Banyak Hal Berubah, Kardiem Tetap dengan Pecelnya

50 Tahun di Pasar Prembaen

Di trotoar pojok itu, ia berbagi tempat dengan penjaja kudapan khas pasar, juga penjual buah.

SEORANG perempuan lanjut usia berbaju batik keluar dari gereja, usai misa Minggu pagi. Ia berjalan menuju Jalan Depok Kota Semarang, tidak jauh dari gereja. Ia susuri trotoar di pinggir jalan itu lalu berhenti di mulut Gang Prembaen yang ramai. Gang itu telah menjadi pasar sejak dulu.

Perempuan itu mendekati lapak pecel Kardiem yang dijejali pembeli. “Minggu kemarin kemana?” ia menanyai Kardiem.

pasar prembaen semarang
Kardiem menyelesaikan bungkusan-bungkusan untuk pembelinya. (foto: metrosemarang/hendry widodo)

“Saya tidak jualan dua hari. Repot bikin pesanan dari kantor sana itu, dua ratus korsi,” kata Kardiem. Korsi yang ia sebut itu bermaksud porsi. Kardiem selalu menyebut dengan kata korsi untuk satuan bungkus pecel yang ia jajakan. Tangannya menunjuk arah gedung-gedung di Jalan Pemuda, tempat kantor yang ia maksud. Jalan Pemuda bertemu ujung dengan Jalan Depok di persimpangan yang letaknya sekitar 50 meter dari tempat Kardiem duduk.

Perempuan itu pelanggan setia Kardiem. Ketika masih lajang, ia nyaris setiap pagi membeli nasi pecel Kardiem, sebelum waktu masuk kerja di toko pakaian “Mickey Mouse” yang dulu ada di seberang lapak Kardiem. Saat sudah berkeluarga dan punya anak, perempuan itu tetap mampir ke lapak Kardiem usai mengantar anaknya ke sekolah.

 

pasar prembaen semarang
Kardiem di antara penjual lain di ujung gang Pasar Prembaen. (foto: metrosemarang/Hendry Widodo)

Lapak pecel Kardiem dibuka pukul 06.30. Ukurannya tak lebih dari 1×1 meter, tanpa penanda tulisan ataupun papan nama. Hanya meja tua yang ditata di atas trotoar, dengan empat kursi plastik untuk pelanggan yang bisa ditarik dari bawah meja. Di trotoar pojok itu, ia berbagi tempat dengan penjaja kudapan khas pasar, juga penjual buah.

Jika ada pembeli datang untuk menikmati pecel buatan Kardiem di tempat, maka harus duduk berimpitan. Terkadang pembeli pecel Kardiem sampai duduk di muka pintu toko kelontong di dekat sana. Tapi empunya toko sama sekali tak mengeluh, sebab sudah terbiasa saking lamanya Kardiem berjualan.

Kardiem sendiri tak ingat sejak tahun berapa ia berjualan. Ia bahkan tak bisa membilang umurnya. “Sudah lama. Dulu sebelum Pak Harto menang sudah jual pecel. Sebungkus harganya sekethip (15 sen). Zaman harga emas masih lima ribu (Rp5 ribu per gram),” kisah Kardiem.

Pak Harto yang ia maksud adalah mantan Presiden Soeharto. Untuk diketahui, Soeharto resmi dilantik menjadi predisen ke-2 Republik Indonesia pada 21 Maret 1986. Kata Kardiem, pada masa itu ia menerima pesanan berpuluh-puluh bungkus pecel setiap hari. Pemesannya adalah para polisi pernah berkantor di Jalan Pemuda. “Sehari bisa 30 korsi. Kadang-kadang sampai 40 korsi,” ujar Kardiem.

Nenek enam cucu, yang enam-enamnya sudah berumah tangga itu hingga kini masih menepati jadwalnya. Membuka lapaknya pukul setengah tujuh pagi. Tiga puluh menit sebelumnya ia sudah keluar dari rumahnya, melintasi Jalan Soekarno-Hatta untuk menuju Pasar Prembaen.

pasar prembaen semarang
Sayuran dan pelengkap pecel lain yang dimasak Kardiem sendiri. (foto: metrosemarang/Hendry Widodo)

Sejak dulu hingga kini pun, Kardiem masih mempersiapkan dagangan sendiri. Merebus sayur mayur, membuat gendar (nasi yang diolah menjadi padat), menanak nasi, menggoreng peyek kacang, peyek teri, bakwan, dan mendoan, membuat tahu dan tempe bacem, bakmi goreng serta sate telur. Kardiem bahkan membuat sambal pecel sendiri dengan cara ditumbuk.

“Kalau pakai penggiling rasanya tidak enak. Karena penggiling itu kan panas. Kalau masih ada waktu longgar, aku juga bikin kerupuk gendar,” kata Kardiem dengan tangan merogoh kantong plastik besar berisi kerupuk buatannya. Ia berikan kerupuk itu kepada perempuan berbatik, sebagai bonus.

“Nasi pecel dua, enam belas ribu,” ujar Kardiem setelah menyelesaikan bungkusan untuk perempuan berbaju batik.

Matur nuwun ya. Seger waras. Kita ini awet tua,” kata perempuan itu, berucap terima kasih dan berdoa untuk kesehatan mereka, seraya menyodorkan uang kepada Kardiem.

Dongakne wae aku seger waras. Ora nduwe ora opo-opo angger seger waras,” balas Kardiem. Ia selalu mendamba kesehatan bagi dirinya. Biar tidak punya banyak harta, asalkan badan sehat, begitu menurutnya. Kedua perempuan lanjut usia itu sama-sama terkekeh, sebelum perempuan berbaju batik meninggalkan lapak dan Kardiem lanjut melayani pembeli lain. (Eka Handriana)

 

You might also like

Comments are closed.