Sesaji Rewanda, Menapaki Perjalanan Kanjeng Sunan

METROSEMARANG.COM – Terik matahari mulai menyinari Dusun Talun Kacang, Desa Kandri, Kecamatan Gunungpati, Semarang, Rabu (5/7) pagi. Ratusan warga berbaris rapi sembari mengangkat tumpeng dan empat gunungan berbagai jenis hasil bumi sebagai ritual Sesaji Rewanda. Keempat gunungan tersebut yakni, Gunangan Sego Kethek, Gunungan Palawija, Gunungan Kupat, dan Gunungan Buah, termasuk replika kayu jati yang dipanggul sejumlah pria.

Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi

Ritual yang digelar setiap tahun ini merupakan napak tilas perjalanan Sunan Kalijaga saat menyebarkan agama Islam. Replika kayu jati yang diarak menuju Gua Kreo merupakan replika dari jaman Sunan Kalijaga yang akan digunakan untuk membangun Masjid Demak.

Dengan diiringi alunan drumband yang dimainkan oleh anak-anak kampung setempat, para peserta berjalan menuju pelataran Gua Kreo. Setelah berjalan kurang lebih 800 meter, kemudian tumpeng beserta gunungan hasil bumi diletakkan berjajar.

Ratusan pengunjung turut memeriahkan kirab sesaji ini, dan yang paling mereka tunggu-tunggu adalah berebut gunungan. Sembari menunggu prosesi berebut gunungan, mereka menyaksikan pertunjukan seni tari yang juga dimainkan oleh anak-anak kampung setempat.

Tari Wanoro Parisuko atau tari keceriaan para kera menjadi penghujung sebelum di gelarnya prosesi rebutan gunungan. Dimainkan oleh  belasan anak-anak, ada empat ekor kera besar berwarna merah, putih, kuning dan hitam. Dalam cerita legenda Gua Kreo keempat kera tersebut merupakan hewan yang menemani dan membantu Sunan Kalijaga saat melakukan pencarian kayu jati.

Setelah tarian tersebut, kemudian para pengunjung bersiap mengelilingi gunungan yang hendak diperebutkan. Gunungan sego kethek menjadi sasaran utama dari para pengunjung. Bungkusan berisi nasi, sayur daun singkong, dan lauk tempe dipercaya oleh sebagian pengunjung dapat memberikan berkah tersendiri.

Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi

Meskipun berdesak-desakan, namun prosesi berebut gunungan ini berlangsung damai. ada tiga gunungan yang diperebutkan oleh para pengunjung, yakni gunungan sego kethek, gunungan palawija, dan gunungan kupat. Sedangkan untuk gunungan buah khusus disajikan kepada para kera penghuni Gua Kreo.

Salah seorang pengunjung yang turut mengikuti prosesi berebut gunungan, Sri Ning Wahyuni mengaku senang mengikuti prosesi berebut Sego Kethek. Ia mengatakan, dengan mendapatkan bungkusan nasi tersebut dapat melancarkan rejeki.

“Ya saya sudah ikut acara ini tiga kali, seneng bisa ikut, meriah juga acaranya. Selain itu juga untuk nambah rejeki, biar lancar rejekinya,” ujarnya.

Sementara, Sudian tokoh masyarakat mengatakan, acara sesaji ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Namun nama Sesaji Rewanda baru ada sejak tahun 2002 oleh pemerintah Kota Semarang sebagai upaya peningkatan pariwisata.

“Sebenarnya yang memang benar-benar murni awalnya itu acaranya setiap H+3 lebaran mas, itu yang sudah sejak dulu ada, namanya Nyadran Gua Kreo. Kalau nyadran Gua Kreo itu ya bersih bersih area sekitaran sini, bersih bersih jalan dan sebagainya,” ujarnya.

Untuk prosesi yang dilakukan pada H-3 Lebaran yakni membawa sesaji berupa hasil bumi ke Batu Tenger. Batu Tenger merupakan tempat berkumpulnya atau sarasehan oleh Sunan Kalijaga bersama sahabatnya.

“Yang dibawa tu ya sesaji nasi kuning, nasi untuk slametan, kemudian untuk setiap warga dibebani dengan tiga bungkus nasi, itu sudah berjalan sejak jaman nenek moyang dulu, sudah lama, kini sekarang kita hanya melanjutkan,” tukas Sudian.

Acara Sesaji Rewanda ini ditutup dengan menyuguhkan Gunungan Buah kepada para kera penghuni Gua Kreo. Gunungan buah diletakkan di pelataran dan disaksikan oleh ratusan pasang mata para pengunjung. Awalnya kera dipancing dengan dilemparkan beberapa buah kepadanya, lama kelamaan puluhan kera mendekati gunungan buah tersebut dan mulai berebut. Hal tersebut mengundang niat para pengunjung untuk mengabadikan momen tersebut. (fen)

You might also like

Comments are closed.