Melacak Hubungan Smartphone, Google, dan Kerusakan Lingkungan Hidup

Mari melacak terjadinya hubungan signifikan antara smartphone, pencarian di Google dan kerusakan lingkungan hidup.

Semakin bergantung pada pemakaian internet, pemakaian kertas semakin hemat, namun, ketergantungan terhadap internet menghasilkan kerusakan lingkungan hidup yang tidak sepadan dibandingkan penghematan kertas itu.

SMARTPHONE DAN GOOGLE MENYUMBANG KERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP? Setelah bisa berhemat kertas dengan internet, konsumsi energi untuk smartphone dan internet justru meningkat.
SMARTPHONE DAN GOOGLE MENYUMBANG KERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP? Setelah bisa berhemat kertas dengan internet, konsumsi energi untuk smartphone dan internet justru meningkat.

dari Kertas ke ebook, dari CD ke .mp3

Menurut infographic yang menyajikan hasil survei “How the Internet has Made the World Greener” (Bagaimana Internet sudah Membuat Dunia Lebih Hijau) di situs Graphs.net, terjadi penghematan plastik di dunia.

[box type=”info” align=”” class=”” width=””]
Pada tahun 2000, dunia memproduksi 730 juta keping cakram-padat (CD), menurun menjadi 223,5 juta pada tahun 2012. Di sisi lain, penjualan trackrekam digital (biasanya berupa .mp3) pada tahun 2003 baru 19,2 juta menaik menjadi 1.172 juta pada tahun 2012. Ini sama saja dengan penghematan plastik (bahan utama pembuatan CD) sebesar 97,5 juta pound.
[/box]

Sulit untuk memantau pemakaian kertas kebutuhan perkantoran. Setidaknya, jumlahnya bisa dipantau dari pemakaian kertas foto, karena kertas foto bisa diketahui jumlah produksi dan pemakaiannya. Semakin lama, pemakaian kertas foto semakin hemat sejak pemakaian internet meningkat, terutama sejak orang lebih suka menampilkan foto di Facebook dan Instagram.

Budaya “selfie”, yaitu memotret diri-sendiri dengan ponsel lalu menampilkannya di jejaring sosial, mendukung penghematan kertas ini.

Jika dikalkulasi, orang lebih suka “upload” daripada “print” foto. Di Facebook, per hari ada 300 juta foto di-upload, di Instagram 5 juta foto per hari. Hemat 90 juta pound kertas dibandingkan pemakaian kertas sejak 2000-2010.
Angka yang menyenangkan, terjadi di produksi buku kertas, berhadapan dengan ebook (buku berbentuk file) yang bisa menghemat pemakaian kertas sejak tahun 2000 sampai 200 juta pound.
Angka tertinggi adalah pemakaian kertas berhadapan dengan pemakaian email, sejak tahun 2000, yang bisa menghemat 2.750 juta pound.

Sebenarnya, di teknologi “special effect” dalam pembuatan film, juga lebih ramah lingkungan. Orang tidak selalu memakai peledak sungguhan untuk menghasilkan efek tempat yang dihancurkan.

Statistik di atas, berpihak pada sisi penghematan bahan baku kertas. Perkembangannya memang sepintas menyenangkan, orang beralih ke versi digital dalam mendengarkan musik, mencetak foto, berkomunikasi, dan membaca buku.

Ketergantungan Internet, Ketergantungan pada Sampah

Sepintas, kebiasaan di atas sangat baik. Apa konsekuensi dari “kebiasaan baik” di atas? Ketergantungan terhadap pemakaian internet, semakin tinggi. Pemakaian piranti yang sulit dimatikan. Orang semakin terhubung, semakin tidak mau melepaskan diri dari piranti bernama komputer dan gadget.

Internet digerakkan oleh server-server besar, mesin-mesin yang saling-terhubung, mempertukarkan data, melintasi negara. Komputer terhubung ke internet dengan sistem TCP/IP (transmission control protocol/internel protocol), sedangkan gadget dan piranti mobile terhubung dengan sistem GPRS.
Tanpa sistem ini, tidak ada internet. Bisa dibilang, internet tidak pernah mati, atau lebih tepatnya: tidak bisa dimatikan.

Bayangkan seluruh piranti dengan fitur “bisa internetan” semuanya sedang menyala.
Itu sama artinya dengan pemakaian listrik serta emisi karbon dari semua piranti itu. Jumlahnya, mencengangkan.

[box type=”warning” align=”” class=”” width=””]
Bumi dihuni 6,7 milyar manusia, 61% terdaftar menggunakan ponsel. Transfer data 1 Gb yang dipakai ponsel di jaringan 3G, seluruhnya membutuhkan 939 MJ (megajoules), setara dengan 7,3 galon gas, atau berarti emisi CO2 sebesar 27 Kg. Ponsel yang tidak terpakai, pada tahun 2013, dan terbuang jumlahnya 140 juta, atau berarti setiap detik ada 4 ponsel terbuang.
Padahal, setiap 515 ponsel yang didaur-ulang bisa selamatkan energi untuk memberi tenaga listrik pada satu rumah dalam satu tahun. Untuk charging semua ponsel yang ada di dunia, butuh tenaga listrik yang setara dengan 584.000 galon gas dan menghasilkan 35.000.000 pound CO2 (karbon dioksida).
Ini terjadi setiap hari.
[/box]

Ditinjau dari sisi penghematan kertas, memang internet membuat pemakaian kertas lebih hemat, namun ditinjau dari sisi penggunaan ponsel ternyata koneksi itu selalu menghasilkan polusi tak terhindarkan dalam jumlah besar, tidak sebanding dengan penghematan kertas.

Faktor Pendukung : Google, Spam, dan Aplikasi

Ketergantungan terhadap koneksi internet, sebenarnya adalah kebutuhan orang terhadap berita, pendidikan, dan hiburan di internet.

Jika disingkat, ini terjadi karena konsumerisme.

Tidak hanya pada pemakaian internet sebagai media iklan, namun juga pada tingkat pemakaian aplikasi. Para pemakai internet, mungkin tidak semuanya membeli product retail semacam baju, toileter, ponsel, yang diiklankan dengan website, namun, mereka tetaplah pemakai aplikasi, tidak bisa hidup di internet tanpa aplikasi.

Sudah menjadi kebiasaan, orang menemukan “sesuatu” di website karena mereka mencari “sesuatu” dengan bantuan Google.
Bisa dibilang, Google memiliki sumbangan besar terhadap penggunaan internet.
Disadari atau tidak, Google menjadi pengantar dan penentu apa yang mereka lakukan di internet.

Berdasarkan kalkulasi angka pemakaian ponsel di atas, disertai ekses negatifnya terhadap lingkungan, didapatkan hasil begini: setiap mengetikkan “sesuatu” di Google, Anda menyumbang 0,2 gram emisi karbon.

Berapa kali Anda menggunakan Google sambil berlama-lama di internet?
Website berlomba-lomba untuk menjadi nomor satu di page-one, halaman-satu hasil pencarian Google. Tidak jarang pula menggunakan metode blackhat, dengan melakukan rekayasa sosial, ataupun menyebarkan spam. Hasilnya: sering ditemukan situs “sampah” atau iklan yang tidak perlu di-klik. Content semacam ini, sangat banyak di internet, membuat browser dan system Windows rusak, akhirnya durasi pemakaian internet semakin lama, semakin tidak efisien.

Bisa dibilang, selain Google, nominasi berikutnya yang membuat berinternet lama adalah spam.

Peta Baru Konsumerisme: Irasionalitas

Amerika dulu didirikan atas dasar puritan dan penyewa, namun pada perkembangannya, sekarang menguasai 28% produk di dunia. Amerika identik dengan kapitalisme dan konsumerisme.

Bagaimana masyarakat konsumerisme terbentuk?
Amerika memiliki “mimpi”, salah satunya dengan mengkapitalisasi hasrat kesadaran seseorang, dengan menjual barang (goods), dengan janji pengiriman (delivering). Mereka mengirimkan kekuasaan, status, daya tarik seksual, glamor, kesehatan, dll. atas dasar hubungan emosional.

“Kekuasaan”, telah menjadi watak pengetahuan, kata Michel Foucault. Pengertian ini berbeda dengan anggapan umum, bahwa siapa yang memiliki pengetahuan akan menguasai.

Status sosial, melalui konsumerisme, menjadi cara tercepat dalam menentukan “kelas” dan hubungan sosial. Starbuck, dicitrakan sebagai kelas tinggi para penikmat kopi, terlepas dari kualitas kopi senyatanya. Apa “yang seharusnya” (dalam iklan Starbuck) tidak lagi terhubung dengan apa “yang senyatanya” (rasa kopi dan layanan outletStarbuck).

Kesehatan atau medis, masih menjadi cara untuk mendisiplinkan tubuh yang paling efisien. Medis memperkenalkan tubuh yang fungsional. Orang akan makan tiga kali sehari jika percaya “mitos” kesehatan. Orang akan mencari makanan bernutrisi di mal.

Freud adalah salah satu pahlawan terjadinya konsumerisme.
Freud berpendapat, bahwa manusia sering bertindak secara irasional saat emosi terlibat, dan mengarah kepada keyakinan bahwa obyek-obyek (yang dia konsumsi) adalah simbol karakter mereka. Obyek konsumsi, menurut teori ini, adalah untuk memanipulasi pikiran manusia.

Contoh kasus. Pada tahun 1928, tabu bagi perempuan untuk merokok, menurut psikoanalis : rokok itu simbol penis. Isu ini justru mengantar Lucky Strike untuk menggunakan rokok sebagai “suluh kebebasan”, merokok berarti kesetaraan perempuan (female equality). Lucky Strike laris manis. Edward Bernay, keponakan Sigmund Freud, yang mengantar isu ini, menjadi pemikir yang berjasa mengantarkan irasionalitas Amerika dan produk-produknya.

Tidak cukup berhemat kertas. Berhemat koneksi dan sumberdaya, menjadi langkah berikutnya. Kita sedang berada dalam konsumerisme gila-gilaan, hasil dari mimpi kolektif orang-orang sedunia.

Sekarang, “irasionalitas” dan “mimpi” adalah dua sisi mata uang logam dengan harga yang sama. Mungkin harga itu sudah menjadi harga diri.

Berapa jam Anda berhenti googling hari ini?

Day Milovich,,
Webmaster, artworker, penulis, tinggal di Semarang dan Rembang.

You might also like

Comments are closed.