Sering Dipakai Rapat PKI, Gedung SI Merah Nyaris Dibakar Tentara

Gedung SI Merah nyaris dibakar saat G30SPKI meletus tahun 1965. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Gedung SI Merah nyaris dibakar saat G30SPKI meletus tahun 1965. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

 

METROSEMARANG.COM – Gedung milik Sarekat Islam (SI) Merah di Kampung Gendong Selatan Sarirejo Semarang Timur, menjadi saksi bisu pergerakan komunis di Ibukota Jateng. Penduduk setempat menyebutkan ada ratusan kader Partai Komunis Indonesia (PKI) yang terus-menerus menggelar rapat konsolidasi di tempat itu.

Budianto adalah salah satu warga yang mengenal betul pergerakan PKI di gedung peninggalan Tan Malaka tersebut. Saat Gerakan 30 September 65 (G30S 1965) meletus, ia masih berusia tiga tahun.

“Dulu kampung saya hanya dihuni beberapa orang, tapi sekarang sudah ada 40 warga yang menempati rumah-rumah di sini,” kata pria yang lahir di Kampung Gendong Selatan itu, kepada metrosemarang.com, Sabtu (3/10).

Gedung SI Merah, kata Budianto, awalnya digunakan ratusan kader SI pimpinan Semaun untuk menggalang massa di Semarang. SI pimpinan Semaun berideologi sosialis yang punya banyak pengikut dari kaum komunis.

“Dulunya Gedung SI Merah dipakai pasukan PKI dan nyaris dibakar oleh personel RPKAD (cikal bakal Koppasus) saat G30S meletus tahun 1965. Tapi untungnya diselamatkan oleh masyarakat setempat,” beber Budianto.

Usai penumpasan PKI, warga Gendong pada 1968 mengambilalih Gedung SI Merah untuk digunakan sebagai Balai Muslimin. Kegiatannya, meliputi sekolah madrasah dan TK hingga vakum pada 2008 silam. “Tapi tak sedikit warga Gendong sempat tersangkut PKI,” akuinya.

Kini, jejak komunis di Gedung SI Merah hanya tinggal sejarah. Kondisi bangunannya tampak kumuh setelah TK Tarbiatul Atfal digusur, saat Pemprov Jateng merenovasi bangunan tua tersebut. “Semua saksi sejarah sudah meninggal. Sekarang gedungnya tanpa penghuni. Disewakan pun belum ada yang berminat,” tutur lelaki berusia 53 tahun tersebut.

Ia berharap, Gedung SI Merah dikembalikan sebagai pusat kegiatan keagamaan bagi warga kampung setempat. Orang-orang pada zaman dahulu kerap memakainya untuk hajatan, pernikahan dan peringatan tujuh belas Agustusan. “Lebih baik difungsikan seperti dulu biar terawat,” tutupnya. (far)

You might also like

Comments are closed.