Soal Ajaran Millah Abraham, Ini Kata Eks Gafatar

Pendataan eks anggota Gafatar di Pelabujn Tanjung Emas, Rabu (27/1). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Pendataan eks anggota Gafatar di Pelabujn Tanjung Emas, Rabu (27/1). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

METROSEMARANG.COM – Ada banyak kisah yang didapatkan orang-orang yang mengikuti ajaran Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Orang-orang Gafatar yang pulang malam ini ke Semarang berbagi cerita kepada metrosemarang.com.

Salah satunya diungkapkan oleh satu keluarga asal Wonogiri yang ikut dipulangkan dari Kabupaten Kubu Raya Ketapang ke Semarang. Yati, bekas anggota Gafatar asal Dusun Pongok Kabupaten Wonogiri mengaku bingung mengapa organisasinya dianggap bersalah oleh banyak orang.

“Mana yang salah. Kami enggak pernah mengganggu warga Kubu Raya kok dianggap menyimpang. Ini malah dipulangkan. Maksudnya itu apa,” kata wanita berusia 47 tahun ini saat dikumpulkan di lantai dua terminal penumpang Pelabuhan Tanjung Emas,

Yati berkata keluarganya memang sengaja ikut Gafatar karena bingung dengan kondisi Islam yang terjadi selama ini. Menurutnya Islam sekarang terbagi menjadi 73 jenis. “Ada Islam ini ada Islam itu. Nah saya ikutnya di antara salah satunya itu,” katanya.

Islam yang ia ikuti selama ini, tidak mengajarkan perpecahan. Semuanya serba bersama-sama. Bahkan, umat Nasrani dan agama lainnya boleh ikut bergabung karena sistemnya kebersaman.

Saat ditanya soal ajaran Millah Abraham yang disebut-sebut dianut oleh anggota Gafatar, ia pun membenarkan. Baginya Millah Abraham baginya termasuk dalam ajaran Islam.

“Ada kok mas, di Surat 63 Ayat 166 itu disebutkan Millah Abraham. Setahu saya nama suratnya itu An An’am. Cari aja di Alquran ada,” kilahnya.

Di Surat 63 Ayat 166 alias An An’am Ayat 166 ia mengklaim ada sebuah ajaran tentang Nabi Ibrahim yang menganut Abraham. “Ada itu Ibrahim namanya Abraham. Dan di ayat itu ada bunyinya ‘Ya untuk diri yang artinya sistem’,” ungkap Yati.

Untuk menjalankan ajaran Millah Abraham, Aisyah sang anak pun menimpali bahwa semua orang tidak ada rasa benci dan membeda-bedakan agama. “Sistemnya kebersamaan. Mau Kristen Islam Hindu semuanya saudara kita. Agama itu urusan pribadi masing-masing,” ujar Aisyah.

Selama gabung Gafatar, Aisyah tak pernah lagi melanjutkan sekolah. Ia yang masih berusia 18 tahun mengakui selalu belajar sendiri tentang kehidupan. “Saya diajari eksperimen-eksperimen sama guru di sana. Contoh kalau mau buat saluran air diajari gimana buatnya,” ucapnya.

Aisyah dan ibunya merupakan pengikut Gafatar yang lama mendiami permukiman eksklusif di Kabupaten Kubu Raya Kabupaten Ketapang. Selain dia, masih ada tiga adiknya dan ayahnya yang ikut dipulangkan malam ini bersama 1.281 orang naik KM Dharma Ferry. Mereka tiba di Pelabuhan Tanjung Emas tepat pukul 18.30 WIB.

Pantauan di dermaga Pelabuhan Tanjung Emas, ribuan bekas pengikut Gafatar tersebut masih didata oleh petugas di lantai dua terminal penumpang. (far)

You might also like

Comments are closed.