Situs Watu Tugu Makin Merana di Tengah Gempuran Penambang

Situs Watu Tugu semakin tergerus aktivitas penambangan yang berlangsung di sekitar lokasi. Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad
Situs Watu Tugu semakin tergerus aktivitas penambangan yang berlangsung di sekitar lokasi. Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad

 

METROSEMARANG.COM – Situs Watu Tugu yang berada di Kelurahan Tugurejo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang semakin merana. Situs yang ditengarai sebagai penanda batas antara Kerajaan Majapahit dan Pajajaran tersebut kini makin terancam dengan penambangan yang berada di area setempat.

Pantauan metrosemarang.com, penambangan yang dilakukan persis di depan pintu masuk Candi Tugu dibangun mengelilingi situs yang juga biasa disebut Monumen Tugu. Di sisi barat, tanahnya sudah dikeruk hingga batas dinding pagar candi.

Setiap hari alat-alat berat mengeruk tanah yang banyak kandungan batunya. Batu tersebut kemudian dimasukkan ke mesin penggilingan. Beberapa alat berat seperti buldozer, mesin penggiling batu, dan dua  alat berat pengeruk tanah terlihat standby di sana.

Suara berisik dari proses penggilingan batu pun selalu terdengar keras. Suasana di area Watu Tugu yang sejuk dan hijau karena letaknya di perbukitan, kini sudah mulai berubah akibat penambangan hingga kini terus berlangsung.

Juru kunci Sumarto (59) mengungkapkan, penambangan batu di dekat Watu Tugu tersebut sudah berlangsung sekitar lima tahun yang lalu. “Sudah lama, sekitar lima tahunan. Lokasi ini memang kurang terawat,” katanya, saat ditemui di lokasi, Senin (23/11).

Aktivitas penambangan sudah nyaris mengepras tangga Candi Tugu yang menjadi pintu masuk menuju situs Watu Tugu. Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad
Aktivitas penambangan sudah nyaris mengepras tangga Candi Tugu yang menjadi pintu masuk menuju situs Watu Tugu. Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad

 

Menurut Sumarto, lokasi situs yang berada di lahan pribadi milik pengusaha lokal semarang tersebut, menjadi kendala pemerintah. Sumarto sudah berkali-kali meminta bantuan anggaran untuk perawatan dan pemugaran kawasan situs yang rusak. Namun, karena hak tanah milik pribadi, baik pemerintah dan kelurahan setempat tak bisa berbuat banyak.

Situs Watu Tugu yang ditemukan sejarawan Belanda, J. Knebel, pada tahun 1938 ini hanyalah sebuah batu berbentuk stupa yang menjulang setinggi 4 meter di puncak sebuah bukit di tepi jalan Raya Semarang-Kendal KM 11. Di sekelilingnya terdapat beberapa bangunan candi yang sengaja dibangun oleh pemilik tanah pada tahun 80’an silam dan kini menjadi salah satu lokasi favorit muda mudi untuk berpacaran. (CR-08)

You might also like

Comments are closed.