Sisa-sisa Perjuangan Warga Purwadinatan Lestarikan Warak Ngendok

METROSEMARANG.COM – Perayaan Dugderan sebentar lagi digelar dengan gegap gempita di Semarang. Sejumlah pedagang kaki lima pun bersiap menyerbu pusat kota. Mereka kebanyakan menjual ragam mainan khas Dugderan.

Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Namun, dari sekian banyak mainan yang dijual, tak jauh dari keramaian pusat kota, terdapat segelintir warga Kampung Purwodinatan RT 02/RW II, Semarang Tengah yang masih eksis membuat warak ngendok.

Arif Rahman, seorang warga setempat pada Jumat siang (12/5), tengah disibukan membuat warak ngendok dari anyaman kertas warna-warni dan potongan kayu. Keahliannya membuat warak merupakan buah kerja keras dari keluarga besarnya yang diwariskan secara turun-temurun.

“Pembuatan warak ngendok di sini sudah turun-temurun. Tapi karena hampir punah, saya berpikir eman-eman juga, makanya sampai sejak 1990 silam hanya saya yang masih memproduksi warak,” akunya kepada metrosemarang.com di rumahnya.

Menjelang perayaan Dugderan, ia mengaku sedang panen pesanan. Tiap hari, ia mengerjakan sekitar 150-200 buah.

Paling besar ia membuat warak setinggi 3 meter, sedangkan yang paling kecil berukuran 55 centimeter. Saat ini, orderannya naik 100 persen dibanding tahun lalu pada periode yang sama.

Warak ngendok buatannya hanya dipakai ketika karnaval Dugderan tiba. Tahun ini karnaval Dugderan tetap mengambil rute dari Masjid Kauman hingga Balai Kota. “Dan warak ngedoknya pasti digotong beramai-ramai oleh para peserta pawai,” kata pria 41 tahun ini.

Sebuah warak ngendok ia jual Rp 50 ribu-Rp 3 Juta. Ia mulai menggarap pesanannya sejak dua bulan sebelum puasa. “Allhamdulillah pendapatan tahun ini ikut naik seiring banyaknya pesanan yang datang kemari,” ungkapnya.

Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Membuat warak ngendok ternyata gampang-gampang susah. Ia harus bersusah payah mencari gulungan kertas minyak kemudian dipotong-potong kecil untuk ditempel pada rangka kayu yang telah dibentuk menyerupai hewan berkaki empat.

Saban hari ia membuat warak ngendok sendirian. Kerumitannya tergantung pada besar-kecilnya warak yang dipesan. “Semakin kecil, semakin rumit,” kata Arif. Jika ukurannya lebih besar, ia menjamin sehari pasti jadi.

Dalam sejarahnya, warak ngendok merupakan hewan mitologi Jawa yang menyerupai naga pada bagian kepala, kambing pada badan dan kedua kakinya.

Di era masa kini, pembuatan warak ngendok terkendala minimnya bahan baku kertas minyak. Apalagi, sekarang mainan warak plastik yang diimpor dari Cina marak dijual di pasaran.

Karena itulah, ia lebih nyaman menerima orderan saat Dugderan ketimbang menjualnya secara massal. “Kalau dijual pinggir jalan jarang laku. Lagipula bahannya susah dicari, sekarang mainan warak buatan Cina juga banyak dijual. Ya akhirnya saya pilih terima pesanan saja,” bebernya. (far)

You might also like

Comments are closed.