Sepenggal Kisah Cinta Menteri Supeno dengan Gadis Desa di Purbalingga

Menteri Supeno dikenal sebagai pejuang yang gigih dan bertanggung jawab terhadap keluarga. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Menteri Supeno dikenal sebagai pejuang yang gigih dan bertanggung jawab terhadap keluarga. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

SEMARANG – Berbagai cara dilakukan rakyat Indonesia untuk mengenang jasa-jasa pahlawan saat merayakan Hari Ulang Tahun ke-70 Kemerdekaan Indonesia. Beragam cerita heroik kepahlawanan pun terus dikenang oleh banyak orang.

Bicara soal jasa pahlawan, ada sebuah kisah seorang pahlawan yang tak bisa dilepaskan dari perjuangan Indonesia. Menteri Supeno, tokoh pemuda yang gigih melawan tentara Belanda, punya kisah cinta unik yang tidak diketahui banyak orang. Dia ternyata mempersunting seorang gadis desa saat bergerilya di Tanah Jawa.

“Pertama kali ketemu beliau ketika sama-sama masih mahasiswa. Dia seorang tokoh pemuda populer di zamannya,” ungkap Kamsitin Wasiyatul Khakiki, kepada metrosemarang.com, Senin (17/8). Tien, sapaan akrabnya, merupakan putri Danusiswoyo, pemilik Pendidikan Masyarakat di Desa Klampok Purbalingga.

Sebagai gadis desa, Tien waktu itu tak banyak akrab dengan pemuda-pemuda lainnya. “Awalnya, kenal sama Pak Pen (panggilan kecil Menteri Supeno) dari Sunyoto, paman saya. Saat itu, saya diajak sama paman saya ke rumah Supeno. Di situ banyak pemuda berkumpul. Terlihat pula Jenderal Gatot Subroto,” urainya.

Kisah cintanya berlanjut tatkala pamannya meminta Menteri Supeno untuk mengajaknya jalan-jalan ke Jakarta. Saat itu, katanya, sosok Menteri Supeno sering bolak-balik Jakarta-Purbalingga untuk memperjuangkan hak-hak pemuda Indonesia. Ia pun mengiayakn ajakan Menteri Supeno pergi ke Jakarta.

“Dia itu diminta mengajak saya jalan-jalan ke Jakarta. Saya lalu diajak ke museum laut (sekarang Ancol) dan museum-museum lainnya. Pokoknya tempat yang baik-baik,” katanya, sambil tersenyum. Menteri Supeno kerap berkunjung ke museum karena museum banyak tersimpan buku-buku politik yang bisa dipelajari untuk membentuk konsep negara Indonesia.

Usai menjalin kasih di Jakarta, Menteri Supeno lantas mempersunting Tien di Desa Klampok Purbalingga pada 1943 silam. “Itu desa saya. Lokasinya di perbatasan Purbalingga dan Banyumas,” kenangnya.

Kendati demikian, jangan harap ada kisah bulan madu di antara keduanya. Sebab, Menteri Supeno saat itu langsung diminta Presiden Soekarno untuk membantu Syafrudin Prawiranegara membentuk pemerintahan darurat di Bukittinggi Sumatera Barat.

“Saya dititipkan di rumah orangtua. Mulai itulah, saya bertekad bertahan hidup sambil menantikan kepulangannya. Saya ingat betapa sulitnya sehingga harus naik gunung mencari apa yang bisa dimakan. Tak lama, dia pulang kemudian mengajak saya ke Jakarta,” bebernya.

Ia mengingat Menteri Supeno merupakan pribadi yang bertanggung jawab. Saat bergerilya di Jakarta, Menteri Supeno membawa dia dan anaknya berpindah dari rumah satu ke rumah lainnya. “Jadi, jarang sekali di rumah. Identitasnya juga disembunyikan. Setelah itu, kita pergi ke Yogyakarta naik mobil bersama Halim Perdanakusuma, anggota fungsionaris DPR. Di sana, ternyata masih bergerilya. Itu kira-kira tahun 1944,” terangnya.

Setelah dari Yogyakarta, keduanya lalu singgah ke Solo dan mendirikan gedung kepemudaan. Perjalanan mereka berlanjut ke Purworejo dan kota-kota lainnya sampai ke Madiun. (far)

You might also like

Comments are closed.