Smartphone, Pemberitaan Berbasis Teks, dan Tingkat Kepercayaan Pembaca

Metro Talk Smartphone, Pemberitaan Berbasis Teks, dan Tingkat Kepercayaan Pembaca

Berita konflik Semen Indonesia di Rembang sempat ramai ketika diberitakan tentang aksi demo ibu-ibu kontra aparat kepolisian. Hashtag #saverembang di-retweet, share link di Facebook juga ramai. Pemberitaan media-media besar, terhitung terlambat, karena banyak media baru datang setelah peristiwa terjadi.

Anda akan kesulitan mendengar rekaman “jeritan ibu-ibu” itu di media online dan jejaring sosial. Banyak kawan tidak bisa menjawab saat saya bertanya, “Mana rekaman jeritan itu? Benarkah itu jeritan akibat kekejaman polisi?”. Sebelum memperkarakan sikap, mari menilik bagaimana pemberitaan itu disajikan. Ada satu website radio lokal Rembang menyisipkan audio (rekaman jeritan) itu di postingan namun sekarang postingan ini sudah tidak ada karena perpindahan alamat website.
Menurut dengar-pendapat warga dengan Gubernur Ganjar, dalam sebuah kesempatan, kejadiannya tidak demikian, namun, di jejaring sosial sudah terlanjur ada citraan terjadinya kekejaman aparat kepolisian terhadap ibu-ibu di Tegaldowo Rembang.
Ada banyak pihak yang terlibat di konflik Semen Indonesia di Rembang, dengan posisi keberpihakan masing-masing, dengan sumber beritaberlainan. Kalau mau konfirmasi, lacak di lokasinya, jangan dari produk berita yang sudah jadi.
Bukan rahasia kalau antar-jurnalis memiliki jaringan email, mereka sering berbagi berita bersama. Sumber Antara (kantor berita) sering ada di banyak media. Jenis berita seperti ini, dalam istilah blogger, disebut “copy-edit”. Satu sumber keliru, bisa keliru di beberapa media.
Media besar, bukan jaminan memberikan informasi valid. Kejadian sama, pernah terjadi saat peristiwa pemboman di Boston (2014) di mana banyak media besar salah menyebut jumlah korban bahkan keliru menyajikan detail. Mereka terlalu percaya pada narasumber lokal, tidak melakukan “check and balance”, dan menggunakan data dari “setelah kejadian”.
Pemakaian smartphone, sebagai “mesin jurnalisme instan”, melakukan penyebaran viral: broadcast BBM, status Facebook, share link, retweet, dengan mudahnya memperoleh tanggapan-langsung dari orang lain. Orang cenderung menyampaikan dan menanggapi pesan tanpa batas waktu. Semua orang bisa menjadi penyebar berita langsung dari ponsel.
Sehari, seseorang yang berlangganan berita via email, dari 3 media berita online, atau follow 10 media online, bisa membaca 200+ judul berita (headline). Tidak jarang, status berita tersebut merupakan “running news” (berita berlanjut), misalnya: sekarang diberitakan “ada kecelakaan”, 30 menit berikutnya baru diungkap “jumlah korban”, sejam kemudian “kronologi peristiwa”. Tidak langsung 5W1H.
Berita hanya dengan 5W1H, bagi saya belum cukup jika tidak dilengkapi foto, audio, ataupun video. Jika saya menulis status BBM “sedang minum kopi dengan Dian Sastro”, orang bisa tidak percaya, namun lain soal jika display picture BBM bergambar saya dan Dian Sastro sedang minum kopi bersama. Sekali lagi, pemakaian foto realistik, insert audio, ataupun video, bisa menaikkan tingkat kepercayaan pengakses.
Rekaman 2 menit, dengan ponsel Blackberry, bisa disisipkan ke postingan, ukurannya juga tidak terlalu besar, hanya sekitar 150 Kb untuk durasi 2 menit. Hosting video di YouTube bisa tanpa batas, gratis, dengan bandwith cepat.
Saat orang mudah merekam dan membagikan content multimedia, berita di media online masih didominasi teks. Tidak ketinggalan, website-website radio online, sebagian besar masih berbasis teks. Streaming radio ada, tetapi saat pemberitaan, berapa radio yang menyisipkan insert audio wawancara dalam postingan berita mereka?
Orang lebih suka informasi selebritis (sebenarnya: selebritas) di televisi dan internet, mungkin karena di jenis acara ini, disertakan wawancara (video).
Bandingkan dengan kebutuhan dan kebiasaan orang download atau koleksi musik dan video. Apakah ini berarti orang terlalu percaya pada apa kata media ataukah sebaliknya? Anda yang memutuskan.
Penggunaan kekuatan ampuh fotografi jurnalistik dan video, sebagai berita tersendiri, masih didominasi media-media besar. Mereka disukai karena menampilkan foto realistik, tanpa manipulasi, bukan foto ilustrasi. Penyebaran viral di Twitter dan Facebook, kebanyakan karena foto-depan berita menarik minat pembaca.
Masih terlalu banyak media yang mengandalkan kekuatan kata; pemakai jejaring sosial banyak menerimanya begitu saja, tanpa konfirmasi dan pemeriksaan lebih lanjut. Berita yang di-share, tidak menampilkan informasi baru, yang muncul justru persuasi (bujukan) untuk bersikap. Apakah saya butuh informasi pejabat gunting pita? Apakah meliput “siapa” 10 korban dalam kecelakaan tadi malam lebih menarik daripada mempermasalahkan pembangunan jalannya yang bermasalah? Lots of voice, zero information.
Media online, bisa lebih bagus dari televisi, mengingat tingkat interaktivitas media lebih tinggi. Sekarang, dengan fasilitas Photon orang bisa posting foto di CDN gratis WordPress, ada layanan podcast, streaming, dan hosting video tanpa batas di YouTube. Siapapun bisa menjadi pemberita, “mempengaruhi” pengakses internet dengan caranya sendiri. Semua terserah pada pemberita dan pengakses berita.

Setiap pembaca berhak melacak informasi yang mereka terima. Hashtag dapat menyulut peperangan, terutama saat tidak diberitakan dengan validitas data. Fotografi, audio, dan video, dapat lebih menjelaskannya.

Day Milovich,,
Webmaster, artworker, penulis, tinggal di Semarang dan Borobudur

You might also like

Comments are closed.