Setahun Terakhir 764 Perempuan Jawa Tengah Alami Kekerasan Seksual

METROSEMARANG.COM – Sepanjang tahun 2016 hingga Februari 2017 sekurangnya 764 perempuan di Jawa Tengah menjadi korban kekerasan seksual. Angka tersebut ada dalam catatan Legal Resources Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC-KJHAM). Artinya, masih ada potensi
jumlah yang lebih banyak. Mengingat tidak semua korban berani melapor
dan tidak semua kasus kekerasan seksual terlaporkan.

Ilustrasi

Direktur LRC-KJHAM Dian Puspitasari mengatakan jumlah perempuan korban
kekerasan seksual itu tak sebanding dengan perlindungan hukum yang ada
di Indonesia. “Perempuan korban kekerasan, khususnya kekerasan seksual
masih mengalami banyak hambatan dan tantangan dalam mendapatkan hak-haknya. Tidak ada undang-undang khusus yang melindungi perempuan
korban kekerasan seksual,” ungkap Dian.

Karena itu, pihaknya mengharapkan pemerintah segera mengesahkan
Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual. Perempuan korban kekerasan seksual membutuhkan dukungan berbagai elemen masyarakat. Sebab, ditinjau dari segi jumlahnya saja, jika dibandingkan korban kekerasan fisik maupun psikis, jumlah perempuan
korban kekerasan seksual paling tinggi.

Dari 496 kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi sepanjang
2016 dengan 871 perempuan korban, 700 di antaranya merupakan korban
kekerasan seksual. Jumlah itu mencapai 80,4 persen dari seluruh korban. LRC-KJHAM juga mencatat perempuan sebagai pelaku kekerasan pada tahun 2016, sebanyak 784.

Sedangkan pada tahun 2017 hingga bulan februari tercatat 58 kasus
kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan seksual masih mendominasi.
Pada data tersebut terdapat 64 perempuan korban kekerasan seksual.
Jumlah yang mencapai 72,32 persen dari total jumlah perempuan korban
kekerasan. Korban sebanyak itu mengalami perbedaan kasus. Sebanyak 12 kasus perkosaan, tujuh kasus perbudakan seksual, dua kasus prostitusi dan dua kasus pelecehan seksual.

Sementara sebanyak 14,69 persen perempuan korban kekerasan fisik dan
9,04 persen kosban kekerasan psikis berasal dari 19 jenis kasus kekerasan dalam pacaran, 14 jenis kasus kekerasan dalam rumah tangga, dan dua jenis kasus buruh migran.

“Tanpa mengesampingkan korban kekerasan fisik dan psikis, korban
kekerasan seksual membutuhkan dukungan lebih. Untuk itu, menyambut
Hari Kartini 21 April 2017 kami mempublikasikan laporan pelanggaran
hak asasi perempuan,” Dian dalam siaran pers kepada metrosemarang.com, Kamis (20/4).

Publikasi ini didasari pada pengakuan atas perjuangan Kartini merebut
hak-hak perempuan. Dengan pengakuan atas perjuangan tersebut pada hari
lahir Kartini, diharapkan bahwa pemenuhan hak-hak perempuan terus
ditingkatkan. Tidak hanya di bidang pendidikan, melainkan di bidang
lainnya.

Data BPS tahun 2016 mencatat perempuan di wilayah pedesaan memperoleh akses pendidikan yang lebih rendah daripada di perkotaan. LRC-KJHAM memonitor secara umum, perempuan yang menjadi korban kekerasan memiliki tingkat pendidikan rendah. Meskipun juga terdapat perempuan yang mempunyai pendidikan tinggi setingkat sarjana yang menjadi korban kekerasan.

“Sebetulnya, tingkat pendidikan bukan satu-satunya jaminan bahwa perempuan akan lolos dari tindak kekerasan. Ini disebabkan karena
relasi kuasa antar laki-laki dan perempuan masih sangat kuat. Sehingga
masih seringkali terjadi diskriminasi,” demikian Dian. (han)

You might also like

Comments are closed.