Sepanjang 2017, 118 Kasus Kekerasan terhadap Perempuan Terjadi di Semarang

METROSEMARANG.COM – Sebanyak 48,11 persen kasus kekerasan terhadap perempuan diketahui muncul di Kota Semarang. Temuan tersebut terkuak dari hasil penanganan kasus yang dilakukan aktivis Legal Resource Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC -KJHAM) selama tahun ini.

Ilustrasi. Kekerasan terhadap perempuan paling banyak terjadi di Semarang
Direktur LRC-KJHAM Dian Puspitasari mengatakan selama Januari-November 2017 terdapat 118 kasus kekerasan dengan korban perempuan di Semarang. Temuan kasus tersebut jadi yang tertinggi ketimbang kabupaten/kota lainnya di Jawa Tengah.

Setelah Semarang, di posisi kedua terdapat Magelang dengan jumlah 47 kasus atau sebesar 17,8 persen. Kemudian ada pula Kabupaten Kendal dengan 22 kasus atau 10,30 persen.

Tak hanya itu saja, kata Dian. Kabupaten Wonogiri juga ditemukan 20 kasus kekerasan terhadap perempuan atau  sekitar 9,12 persen, Kabupaten Salatiga, Kabupaten Pati, dan Kabupaten Semarang masing-masing 12 kasus atau 7,10 persen.

“Sisanya ada Blora dan Kabupaten Pekalongan sebanyak 10 kasus atau 2,26 persen. Yang paling sedikit itu ada di Sragen dan Karanganyar. Hanya 8 kasus,” ungkap Dian, Jumat (8/12).

Kendati demikian, ia menyatakan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) menjadi jenis kasus tertinggi di tahun ini. Lembaganya mendapati ada 117 kasus atau 33,3 persen yang menimpa perempuan.

Kasus lainnya, menurut Dian yakni kekerasan dalam pacaran (KdP) sebanyak 91 kasus atau 25,8 persen perkosaan mencapai 46 kasus atau 13,9 persen, perbudakan seksual 38 kasus atau 10,8 persen, prostitusi 24 kasus atau 6,8 persen, human traficking 16 kasus atau 4,5 persen, pelecehan seksual 14 kasus atau 3,10 persen dan buruh migran ada 6 kasus atau 1,8 persen.

Menurut Sri Winarna, Kepala Bidang (Kabid) Pemenuhan Hak dan Perlindaungan Anak (DP3AKB) Jateng, adanya temuan tersebut jadi introspeksi pihaknya untuk meningkatkan kemampuan untuk menangani korban-korban kasus kekerasan yang didominasi kaum hawa.

“Pemprov Jateng terus berupaya konsisten dalam menekan kekerasan perempuan sejak tiga tahun belakangan ini. Salah satunya meneken kesepakatan dengan aparat penegak hukum, Kementerian Hukum dan HAM dan Peradi melalui program pemaksimalan layanan korban kekerasan,” terangnya. (far)

You might also like

Comments are closed.