Sopir Angkot Semarang Makin Repot Jika Harus Pasang AC

METROSEMARANG.COM – Para sopir angkutan kota alias angkot yang beredar di pusat Kota Semarang mengaku kerepotan bila kendaraannya dipasangi mesin berpendingin (air conditioner/AC) pada tahun depan. Kebijakan itu muncul setelah pemerintah menginginkan semua angkot dipasangi AC sesuai Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 29 Tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Minimal Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum dalam Trayek.

Sopir angkot Semarang keberatan jika harus memasang AC. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

“Kalau pengin mobil kita dipasangi AC, pemerintah wajib mensubsidi. Sebab selama ini subsidi hanya diberikan bagi Bus Rapid Trans (BRT). Ini tidak adil, aturan pemerintah membuat kami terjepit,” ungkap Slamet Gunarto, sopir angkot Pangkalan R-11E depan kawasan Titik Nol Semarang, Jumat pagi (7/7).

Ia dibuat kelimpungan jika nantinya semua angkot wajib ber-AC. Padahal, dirinya kerap dikejar-kejar pemerintah terkait proses peremajaan angkotnya. Dari 22 angkot yang ngetem di Titik Nol, hampir 90 persen rampung diremajakan. Semua angkot wajib ganti mobil dengan tahun produksi lebih muda. “Sekarang mobil yang dipakai 2011,” cetusnya.

Tetapi belum sirna aturan itu, katanya pemerintah kembali menerbitkan wacana angkot ber-AC. Apalagi jika angkot dengan trayek kecil tentu membuat sang sopir kerepotan.

“Angkot kecil kalau pakai AC ya repot banget. Karena setiap 200 meter selalu berhenti menaikkan atau menurunkan penumpang. Kalau jarak dekat, mana mau penumpangnya bayar lebih. Aturannya cuma bisa dipakai angkot carteran jarak jauh,” tegasnya.

Ia menambahkan pemakaian AC  membuat bahan bakar jadi boros. Dirinya kerap memakai bahan bakar premium sekali jalan.

“Ketimbang menerbitkan aturan yang menyusahkan kita, lebih baik kita dirangkul saja biar trayeknya tetap hidup,” kata Slamet lagi.

Sedangkan menurut Muhammad Iksan, sopir angkot lainnya, pemerintah seakan ingin mematikan jasa usaha angkutan kota dengan mewacanakan berbagai kebijakan.

Saat ini saja ada beberapa trayek angkot yang nyaris lenyap seperti trayek Kedungmundu, Ngesrep-Ungaran dan masih banyak lagi. “Sudah pendapatan turun 70-80 persen, kita tidak dilindungi pula. Nasib kita jadi ngenes. Kok semakon sulit aturannya,” timpal Timbul Nugroho sopir angot trayek Penggaron-Johar-Citarum.

Nada protes juga diungkapkan para sopir angkot trayek Johar-Kaligawe-Genuk yang mangkal di Jembatan Berok. “Kondisinya sepi. Kalau mau dipasangi AC jelas tidak mampu,” terang Edi Hariyanto.

Ia sehari hanya mendapat untung mentok Rp 30 Ribu-Rp 40 Ribu. Jika tetap dipaksakan memakai AC, pengeluarannya jadi bertambah banyak. “Kejar setoran aja enggak bisa, masa’ harus dipasangi AC,” katanya. (far)

You might also like

Comments are closed.