan dalam waktu tiga tahun.

“Jika membangun Mangkang-Penggaron (30 Km), butuh Rp 6,6 triliun yg setara satu setengah APBD Kota Semarang. Pemerintah pusat belum fokus bangun LRT untuk Kota Semarang. Kota Bandung dan Surabaya yang sudah siapkan masterplan 5 tahun lalu, hingga sekarang belum ada kejelasan kapan akan dibangun,” paparnya.

Menurut dia, warga Semarang dirasa lebih membutuhkan transportasi yang akseptable hingga kawasan permukiman, seperti BRT yang murah dan dapat cepat terealisasi. Selain itu, prasarana sudah tersedia sehingga lebih mudah dalam menambah fasilitas.

“Tarif bisa capai Rp 30 ribu per orang. Pemkot tidak akan sanggup memberi subsidi. Lebih baik perbaiki layanan BRT dan jangan asal menambah jumlah koridor, tapi kualitas layanan kurang diperhatikan,” tutur Djoko.

Sementara, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengaku sudah menyampaikan rencana pembangunan monorel kepada Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu. Dia menginginkan adanya transportasi massal yang murah, nyaman dan terintegrasi. Sehingga dipilih pengembangan BRT Trans Semarang dan monorel.

Wakil Ketua DPRD kota Semarang Agung Budi Margono menyatakan sangat setuju dengan rencana pembuatan transportasi massal berupa Monorel yang rencananya akan terintegrasi dengan daerah tetangga. Namun perlu dilakukan kajian lebih mendalam agar nantinya pembangunan alat transportasi massal ini tidak menimbulkan masalah baru dan berjalan maksimal.

“Apapun tentang inovasi kebijakan pemerintah berkaitan dengan transportasi masal yang murah baik monorel maupun BRT dapat menjadi prioritas utama,” ungkapnya. (ade)

You might also like

Comments are closed.