SPRT Merdeka: Pemerintah Anggap Enteng Buruh Rumah Tangga

METROSEMARANG.COM – Sejumlah elemen buruh di berbagai daerah hari ini, Senin (1/5), serentak turun ke jalan raya untuk menuntut pemerintah mengintervensi pengusaha agar memenuhi segala hal kelayakan pengupahan. Ini dilakukan tepat saat Hari Buruh (May Day) berlangsung pada hari ini.

Ilustrasi

Di Semarang, terdapat ribuan buruh turun ke jalanan sejak tadi pagi. Saat ini, mereka masih berkumpul di Tri Lomba Juang untuk berunjuk rasa. Jauh dari hingar-bingar peringatan May Day 2017, ternyata masih ada kelompok buruh yang seolah dilupakan oleh pemerintah.

“Di Hari Buruh, seharusnya pekerja rumah tangga juga libur. Semuanya tergantung majikan. Pemerintah semestinya menganggap kami jadi bagian dari buruh,” sergah Nur Kasanah, Ketua Serikat Merdeka PRT (SPRT) Kota Semarang kepada metrosemarang.com.

Padahal, katanya beban kerja buruh rumah tangga terbilang sangat berat. Ia mencontohkan ada seorang pekerja yang hanya boleh izin keluar rumah manakala pekerjaan sudah rampung. “Itu kan artinya mereka tidak ada libur. Masih ada beban kerja,” cetusnya.

Dari sistem pengupahannya pun kini hanya sekedar kesepakatan secara lisan antara majikan ke buruh rumah tangga. Buruh rumah tangga juga tidak tercover UU Ketenagakerjaan. Hal ini menyebabkan daya tawar upah mereka lebih rendah ketimbang pekerja di sektor industri. “Sebab posisi buruh rumah tangga ada dibawah majikan. Pemerintah masih menganggap enteng kami,” katanya.

Jika mereka tidak bisa bernegosiasi maka upah yang mereka terima sangat rendah. Ia mengestimasikan upah buruh rumah tangga full time hanya berkisar Rp 500 ribu-Rp 1 juta. Sedangkan kalau kerja pocokan, upahnya mentok Rp 350 ribu. “Itu kan minim sekali,” sambungnya.

Buruh rumah tangga juga masih disepelekan pemerintah provinsi Jawa Tengah. Pasalnya, mereka tidak dicover jaminan kesehatan baik BPJS Kesehatan maupun Ketenagakerjaan. Bila buruh rumah tangga sakit, kata Nur, mereka terpaksa berobat sendiri.

“Sakit ringan masih diwajibkan kerja. Kalau sakit berat malah diberhentikan. Atau dipotong gajinya. Jelas ini sangat diskriminasi,” tandasnya.

Ia berharap pemerintah memberi perhatian lebih kepada kaum buruh rumah tangga. Tanpa mereka majikan tak bisa kerja dengan tenang, memakai baju rapi dan berdasi. (far)

You might also like

Comments are closed.