Sketsa Romo Budi di Minggu Pagi

Klub Potret Komunitas ORArT ORET Semarang

Ragam warna ditambahkan untuk memunculkan karakter Romo Budi, rohaniwan interreligius yang juga dikenal sebagai budayawan itu

MINGGU pagi, 16 Desember 2018, menjadi akhir pekan yang istimewa bagi Romo Aloysius Budi Purnomo. Ia kedatangan beberapa perupa di tempat tinggalnya, Pastoran Johannes Maria Unika Soegijapranata Semarang. Tamu-tamu Romo Budi, begitu ia biasa dipanggil, memiliki spesialisasi membuat gambar sketsa. 

romo budi
Romo Budi (duduk) bersama para perupa yang membuat sketsa wajahnya. (foto: metrosemarang/Fariz Fardianto)

Tak kurang dari 12 perupa yang turut serta pada Minggu pagi itu. Aryo Sunaryo, S Hartono, Yuventus, Arif Eko, Suyanto, Ping Jian, Widya Pribadi, Aditya Hidayat, Paminto, Tommy, Agus Budi Santosa, dan Imron. Mereka terkumpul lantaran sebuah pengumuman yang disiarkan di dinding Facebook ORArT- ORET, beberapa hari sebelumnya.

Romo Budi duduk di ruangan yang lumayan longgar, menghadapi para perupa itu. Ia tampil santai mengenakan kaus merah. Lilitan sarung hitam ia pilih sebagai bawahan kausnya. Rambutnya yang gondrong ia biarkan terurai seperti biasanya.

Obrolan akrab diselingi canda tawa memenuhi ruangan. Hari itu, wajah Romo Budi lah yang menjadi fokus sketsa yang digoreskan pada kertas para perupa. Ragam warna ditambahkan untuk memunculkan karakter Romo Budi, rohaniwan interreligius yang juga dikenal sebagai budayawan itu.

Kegiatan ini diinisiasi oleh Koordinator ORArT ORET, Dadang Pribadi. ORArT ORET sebagai kelompok penikmat dan pelaku seni di Kota Semarang memiliki program bernama Klub Potret. Adalah program menggambar atau melukis potret atau wajah dan figur melalui model langsung, sekali dalam sebulan. Dalam setiap program ini, para perupa ini melengkapi peralatan mereka sendiri.

Romo Budi dipilih sebagai salah satu model lantaran berbagai alasan. Diantaranya, karakter Romo Budi yang kuat. Romo Budi telah banyak berbuat untuk kerukunan antar umat beragama. Ia adalah peraih penghargaan Pembina Budaya dan Kearifan Lokal dari Lembaga Kebudayaan Nasional Indonesia.

“Dia cukup konsisten dalam memperhatikan dan mengangkat budaya interreligius demi kerukunan. Romo Budi juga aktif bergerak dalam menjadikan budaya dan agama sebagai jalan mewujudkan peradaban kasih,” Dadang Pribadi.

Selama satu jam, para perupa itu menggambar sketsa wajah Romo Budi dari berbagai sisi. Romo Budi menerima kunjungan dan apa yang terjadi dalam kunjungan belasan perupa itu sebagai bagian dari peristiwa budaya interreligius. Apa yang dilakukan Komunitas ORArT ORET itu disebut Romo Budi sebagai aksi budaya kerukunan.

“Para seniman dari ORArT ORET yang anggotanya dari beragam agama dan budaya menjadi salah satu pengawal reaktualisasi relasi agama dan budaya demi peradaban kasih. Ini berguna untuk bangsa Indonesia yang rukun dan bersaudara. Terima kasih telah memilih saya menjadi model aksi budaya,” ujar Romo Budi. (*)

Reporter: Fariz Fardianto
Editor: Eka Handriana
You might also like

Comments are closed.