Seru! Warga Desa Ini Berburu ‘Jembul’ untuk Penangkal Hama

METROSEMARANG.COM – Tradisi Jembul Tulakan Desa Tulakan Kecamatan Donorejo, Kabupaten Jepara berlangsung meriah. Ribuan warga setempat bahkan rela berdesak-desakan demi mendapatkan jembul.

Tradisi Jembul Tulakan di Jepara. Foto: metrojateng.com

Jembul dalam bahasa Jawa berarti rambut. Tradisi ini memang tak terlepas dari sejarah pertapaan Ratu Kalinyamat. Dalam tapa tersebut, Ratu Kalinyamat bernadzar tidak akan mengakhiri pertapaannya sebelum keset pakai rambut dan keramas dengan darah Arya Penangsang.

Dalam tradisi ini, Jembul terbuat dari bambu dan disusun menjadi gunungan untuk kemudian diarak dari Rumah Kepala Desa menuju dukuh masing-masing. Kali ini, ada empat gunungan jembul yang diarak.

Maesaroh (35), warga setempat mengaku sengaja ikut berebut jembul, meski harus berdesakan dengan warga lain. Diyakini, Jembul itu dapat menangkal hama.

“Nanti ditancapkan di sawah, Mas, supaya tidak ada hama,” katanya, Senin (31/7).

Subekti, seorang tokoh masyarakat Desa Tulakan menuturkan bahwa tradisi Jembul Tulakan ini pertama kali diinisiasi oleh Ki Demang Baratha, yakni seorang Demang Tulakan pertama.

“Belum tahu persis tahunnya, tapi yang pertama kali menginisiasi adalah Ki Demang Baratha. Beliau wafat sekitar tahun 1882,” papar dia.

Ia menjelaskan, prosesi tradisi ini diawali dengan selamatan warga di petilasan pertapaan di Dukuh Sonder, Jumat Wage atau Kamis (27/7) malam. Dilanjut hiburan wayang kulit, Minggu (30/7), dan dipungkasi dengan mengarak gunungan jembul.

“Pada intinya tradisi ini untuk mengenang sejarah sekaligus rasa syukur kepada tuhan atas limpahan rejeki yang selama ini diberikan kepada warga,” tandasnya. (metrojateng.com/MJ-23)

You might also like

Comments are closed.