Sobokartti, Saksi Pertempuran yang Terlupakan

Dirancang Arsitek Belanda, Diduduki Jepang

Medan pertempuran kala itu menyebar di wilayah Semarang dalam radius 10 kilometer dari Tugumuda. Salah satunya di Volkstheater Sobokartti di Karenweg

SOEKARNO-Hatta telah mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Sebagian tentara Jepang telah menjadi tawanan. Bagi pemuda Semarang, tak ada lagi alasan untuk tentara Jepang masih bebas berkeliaran di seluruh kota dan bersenjata.

Aula Rumah Sakit Purusara (sekarang RSUP dr Kariadi) digunakan sebagai markas perjuangan pemuda Semarang. Salah satu yang dilakukan adalah mencegat mobil-mobil tentara Jepang dan melucuti senjata mereka. Hal itu menimbulkan ketegangan yang semakin hari semakin meruncing.

 

Masih ada pusara di sebelah barat, tempat mereka dikubur satu liang lahat dahulu.
-Yoyok Subekti, Bendahara Perkumpulan Seni-Budaya Sobokartti-

Hari Minggu petang, 14 Oktober 1945, delapan polisi khusus yang menjaga reservoir diserang dan dilucuti senjatanya oleh tentara Jepang. Mereka dibawa ke markas Kido Butai, pasukan Jepang paling berani, di Jatingaleh.

Setelahnya, tersiar kabar bahwa Reservoir Siranda telah ditaburi racun oleh tentara Jepang. Saat itu, Reservoir Siranda merupakan satu-satunya sumber air minum penduduk kota. Sebaran kabar itu meluas, penduduk kota pun gelisah.

Selepas Maghrib, Kepala Laboratorium Rumah Sakit Purusara (sekarang RSUP dr Kariadi), dr Kariadi mendapatkan telefon dari atasannya terkait penebaran racun itu. Saat itu juga dr Kariadi bersiap untuk memeriksa reservoir.

Sang istri, drg Soenarti mencegah suaminya, oleh sebab tentara Jepang telah melakukan penyerangan di mana-mana, termasuk di jalan menuju Reservoir Siranda. Namun dr Kariadi bersikukuh untuk memeriksa kepastian desas-desus penebaran racun itu.

Nahas, mobil yang ditumpangi dr Kariadi bersama tentara pelajar yang menyetirinya, dicegat tentara Jepang di Jalan Pandanaran. Dokter Kariadi ditembak.

Ia tewas di ruang bedah menjelang tengah malam pada usia 40 tahun. Kabar tewasnya sang dokter dengan cepat tersebar ke seluruh kota, hingga menyulut kemarahan penduduk kota.

Hari berikutnya, peperangan pecah di berbagai penjuru Kota Semarang. Tentara Jepang menyerang kampung-kampung. Pemuda di sekitar Semarang datang membantu penduduk mempertahankan Kota Semarang.

Peperangan berakhir pada 20 Oktober 1945, setelah pasukan Sekutu datang melalui pelabuhan Semarang dengan kapal HMS Glenry. 2.000 orang Indonesia tewas, termasuk dr Kariadi. Begitu pula dengan 850 tentara Jepang.

Itu adalah kisah pertempuran mempertahankan kedaulatan Indonesia yang berlangsung selama lima hari di Semarang. Pertempuran itu diperingati setiap tahun. Seperti tahun-tahun sebelumnya, peringatan tahun ini yang dilakukan pada Minggu malam, 15 Oktober 2018, digelar di area monumen Tugumuda.

 

Pusara di Sobokartti

Ada fakta yang jarang dibicarakan orang di sekitar waktu dan tempat peringatan itu. Bahwa pertempuran tak hanya terjadi di pertemuan Jalan Pemuda, Jalan Imam Bonjol, Jalan Dokter Sutomo, dan Jalan Pandanaran, yang saat ini menjadi area monumen Tugumuda itu saja. Melainkan, medan pertempuran kala itu menyebar di wilayah Semarang dalam radius 10 kilometer dari Tugumuda saat ini.

Salah satu tempat yang menjadi saksi peperangan adalah bangunan bernama Volkstheater Sobokartti di Karenweg (sekarang bernama Jalan dokter Cipto, Semarang Timur). Bangunan itu sendiri kini dikenal dengan sebutan Gedung Sobokartti.

pertempuran lima hari
Gedung Sobokartti di Jalan Dr Cipto 31-33 Semarang. (foto: metrosemarang/Fariz Fardianto)

Pada masa pendudukan Jepang, Sobokartti pernah dijadikan markas tentara Jepang. Tempat ini tak luput dari operasi pelucutan senjata yang dilakukan para pemuda Semarang terhadap tentara Jepang. Pertempuran yang kemudian terjadi setelah upaya pelucutan itu juga meletus di tempat ini.

Tak kurang dari 18 pemuda Semarang gugur di Volkstheater Sobokartti. Jenazah mereka lantas dikebumikan dalam satu lubang di halaman gedung, kini tepatnya di bagian belakang. “Mereka meninggal setelah terlibat pertempuran dengan tentara Jepang selama lima hari berturut-turut. Masih ada pusara di sebelah barat, tempat mereka dikubur satu liang lahat dahulu,” kata Yoyok Subekti, Bendahara Perkumpulan Seni dan Budaya Gedung Sobokartti.

Berdasar keterangan pada laman situs Sobokartti, sebanyak 12 jenazah telah dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal, Semarang pada tahun 1960. Pada nisan mereka tertera tulisan “Pahlawan Tidak Dikenal”. Sementara enam jenazah lainnya berhasil dikenali, lalu dimakamkan kembali oleh keluarga mereka.

 

Teater Jawa Tempat Berkarya

Siang hari pada awal pekan ketiga bulan Oktober 2018, Gedung Sobokartti tampak sepi. Pintu gedung tertutup, tapi masih bisa mengintip bagian dalam dari sana. Di dalam ruangan tampak meja-meja dengan banyak kursi. Sebuah papan nama besar bertuliskan “De Volks-Kunst Vereeniging. ‘SOBOKARTI’. Perkumpulan Seni-Budaya dan Gedung Cagar Budaya”. Pada papan nama tersebut tertera tanggal berdiri 5 Oktober 1929.

Tanggal itu disebut sebagai waktu berdirinya Gedung Sobokartti. Namun sebenarnya perkumpulan Sobokarti sendiri telah disahkan pada 6 September 1926, berdasarkan anggaran dasar Kunstvereeneging Sobokartti. Hal itu disebut dalam penjelasan di laman situs Sobokartti.

Dalam artikel berjudul “Sobokartti dan Demokratisasi Kesenian Jawa”, Ketua Perkumpulan Seni-Budaya Sobokartti, Tjahjono Rahardjo menyebut tanggal pendirian Sobokartti tak diketahui pasti. Selanjutnya Tjahjono menerangkan, dalam surat keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda September 1929 tentang perubahan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga Sobokartti, disebutkan Sobokartti telah berdiri sejak 9 Desember 1920.

Pembentukan Volkskunstvereeneging Sobokartti di Semarang sendiri tak terlepas dari Politik Etis yang dijalankan pemerintah kolonial. Situasi politik pada masa itu memberi celah bagi masyarakat pribumi untuk mendapat pendidikan modern. Selanjutnya muncul kelompok terpelajar yang sadar dan bangga pada budaya mereka.

Pada 17 Agustus 1918 di Yogyakarta berdiri organisasi Kridha Beksa Wirama (KBW) atas permintaan para pelajar yang tergabung dalam Tri Kara Darma (setelah 1918 berubah menjadi Jong Java) kepada Sultan Hamengkubuwana VII, agar mereka boleh mempelajari kesenian kraton. Hamengkubuwana VII memerintahkan penyelenggaraan pendidikan tari dan musik kraton kepada masyarakat lewat KBW. Sejak itu seni pertunjukkan yang semula hanya berkembang di dalam kraton, seperti tari bedhaya, srimpi, wireng dan wayang wong bisa dipelajari dan dinikmati masyarakat di luar kraton.

Politik Etis juga memmbuat kalangan orang-orang Belanda penganjurnya memiliki minat mempelajari kebudayaan dan seni Jawa. Seorang arsitek berkebangsaan Belanda, Herman Thomas Karsten bersama Prangwadana (kelak Mangkunegara VII) dan Dr Radjiman menggagas terbentuknya Volkskunstvereeniging Sobokartti di Semarang, menyusul berdirinya KBW di Yogyakarta.

Untuk mewujudkan gagasan itu diadakan pertemuan yang dihadiri burgemeester Semarang Ir de Jonghe, Bupati Semarang RMAA Purbaningrat, GPH Kusumayuda dari kraton Surakarta, dan pimpinan surat kabar ”De Locomotief”. Maka disepakatilah terbentuknya nama Sobokartti yang artinya “tempat berkarya”.

Kegiatan yang dilakukan antara lain pementasan, kursus, pameran, diskusi dan lain-lain. Pada awalnya kegiatan-kegiatan Sobokartti dilakukan di paseban Kabupaten Semarang dan di Stadstuin. Barulah pada 1930 kegiatan berpindah ke gedung kesenian Volkstheater Sobokartti hingga sekarang. Saat ini anggota perkumpulan Sobokartti berjumlah sekitar 50 orang. Latihan tari, pementasan wayang kulit, dan karawitan rutin digelar saban Kamis sore.

Gedung itu merupakan pengejawantahan purwarupa gedung teater Jawa yang dibuat Karsten pada tahun 1919. Karsten berpendapat bahwa seni pertunjukan Jawa tidak mengenal pemisahan yang ketat antara penonton dan pelakon. Koreografi tarian Jawa dirancang untuk dinikmati dari semua penjuru.

gedung sobokartti
Purwarupa Gedung Sobokartti rancangan Thomas Karsten. (sumber: sobokartti.wordpress.com)

Selain itu, pendhapa tidak bisa dipisahkan dari seni pertunjukan Jawa. Menurut Karsten, panggung proscenium yang hanya bisa dinikmati dari satu sisi bukan tempat yang cocok untuk pementasan kesenian Jawa. Purwarupa gedung teater Jawa (javaansche schouwburg) atau teater rakyat (volkstheater) ini diharapkan Karsten bisa menjadi acuan mendirikan gedung pertunjukan di berbagai tempat yang sesuai dengan karakter seni pertunjukan Jawa, sekaligus mengoreksi kesenjangan sosial pada masyarakat.

Namun satu-satunya gedung teater seperti itu yang sempat dibangun hanyalah Gedung Sobokartti. Yang diresmikan 10 Oktober 1931. Wujud Gedung Sobokartti sendiri mengalami beberapa penyederhanaan dari rancangan Karsten, karena keterbatasan dana.

 

Terlupakan

Kisah Sobokartti sebagai salah satu saksi melunaknya dinding-dinding keraton Jawa, buntut pemberlakuan politik etis pemerintah kolonial, tak banyak diketahui warga Semarang. Kisah tentang Gedung Sobokartti dalam pertempuran lima hari di Semarang, tidak pernah muncul dalam narasi sejarah saat peringatan peristiwa itu, dari tahun ke tahun. Pemerintah Kota Semarang selalu memilih Tugumuda sebagai pusat peringatan, ketimbang tempat-tempat lain yang juga memiliki nilai sejarah terkait pertempuran lima hari.

Sobokartti memang telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya oleh pemerintah. Hal itu berdasar Berdasarkan Surat Keputusan Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Semarang Nomor 646/50 tanggal 4 Februari 1992 tentang: Konservasi Bangunan-Bangunan Kuno/Bersejarah di Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang. Gedung Kesenian Sobokartti ditetapkan sebagai bangunan yang dilindung Undang-Undang Monumen (Monumenten Ordonantie) Stbl. 1931 Nomor 238 juncto Instruksi Menteri Dalam negeri Nomor Pem. 35/1/7 tanggal 5 Februari 1960.

Tetapi untuk perawatan, nyaris seluruhnya diupayakan oleh anggota perkumpulan Sobokartti. Yoyok Subekti yang kini berumur 68 tahun, lahir dan besar di lingkungan Sobokartti. Ia tahu betul pasang surut kepedulian dan usaha untuk mempertahankan gedung tersebut.

Pemerintah pernah merestorasi dan merenovasi bagian dalam gedung tersebut pada awal tahun 2000. Saat itu Perkumpulan Sobokartti diketuai oleh Andaryoko Wisnuprabu. Namun setelah itu, tak ada lagi dukungan pemerintah dalam upaya mempertahankan bangunan bersejarah itu.

“Selama ini nggak ada bantuan pemerintah dari pemerintah. Pemerintah Kota hanya sebatas memasang plakat BCB (Bangunan Cagar Budaya) pada bangunannya. Setelah itu, kami sendiri yang harus merawatnya,” ungkap Yoyok.

Perawatan gedung Sobokartti sejauh ini mengandalkan uang iuran dari warga setempat. Tercatat delapan warga yang rutin patungan setiap tahun. “Satu orang ada yang kasih iuran Rp 5 juta untuk membiayai perawatan Gedung Sobokartti,” kata Yoyok.

Uang patungan warga dimanfaatkan untuk membayar listrik, membeli cat tembok, membeli dan merawat seperangkat gamelan, hingga menambal genteng yang bocor. Sisanya untuk membiayai kebersihan Gedung Sobokartti.

Lahan kompleks Sobokartti seluruhnya memiliki luas 2.600 meter persegi. Sebagian diantaranya, terutama pada halaman kosong, kini tampak ditempati para tuna wisma. “Mau gimana lagi? Kami mau mengusir nggak enak. Kami tetap pakai perasaan belas kasihan sama mereka (tuna wisma-red),” ujar Yoyok. (*)

Reporter: Fariz Fardianto
Editor: Eka Handriana

 

You might also like

Comments are closed.