Sesaji Rewanda, Ritual Penghormatan pada Para Kera

Ritual Sesaji Rewanda (foto: kakidanransel.blogspot.com)
Ritual Sesaji Rewanda (foto: kakidanransel.blogspot.com)
Setiap bulan Syawal, tepanya hari ketiga setelah Idul Fitri, ada ritual menarik yang diadakan di pelataran Gua Kreo, Gunungpati, Semarang. Ritual yang dimaksud adalah Sesaji Rewanda, yakni pemberian sesaji kepada para kera ekor panjang penghuni Gua Kreo.

Dalam ritual Sesaji Rewanda, masyarakat menyiapkan empat gunungan makanan yang nantinya akan diberikan kepada para kera. Gunungan pertama, berisi nasi, urap sayur, tempe dan tahu yang dibungkus dalam daun pisang, atau yang disebut sebagai sega kethek (nasi monyet)Gunungan kedua, berupa buah-buahan yang disukai para kera. Gunungan ketiga berisi hasil bumi, seperti singkong, mentimun, wortel, dan kacang tanah. Dan gunungan keempat berisi ketupat dan lepet.

Sebelum keempat gunungan setinggi 2,5 meter itu dipersembahkan kepada para kera, pihak tetua masyarakat Kandri akan menceritakan kisah tentang perjalanan Sunan Kalijaga dan para pengikutnya saat mencari kayu jati untuk tiang penyangga (saka) Masjid Agung Demak. Awalnya, Sunan Kalijaga mencari kayu di daerah yang kini bernama Jatingaleh. Namun, saat hendak ditebang, kayu jati itu berpindah-pindah. Atas perkataan Sunan Kalijaga-lah tempat itu hingga kini disebut Jatingaleh, artinya kayu jati yang berpindah-pindah.

Setelah bersemedi selama beberapa waktu, Sunan Kalijaga pun berjalan ke hutan kayu jati di dekat gua yang dipenuhi kera. Di hutan tersebut, Sunan Kalijaga menemukan kayu jati yang dirasa cocok untuk menyangga masjid. Kayu jati itu pun lalu ditebang.  Saat kayu akan dihanyutkan ke sungai, kayu jati itu tersangkut. Lalu para kera-lah yang membantu para pengikut Sunan Kalijaga untuk mengambil kayu jati tersebut.

Atas jasanya, para kera tersebut diberi amanat oleh Sunan Kalijaga untuk menjaga gua. “Mangreho,” demikian kata Sunan Kalijaga kepada para kera. Kata Mangreho itulah yang kemudian menjadi asal kata Kreo, yang dijadikan nama Gua Kreo.

Ritual ini awalnya hanya dilaksanakan masyarakat setempat secara turun-temurun untuk menghormati jasa para kera terhadap Sunan Kalijaga, sekaligus untuk memberi makan kera agar tidak mengganggu pemukiman warga. Namun, ritual ini telah ditetapkan menjadi salah satu atraksi wisata di Kota Semarang yang pelaksanaannya didukung oleh Pemkot Semarang.

Saat ini, kawasan Gua Kreo telah dibangun sedemikian rupa, seiring dengan dibangunnya Waduk Jatibarang. Jadi, jika ke tempat ini, Anda tidak hanya dapat menikmati sensasi memberi makan para kera, namun juga bisa menikmati pemandangan Waduk Jatibarang yang baru saja selesai dibangun. Sayangnya akses transportasi umum menuju ke Gua Kreo masih sulit. Anda harus menggunakan kendaraan pribadi untuk menuju ke tempat ini. Rutenya, melewati kawasan Manyaran-Kalipancur-Sadeng, lalu berbelok ketika sampai di gerbang masuk Gua Kreo. Dari situ, Anda harus melaju melewati perkampungan sejauh 2 Km. Tiket masuk Rp 3 ribu per orang. (ren)
You might also like

Comments are closed.