Sri Hiyanowarti Mencari Penerus Bisnis Peti Mati

Sri Hiyanowarti mulai memikirkan penerus bisnis peti mati. Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad
Sri Hiyanowarti mulai memikirkan penerus bisnis peti mati. Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad

METROSEMARANG.COM – Mendapat warisan sebuah usaha keluarga menjadi kebanggan tersendiri bagi Sri Hiyanowarti. Usaha kerajinan peti mati, kijing, batu nisan dan perlengkapan kematian lainnya mulai dia kelola sejak tahun 1977. Beserta suaminya, hingga kini ia masih mengelola usaha tersebut dibantu empat pekerja bagian produksi barang.

Namun sayang, ketiga anaknya kini tak ada yang mau meneruskan usaha tersebut. Sri pun bingung kepada siapa nantinya akan mewariskan usaha tersebut. Mengingat usaha itu memang sudah turun-temurun, hingga jatuh ke tangannya sebagai generasi ketiga.

“Anak-anak saya pada nggak mau meneruskan, saya enggak memaksa mereka,” kata Sri saat ditemui di rumahnya, kawasan Bergota Semarang, belum lama ini.

Ketiga anaknya kini lebih memilih menjalankan usaha franchise burger yang sudah membuka beberapa cabang di Semarang. Sri mengaku kebingungan saat ditanya siapa yang akan menjadi generasi selanjutnya untuk menjalankan bisnis kerajinan tersebut. “Mau gimana lagi, kalau pada nggak mau ya tutup, sudah berhenti,” ungkap Sri sambil terkekeh.

Sri sebagai anak ketiga dari enam bersaudara menjadi pewaris usaha juga bukan tanpa sebab. Dahulu ayahnya mempunyai masalah pendengaran alias tuli, saat itulah Sri menjadi juru bicara saat ada pelanggan yang mampir membeli batu nisan. Setelah Sri mulai bisa melayani pembeli, dia akhirnya dipasrahi orang tuanya untuk melanjutkan usaha.

Setelah puluhan tahun, Sri pun masih mempertahankan usaha di tengah maraknya persaingan yang semakin ketat. “Dulu sehari bisa menjual hingga 10 pasang batu nisan, karena banyak pembeli dari Mranggen, Banyumanik, Mijen mencari ke sini,” katanya. (CR-08)

You might also like

Comments are closed.