Situs Watu Tugu dan Peranan Semarang di Masa Lalu

Situs Watu Tugu pada tahun 1941 (sumber: Koninklijk Institute Taal- Laan- en Volkenunde)
Situs Watu Tugu pada tahun 1941 (sumber: Koninklijk Institute Taal- Laan- en Volkenunde)

Semarang adalah sebuah kota yang dibangun di atas tanah endapan yang prosesnya berlangsung selama ratusan tahun. Sebuah perairan dangkal dan rawa-rawa yang membentuk proses sedimentasi selama ratusan tahun, kemudian daratan pun terbentuk dan menambah daratan yang membentang ke arah utara dari kawasan pegunungan di daerah selatan.

Kota Semarang dulu hanyalah sebuah daerah yang terbentuk dari gugusan kepulauan dan pemukiman, yang mula-mula dikenal dengan sebutan Bukit Pragota. Menurut catatan Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah Jawa Tengah, pada abad ke 8 Masehi, kawasan Bukit Pragota ini telah tercatat dalam wilayah kekuasaan Mataram Kuno.

Sulit untuk menemukan tinggalan masa kerajaan Hindu maupun Buddha di Semarang, yang merupakan tanda peradaban mula-mula di kawasan Nusantara ini. Besar kemungkinan karena memang Kota Semarang ini, dinilai tidak memiliki nilai strategis atau mungkin belum merupakan sebuah kota, masih berupa kawasan pemukiman-pemukiman kecil. Ini tidak seperti kota di kawasan pesisir lainnya katakanlah Lasem, Tuban, Gresik, dan sebagainya yang memang telah memiliki peranan penting pada masa kerajaan Hindu-Buddha.

Namun, penemuan situs Tugu oleh sejarawan Belanda, J. Knebel, pada tahun 1938 agaknya membuat beberapa orang berhipotesa bahwa pada masanya Semarang sudah memiliki peranan penting. Situs Watu Tugu yang terletak di Tugurejo, Kecamatan Tugu, ini ditengarai adalah sebuah penanda akan batas antara kerajaan Majapahit dan Pajajaran.

Situs Watu Tugu ini hanyalah sebuah batu berbentuk stupa yang menjulang setinggi 4 meter di puncak sebuah bukit di tepi jalan Raya Semarang-Kendal KM 11. Jangan terkecoh apabila berkunjung ke Situs Watu Tugu dan menemukan candi di sebelah stupa ini, karena sebenarnya candi itu tidak asli, dibangun oleh seorang pengusaha Semarang di tahun 1980-an, yang justru merusak otentisitas Situs Watu Tugu. (Komunitas Lopen Semarang)

“Kunjungi laman Facebook Komunitas Lopen Semarang, salah satu komunitas pecinta sejarah di kota Semarang. Sapa juga mereka lewat akun Twitter @lopenSMG.”

 

You might also like

Comments are closed.