Sopir Bus Dahulu, Pembuat Tiruan Bus Kemudian

Perajin Miniatur Bus Remote Control

Dengan mesin di dalamnya, miniatur bus buatan Joko mampu berjalan dengan kecepatan 40 kilometer per jam dan bisa berjalan di tanjakan jalan raya

DAHULU, Joko Sumarno adalah sopir bus antar kota. Ia bekerja di Perusahaan Otobus Laju Prima. Lima tahun ia menekuni pekerjaannya itu, hingga hafal setiap bagian-bagian bus. Bagi Joko, bus sudah ada di hatinya. Ia mencintai pekerjaannya.

Hingga akhirnya Joko melepas pekerjaannya sebagai sopirpun, ia masih menaruh hati pada bus. “Terakhir saya mengemudi bus Semarang-Wonogiri PP. Pada dasarnya saya memang cinta pada bus. Lalu saya pikir-pikir, kenapa tidak saya coba untuk membuat miniatur bus yang dilengkapi RC (remote control),” kata Joko.

Berbekal pengalaman pribadinya saat mengemudikan bus, Joko mulai menekuni pembuatan miniatur bus. Joko memulainya tahun 2014. Ia menuangkan hal-hal yang ia ketahui dan rasakan ke dalam kerajinan yang ia buat.

Joko Sumarno dengan miniatur bus buatannya. (foto: metrosemarang/Fariz Fardianto)

 

Harga untuk Buatan Tangan yang Detail

Miniatur bus buata Joko bisa dibilang cukup detail. Tiap bagian bus dibuat semirip mungkin. Mulai dari warna, motif pada badan bus, mesin tiruan, jumlah kursi, kaca dan detail interior lain.  Dalam pengecatan, Joko memakai teknik airbrush.

“Semuanya saya buat secara manual (buatan tangan – red),” ujar Joko saat ditemui di rumahnya RT 08/RW V Kampung Lamongan Nomor 8, Sampangan Gajahmungkur.

Hasil awal pembuatan miniatur bus lengkap dengan remote control, dijual Joko dengan harga Rp 500 ribu. Miniatur bus buatan Joko umumnya berukuran panjang 60 centimeter tinggi 18 centimeter dan lebar 12 centimeter. Modelnya beragam, mulai dari meniru karoseri SHD, double jet bus, setra, hingga Adi Putro. Model Adi Putro adalah yang paling laris.

Dengan mesin di dalamnya, miniatur bus buatan Joko mampu berjalan dengan kecepatan 40 kilometer per jam. Tak hanya itu, miniatur bus juga bisa berjalan di tanjakan jalan raya. Jangkauannya mencapai 100 meter lebih.

 

Pada dasarnya saya memang cinta pada bus. Lalu saya pikir-pikir, kenapa tidak saya coba untuk membuat miniatur bus.

-Joko Sumarno, Pembuat Miniatur Bus-

 

Seiring berjalannya waktu, harga-harga komponen miniatur bus naik, miniatur bus pun semakin detail, maka harga jualnya juga bertambah. Kini Joko menjual miniatur busnya dengan harga Rp 4 juta hingga Rp 6 juta.

“Karena mencari perlengkapan mesin remote control itu sekarang tidak mudah,” kata Joko. Ia harus merogoh koceknya hungga Rp 3 juta untuk mendapat mesin yang memadai.

Pesanan Joko terus meningkat. Pembeli miniatur bus Joko kebanyakan berasal dari komunitas-komunitas penggemar bus. Mereka memang memiliki kecintaan tersendiri terhadap bus-bus yang ada di Indonesia. Selain itu, beberapa perusahaan karoseri juga pernah mampir untuk membeli karya Joko.

Untuk menyiasati pesanan yang terus berdatangan itu, Joko rutin membeli komponen miniatur. Pesanan yang datang paling banyak pada saat lebaran. Jangan sampai saat pesanan datang, stok komponennya kosong.

 

Kendala Pekerja

Kendati telah menyiasati, Joko tetap menemui kendala dalam proses pembuatan. Ia tak memiliki tenaga yang mencukupi. Jumlah perajin yang ia pekerjakan pun terbatas, Joko hanya bekerja dengan tiga orang. Alhasil, pembeli miniatur bus Joko harus inden terlebih dahulu selama tiga bulan.

“Kerajinan seperti ini tidak bisa dibuat massal, sekaligus banyak. Perlu waktu lama. Makanya dalam sebulan saya hanya bisa menyelesaikan pesanan tiga sampai lima buah,” katanya. Rintangan terberat dalam proses pembuatan miniatur bus ada pada tahap pembuatan interior.

Agar usahanya makin kuat, ia menggandeng rekannya dengan membuka bengkel kerajinan bus di Kawedanan Boja, Kendal. “Di sana (Boja – red) ada bengkelnya,” ujarnya. Dengan cara itu, ia dapat menyelesaikan 20 pesanan miniatur bus dalam setahun. Dengan laba berkisar Rp 1 juta untuk setiap produk miniatur bus, maka pekerjaan membuat miniatur ini bisa dibilang lebih menguntungkan ketimbang mengemudikan bus yang sesungguhnya. (*)

 

Reporter: Fariz Fardianto
Editor: Eka Handriana

Artikel ini telah diterbitkan oleh metrojateng.com

Comments are closed.