Setelah 40 Tahun, Akhirnya Sri Ratu “Turun Tahta”

Akan Berubah Jadi Apa?

Sri Ratu di Jalan Pemuda Semarang adalah toko yang pertama dibuka. Toko ini merupakan pelopor toko modern dengan konsep department store dan supermarket

SEBUAH pesan beredar secara berantai lewat layanan pesan pendek, pada pertengahan Februari 2019. Pasaraya Sri Ratu disebut bakal mengobral dagangan terakhirnya mulai 15 Februari 2019, dengan potongan harga sampai 70%. Toko ini dikabarkan akan ditutup pada pengujung bulan Februari.

Pagi sebelum toko buka, orang-orang sudah berjubel di emperan. Pemandangan yang bisa saja sangat diharapkan pengelola toko pada bulan-bulan sebelumnya. Begitu pintu dibuka, mereka langsung menyerbu masuk toko.

Kondisi Pasaraya Sri Ratu Jalan Pemuda Semarang menjelang tutup usia. (Fariz Fardianto/metrojateng.com)

Toko ini masih bernuansa merah. Lampion yang dipasang sebelum Imlek tiba masih bergantungan di langit-langit. Gaun, kemeja hingga kaos merah masih ada di sana sini. Beberapa tiang persegi di toko masih berselimut stiker merah bergambar penyambutan kedatangan tahun babi tanah.

Lima hari setelah peredaran pesan singkat itu, Desi Rahmawati memacu kendaraannya menuju Pasaraya Sri Ratu di Jalan Pemuda, salah satu pusat bisnis di Kota Semarang. Desi meninggalkan rumahnya di Jalan Kawi Semarang sejak pagi. Ia ingin tiba di Sri Ratu sebelum jam buka toko, pukul 10.00.

Desi punya dua niat; melihat-lihat jikalau ada yang bisa ia beli dengan harga murah di Sri Ratu, dan menemui kawan lamanya yang bekerja pada bagian penjualan pakaian di Sri Ratu. Bertahun lalu, Desi sendiri pernah menghabiskan 11 tahunnya untuk bekerja sebagai Sales Promotion Girl (SPG) Sri Ratu.

Pada bulan terakhir ia bekerja, tepatnya pada bulan puasa Ramadan tahun 2018, Pasaraya Sri Ratu sudah sepi pembeli. Kata Desi, pendapatan yang diperoleh Sri Ratu dari bagian penjualan pakaian, merosot tajam. Dari yang semula masih bisa meraih Rp 15 juta hingga Rp 30 juta dalam sebulan, bulan itu tinggal Rp 5 juta saja.

“Tentu itu berat banget. Untuk menggaji karyawan pasti sulit,” katanya. Desi mengingat-ingat sejak kapan jumlah pengunjung toko itu menurun, kira-kira sejak ada mal-mal baru di Jalan Pemuda.

“Saya sebetulnya nggak tega. Kaget sekaligus sedih mendengar toko ini mau tutup. Ini toko tertua di Semarang. Saya punya banyak kenangan di sini,” kata Desi.

Dahulu, kata Desi, pengelola Sri Ratu kerap mengajak karyawan piknik bersama, setidaknya sekali setahun. Macam-macam perlombaan yang digelar setiap 17 Agustus, hingga arak-arakan meriah setiap Tahun Baru Imlek menjadi kenangan manis bagi Desi. “Banyak hadiah,” ujarnya.

 

Sepasang Penjual

Pasaraya Sri Ratu didirikan pada 1978 oleh sepasang penjual yang sudah berpengalaman dagang mengelilingi Pulau Jawa dan Bali, Tresno Santoso dan Tutik Santoso. Mereka mengamati rekan-rekan dan kolega yang gemar berbelanja kebutuhan fesyen dari Hongkong dan Jakarta, lalu melihatnya sebagai peluang untuk menjual barang impor.

Pemakaian nama Sri Ratu dilandasi makna yang terkandung di dalamnya. Laman sriratu.com menyebut kata “Sri” berarti padi. Padi dianggap sebagai lambang kebutuhan banyak orang. Sedangkan “Ratu” arti wanita yang memiliki kedudukan tinggi dan dikagumi. Pasaraya Sri Ratu mereka artikan dengan sebuah toko yang selalu menyediakan barang-barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, sekalgus sebagai toko yang dikagumi para konsumen.

infografik: Rifka Dian (magang)

Sri Ratu di Jalan Pemuda Semarang adalah toko yang pertama dibuka. Toko ini merupakan pelopor toko modern dengan konsep department store dan supermarket. Awalnya, toko ini adalah satu-satunya toko di Semarang yang menjual barang impor.

Toko ini memiliki pelanggan fanatik. Loyalitas pelanggan adalah andalan bagi Sri Ratu. Mereka memanjakan pelanggan dengan potongan harga, hadiah-hadiah, sarana hiburan dan desain interior toko yang modern dan mewah. Sri Ratu kemudian mengembangkan bisnis hingga Jawa Timur.

Mereka menyasar daerah yang belum dimasuki peritel nasional. Pada tahun 2004, Sri Ratu telah memiliki delapan toko yang tersebar di Semarang, Pekalongan, Purwokerto, Kediri, Madiun, dan Tegal.

Namun tantangan baru muncul. Pada saat omzet Sri Ratu sangat bergantung pada pertumbuhan ekonomi daerah. Sri Ratu harus menghadapi peritel lain yang lebih kuat. Peritel nasional dan asing dengan modal besar, jaringan kuat dan sistem logistik yang bagus mulai memasuki daerah-daerah.

 

Meredup

Pada 2008, bisnis Sri Ratu mulai meredup. Satu toko Sri Ratu di Pekalongan disewakan kepada Carrefour. Pada 2010, Sri Ratu Kediri dijadikan Kediri Mal. 2012, Sri Ratu Jalan MT Haryono Semarang tutup, gedung disewakan. Pasific Mal Tegal yang dikelola Sri Ratu Group disewa Hypermart, sementara saat itu Sri Ratu Departement Store tetap beroperasi.

Tahun 2014, Sri Ratu Purwokerto tutup. Tahun 2015, Transmart dan Hypermart menyewa gedung Kediri Mal, sementara saat itu Sri Ratu Departement Store tetap beroperasi. Pada 31 Januari 2018, Sri Ratu Departement Store Kediri menyusul Sri ratu Jalan MT Haryono Semarang, toko ini tutup.

Pada Desember 2017, Sri Ratu Jalan Pemuda Semarang memecat 286 karyawannya. Hal itu dengan pertimbangan efisiensi. Pengunjung sepi, omzet toko menurun,sedangkan biaya yang harus dikeluarkan tinggi.

Konsumsi listrik di Pasaraya Sri Ratu Pemuda Semarang mencapai Rp 1,2 Miliar per bulan. Sedangkan Gaji karyawan Pasaraya Sri Ratu Pemuda Semarang mencapai Rp 1 Miliar per bulan. Pasaraya Sri Ratu membutuhkan Rp 10 Miliar per bulan untuk operasional.

Namun langkah pemutusan hubungan kerja karyawan menyisakan persoalan. Sebanyak 65 karyawan merasa pembayaran pesangon secara dicicil tidaklah adil. Sementara 221 karyawan lainnya menerima kesepakatan pembayaran pesangon dengan sistem cicil. Eks karyawan yang tidak menerima sistem cicilan pesangon, melakukan protes dan mengadu ke DPRD Semarang.

Mediasi Sri Ratu dengan eks karyawan di antaranya menghasilkan tenggat pembayaran pesangon, dan percepatan penyelesaian pemutusan hubungan kerja.

Infografik: Rifka Dian (magang)

 

Menjadi Plaza

Bos Pasaraya Sri Ratu, Hendra Aribowo mengakui kesulitan finansial yang membelit bisnisnya. Menurutnya, pendapatan Sri Ratu dari tahun ke tahun terus merosot. Penurunan omzet seiring dengan pengurangan selling space atau ruang penjualan di dalam pusat perbelanjaan tersebut.

“Tren omzet memang terus menurun seiring pengurangan selling space. Biaya akhirnya harus menyesuaikan,” ungkapnya pada Kamis, 21 Februari 2019. Hendra bilang, pihaknya tak punya pilihan lain, selain menghentikan operasi bisnis Pasaraya Sri Ratu.

Namun penghentian itu hanya akan berlangsung setahun saja. Hendra menyebut, Sri Ratu akan kembali dengan mengusung konsep berbeda. Jika konsep sebelumnya adalah department store atau toko serba ada, maka kelak Sri Ratu akan diubah dengan konsep plaza.

“Dalam satu tahun ini akan melakukan renovasi. Setelah itu akan ganti konsep menjadi plaza, bukan department store atau supermarket lagi. Pokoknya yang sesuai dengan perubahan gaya hidup saat ini,” ungkapnya.

Ia enggan membilang total investasi yang disiapkan untuk merenovasi gedung dan mengubah konsep bisnis Sri Ratu. Namun Hendra menggarisbawahi tak akan menggandeng investor asing dalam mengubah konsep bisnis Sri Ratu tersebut.

“Tidak, tidak ada pemodal lain,” tegasnya. Pada pengujung 2017, sempat dikabarkan bahwa Sri Ratu bakal dibeli investor Tiongkok dan akan dijadikan hotel. Namun menurut Hendra, hal itu justru belum terpikirkan olehnya.

Hendra menyebut Sri Ratu tidak akan dijual. Sepanjang tahun ini, pihaknya juga tidak akan menyewakannya untuk kegiatan usaha lain. “Enggak ada, murni renovasi saja sebelum berubah konsep,” pungkasnya. Kita tunggu saja kehadiran Sri Ratu kembali. (*)

 

Penulis: Fariz Fardianto, Eka Handriana
Editor: Eka Handriana

 

 

You might also like

Comments are closed.