Sepakbola (Bukan) Milik Rakyat

Sepakbola yang seharusnya jadi alat pemersatu, kini justru jadi lahan berseteru. Foto: metrosemarang.com
Sepakbola yang seharusnya jadi alat pemersatu, kini justru jadi lahan berseteru. Foto: metrosemarang.com

PIALA Eropa 1996 menjadi titik balik bagi sepakbola Inggris. Negara David Beckham ini memang tak mampu mengangkat trofi Henry Delauny, tapi mereka berhasil ‘mengembalikan’ sepakbola ke tanah leluhurnya, hingga kemudian menjelma sebagai salah satu pengelola bisnis sepakbola tersukses sejagat.

Slogan ‘Football Comes Home’ benar-benar mampu menyatukan masyarakat Inggris. Itulah kali pertama Inggris menjadi tuan rumah sebuah hajatan besar sepakbola, semenjak embargo selama lima tahun, buntut tragedi Heysel 1985. Piala Eropa 1996 ini juga menandai kembalinya sepakbola ke tanah Britania, setelah terakhir kali mereka memanggungkan Piala Dunia 1966.

Sayang, Timnas Inggris di era Alan Shearer gagal mengulang kejayaan Bobby Charlton cs. Pasukan St George’s Cross harus terhenti di semifinal setelah tumbang di tangan Jerman yang akhirnya menjadi kampiun. Toh, Inggris bakal terus dikenang sebagai salah satu tuan rumah tersukses dalam sejarah Piala Eropa. Turnamen yang dihelat pada 8 Juni-30 Juni itu mampu menyedot 1,276,000 penonton atau rata-rata 41,158 per pertandingan. Angka ini hanya kalah dari Piala Eropa 2012 Polandia-Ukraina dengan total penonton 1,440,896.

Setelah Piala Eropa 1996, kekuatan klub-klub Inggris pun semakin paten. Diawali dengan Chelsea yang menjadi kampiun Piala Winner 1997, dua tahun kemudian giliran Manchester United yang menjadi juara Liga Champions dan Liverpool sebagai juara Piala UEFA tahun 2001. Kehadiran investor asing juga makin menahbiskan Inggris sebagai surga bagi pesepakbola sejagat.

Kesuksesan Inggris menggelar Piala Eropa 1996 sekaligus membuktikan bahwa sepakbola adalah milik rakyat. Permainan 2×45 menit di atas lapangan hijau itu sanggup menggerakkan perekonomian rakyat. Semua lapisan sangat menikmatinya, termasuk para penggila judi. Tentu sangat miris jika membandingkan perkembangan sepakbola di Inggris dengan kondisi yang terjadi di negara kita: Indonesia.

Di saat liga-liga negara lain sudah nyaris berakhir, bahkan sudah diketahui juaranya, Liga Indonesia juga ikut ‘tamat’ tanpa ada kampiunnya. Divisi Utama malah sama sekali belum bergulir. PT Liga Indonesia selaku operator kompetisi akhirnya memutuskan menghentikan liga karena PSSI telah dibekukan Menpora.

Klub-klub menjerit, tapi mereka juga tak bisa berbuat apa-apa. Dana miliaran yang sudah mereka gelontorkan untuk menghidupi tim, terbuang sia-sia. Mereka juga bingung harus meminta kompensasi kepada siapa. Tapi, yang sangat menyedihkan adalah ada ribuan pemain yang harus menganggur.

Sebagai gambaran kasar, satu tim dihuni 25 pemain, berarti ada 450 pemain dari 18 klub ISL yang menganggur. Dari Divisi Utama, yang rencananya bakal diikuti 51 tim, berarti ada sekitar 1.275 pemain berstatus unemployment. Belum lagi tim-tim dari divisi-divisi di bawahnya.

Cerita seorang teman ini sudah seharusnya juga membuat kita prihatin. Dia punya anak yang masih berusia belasan dan sudah sekitar lima tahun terakhir merintis karir sebagai pesepakbola. Tahun kemarin, hati si bocah hancur gara-gara tim kesayangannya PSIS Semarang gagal melaju ke ISL. Musim ini, bukan hanya gagal menyaksikan PSIS yang batal berkompetisi, tapi impiannya menjadi seorang pesepakbola juga mulai luntur setelah ada pembekuan PSSI yang kemudian berujung dengan pembekuan liga.

Itulah realita yang terjadi. Padahal ada jutaan anak Indonesia punya impian yang sama. Masih banyak Alif Tristan Naufal—bocah ajaib yang kini berlatih bersama akademi Ajax Amsterdam—di negeri ini, yang kelak berharap bisa mengenakan jersey merah putih dengan lambang Garuda di dada. Namun, mimpi itu bisa saja buyar karena tak ada lagi yang bisa diharapkan dari sepakbola di Indonesia.

Fakta tersebut membuktikan bahwa sepakbola di negeri ini bukan lagi milik rakyat. Mohon maaf, saat ini sepakbola hanya milik dua orang saja. Satu kubu berpedoman pada statuta dan di kubu lainnya berdalih demi perbaikan sepakbola Indonesia. Mereka yang berseteru sama-sama ‘memperjuangkan’ sepakbola sebagai hiburan rakyat.

Fakta di lapangan malah berkata sebaliknya. Tak ada lagi tontonan sepakbola nasional. Televisi lokal banyak dijejali acara ajang pencarian bakat dan sinetron-sinetron India. Stadion berkapasitas ribuan kursi yang dibangun dengan duit rakyat dibiarkan melompong. Turnamen tarkam (antar-kampung) kini menjadi ladang untuk menyambung hidup.

Mungkin Indonesia yang sudah sekian lama kering prestasi, memang harus kembali lagi dengan liga tarkam untuk menghidupkan spirit sepakbola adalah milik rakyat. Siapapun boleh menikmati olahraga ini tanpa terkecuali. (*)

 

 

You might also like

Comments are closed.