Sindir Pemerintah, Seorang Buruh Dirantai di Depan Stasiun Tawang

Aksi teatrikal mewarnai peringatan May Day di Stasiun Tawang, Jumat (1/5). Foto: metrosemarang.com/achmad nurseha
Aksi teatrikal mewarnai peringatan May Day di Stasiun Tawang, Jumat (1/5). Foto: metrosemarang.com/achmad nurseha

SEMARANG – Aksi teatrikal mewarnai perayaan May Day yang berlangsung di Stasiun Tawang, Jumat (1/5). Ratusan buruh pabrik Kota Semarang yang bergabung dalam kelompok Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) itu mengkritisi sejumlah aturan yang diterbitkan pemerintah, yang dianggap merugikan pekerja.

Dengan berbalut rantai di tubuhnya, aksi teatrikal menjadi simbol bahwa kaum buruh sekarang ini telah dikerangkeng dengan sederet peraturan pemerintah yang sangat merugikan. Kemudian dengan sekuat tenaga, dia mencoba membuka rantai tersebut.

“Ini merupakan bentuk bahwa kita harus bisa lepas dari peraturan-peraturan pemerintah yang bukannya menguntungkan, malah merugikan bagi kaum buruh,” tegas salah satu demonstran saat berorasi.

Maka, tidak selayaknya pemerintah terus menerus memperlakukan kaum buruh seperti binatang, bekerja, dan diupah hanya cukup untuk makan. Buruh juga merupakan elemen dari rakyat yang mempunyai hak sama untuk hidup berkeadilan, layak, dan sejahtera.

“Kami menolak politik upah murah dengan menaikkan UMP/K sebesar 32% dan menolak kenaikan upah 5 tahun sekali. Kemudian, kami akan terus mendesak pemerintah untuk merubah KHL menjadi 84 item, yang awalnya 60 item,” teriaknya.

Kemudian, pihaknya juga menolak Peraturan Gubernur Jateng No. 65 Tahun 2014 tentang petunjuk teknis survei kebutuhan layak dan pentahapan pencapaian kebutuhan hidup layak. Lalu, menolak penghapusan hak mogok dari konvensi ILO No. 87 dan 98.

Selain itu, beberapa tuntutan juga disampaikan. Diantaranya, menolak kenaikan harga BBM, elpiji, dan TDL. Lalu, mendesak pemerintah untuk merevisi UU No. 2 tahun 2004 tentang PPHI.

“Pada awal Juli 2015 diharapkan pemerintah menjalankan jaminan pensiun buruh, seperti PNS dengan manfaat pensiun 60%-70% dari gaji terakhir,” tegasnya. (ans)

You might also like

Comments are closed.