Stop Kontroversi, Operator Transportasi Online Disarankan Gandeng Pengusaha Angkot

METROSEMARANG.COM – Pakar Transportasi dari Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno menyebutkan, kisruh horizontal antara angkutan konvensional dan ojek berbasis online diperkirakan masih akan masih berlanjut meski telah diterbitkan revisi Permenhub 32/2016.

Salah seorang driver Go-Jek Semarang sedang menunggu orderan di markas Ruko Kalibanteng. Operator transportasi online disarankan bisa bersinergi dengan pengusaha angkot. Foto: metrosemarang.com/dok

Dia menyarankan agar operator online bekerja sama dengan pengusaha angkot di daerah. Dengan begitu, angkot juga mendapat manfaat dari sistem online yang mereka miliki.

“Online hanya sistem, bukan segalanya, sehingga operator sistem online bukan seenaknya mau mengatur semuanya. Hanya berasumsi seolah untuk memenuhi transportasi yang murah sesuai kebutuhan warga. Murah bukan berarti harus mengabaikan keselamatan,” kata dia, Jumat (24/3).

Meski demikian, jika mengacu pada UU 22/2009, sepeda motor tidak termasuk kategori transportasi umum. Namun sepeda motor tidak dilarang membawa penumpang. Bedanya, diperbolehkan membawa penumpang tetapi tidak dikenakan tarif.

“Karena tarif sudah masuk ranah bisnis, ada hitungan tarif batas atas dan bawah, aspek keselamatan, keamanan dan kenyamanan. Jika dilegalkan juga dimungkinkan dapat subsidi jika diperlukan sebagai angkutan umum perkotaan,” tambahnya.

Dia menyarankan agar Pemerintah Daerah tetap berkonsentrasi untuk membenahi transportasi umum di daerahnya yang kian terpuruk agar mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat dan mengikuti perkembangan kebutuhan masyarakat. (ade)

You might also like

Comments are closed.